Cerita Pulu Mandoti, Beras Ketan Enrekang Konon Dulu Jadi Primadona Soeharto

Cerita Pulu Mandoti, Beras Ketan Enrekang Konon Dulu Jadi Primadona Soeharto

Taufik Hasyim - detikSulsel
Sabtu, 26 Mar 2022 18:07 WIB
Songkolo Pulu Mandoti
Nasi Pulu Mandoti (Taufik Hasyim/detikSulsel)
Enrekang -

Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel) mempunyai beras lokal yang langka, Pulu Mandoti. Beras ketan aromatik ini hanya tumbuh di Enrekang dan dulu selalu dipesan khusus Presiden Soeharto.

Pulu Mandoti berasal dari bahasa Duri, bahasa etnis setempat. Pulu berarti beras ketan sedangkan Mandoti berasal dari kata doti yang berarti santet, guna-guna atau bisa artikan halus menjadi terhipnotis.

"Ini karena aromanya. Itu bisa tercium wanginya radius 50-100 meter," ungkap Wakil Bupati Enrekang, Asman kepada detikSulsel, Sabtu (26/3/2022).


Warga Enrekang biasanya mencampurkan Pulu Mandoti dengan jenis beras biasa. Perbandingannya 1 liter Pulu Mandoti bisa menguatkan aroma 40 liter beras biasa.

Asman menuturkan konon katanya saat Soeharto menjabat Presiden di era orde baru, selalu ada utusan khusus dari Istana Presiden yang datang membeli langsung. Pulu Mandoti disebut menjadi salah satu menu di Istana saat itu.

"Ceritanya begitu menyebar ya. Saat Presiden SBY menjabat, akhir 2014 berkunjung ke Enrekang juga pernah disuguhkan ini Pulu Mandoti," bebernya.

Pulu Mandoti ini biasanya diolah menjadi songkolo atau sokko, sajian khas olahan nasi ketan di Sulsel. Namun Pulu Mandoti berbeda dari nasi ketan pada umumnya karena teksturnya lebih pulen.

"Biasanya memang hanya disajikan untuk tamu-tamu kehormatan. Ditambah lauk seperti ikan teri goreng, dangke atau bundu-bundu," tuturnya.



Simak Video "Upacara Militer Iringi Pemakaman Eks Menteri ESDM Subroto"
[Gambas:Video 20detik]
(tau/hmw)