Barongko Masuk Warisan Budaya Tak Benda, Ini Filosofinya di Bugis-Makassar

Kuliner Sulawesi Selatan

Barongko Masuk Warisan Budaya Tak Benda, Ini Filosofinya di Bugis-Makassar

Edward Ridwan - detikSulsel
Jumat, 02 Sep 2022 03:00 WIB
Kue Barongko khas Sulsel
Kue khas Bugis-Makassar Barongko. (Foto: Rahma Amin)
Makassar -

Barongko merupakan salah satu makanan khas Bugis-Makassar yang populer. Rasanya yang manis dan legit, membuat penganan tradisional ini digemari banyak kalangan.

Barongko terbuat dari bahan utama pisang kepok, atau dalam bahasa bugis disebut "utti manurung". Bahan tersebut dicampur dengan santan, gula dan telur, kemudian dihaluskan, dan dibungkus daun pisang dengan bentuk menyerupai segitiga.

Olahan barongko kemudian dimasak dengan cara dikukus. Tekstur barongko juice dan lembut sehingga disamping memberi rasa manis juga terdapat rasa segar, apalagi jika disajikan dingin.


Umumnya kudapan khas Bugis-Makassar ini disajikan pada acara-acara adat dan keagamaan seperti pernikahan, aqiqah atau bulan Ramadhan. Namun bagi wisatawan yang berkunjung ke sulawesi selatan, bisa dengan mudah mendapati kue ini di perjual kue tradisional yang ada.

Barongko bahkan telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan kebudayaan pada tahun 2017 silam dengan nomor SK 60128/MPK.E/KB/2017. Ini bertujuan untuk menjaga identitas barongko dan menghindari agar tidak diklaim oleh negara lain.

Sebagai warisan budaya, barongko menyimpan cerita dan nilai-nilai filosofis yang dalam bagi masyarakat Bugis-Makassar. Berikut ulasan mengenai kue Barongko yang dihimpun oleh detikSulsel.

Asal-Usul Barongko

Melansir laman website Indonesia.go.id (Portal https://www.detik.com//sulsel/kuliner/d-6267786/barongko-masuk-warisan-budaya-tak-benda-ini-filosofinya-di-bugis-makassar Indonesia), disebutkan bahwa barongko dulunya adalah makanan yang istimewa. Kue ini hanya disajikan bagi kaum bangsawan dari kerajaan-kerajaan Bugis.

Kudapan ini disajikan pada waktu-waktu tertentu seperti pesta pernikahan, keagamaan atau upacara adat. Oleh raja-raja bugis, kue barongko biasanya dijadikan sebagai hidangan penutup.

Namun seiring perkembangan waktu, kue barongko menjadi kian populer di kalangan masyarakat Bugis. Masyarakat pun bisa membuat dan menikmati hidangan ini kapan pun mereka mau.

Meski begitu, pembuatan barongko tetap diutamakan dan tidak bisa sembarangan. Orang-orang yang membuat barongko haruslah mereka yang sudah berpengalaman demi menjaga cita rasa barongko yang khas.

Makna Filosofis Barongko

Bagi masyarakat Bugis-Makassar, kue Barongko memiliki makna filosofis yang tinggi. Karena itu, barangko selalu dijadikan salah satu hidangan utama di setiap acara untuk menjamu tamu-tamu kehormatan.

Kue barongko yang terbuat dari pisang, kemudian dibungkus juga menggunakan daun pisang adalah perlambang dari nilai budaya dan prinsip hidup yang agung.

Melansir laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, kata Barongko adalah singkatan dari "barangku mua udoko". Artinya, barangku sendiri yang kubungkus.

Ini melambangkan nilai "siri" (harga diri) yang tinggi bagi masyarakat Bugis-Makassar. Jadi membungkus dan menjaga harga diri merupakan aplikasi dari budaya "siri" untuk menjaga harkat dan martabat.

Selain itu, bahan pisang yang dibungkus dengan daun pisang juga melambangkan makna kejujuran, yakni apa yang tampak dari luar sama dengan yang ada di dalam. Ini melambangkan antara hati, pikiran dan tindakan haruslah selaras.

Sementara dalam hubungan perkawinan atau rumah tangga, hal ini juga menjadi landasan awal untuk membangun rumah tangga yang harmonis. Kedua mempelai akan harmonis, jika keduanya memiliki hati dan perilaku yang sama baiknya.

Cara Membuat Barongko

Meskipun butuh pengalaman dan kepiawaian dalam membuat barongko, sebenarnya cara pembuatannya cukup mudah. Hanya saja perlu ketelitian agar rasa manis dan teksturnya pas.

Berikut resep barongko yang dapat dicoba sendiri di rumah:

Bahan:

  • 8-10 buah pisang kepok yang telah matang
  • 50 gram gula pasir
  • 5 sdm susu kental manis
  • 3 butir telur ayam
  • 200 ml santan kental
  • 1/2 sdt garam
  • 2 lembar daun pandan, potong-potong
  • Daun pisang 20x20 cm

Cara membuat barongko:

  1. Haluskan pisang kepok
  2. Kemudian campurkan adonan pisang halus dengan gula pasir, susu kental manis, telur dan santan serta garam. Aduk hingga tercampur rata.
  3. Ambil 2 lembar daun pisang, taruh 1 potong pandan di tengahnya.
  4. Kemudian masukkan adonan pisang lalu bungkus menyerupai bentuk prisma segitiga. Jika sudah sematkan dengan lidi.
  5. Terakhir, kukus di dalam panci selama kurang lebih 30 menit hingga matang.
  6. Setelah itu, angkat dan hidangkan. Kue barongko lebih enak disajikan dalam kondisi dingin.


Simak Video "Todan, Makanan Khas Sulawesi Selatan yang Rasanya Lebih Nikmat dari Ayam"
[Gambas:Video 20detik]
(alk/nvl)