Mengenal Tradisi Ma'Lettoan, Upacara Unik di Tana Toraja untuk Syukuran

Mengenal Tradisi Ma'Lettoan, Upacara Unik di Tana Toraja untuk Syukuran

Agil Asrifalgi - detikSulsel
Sabtu, 24 Des 2022 00:01 WIB
tradisi malettoan
Tradisi Ma'lettoan Toraja (Foto: Istimewa)
Makassar -

Tradisi Ma'Lettoan atau Lettoan adalah salah satu ritual adat masyarakat Toraja yang unik dan menarik. Acara ini rutin dilakukan pada saat syukuran atau perayaan hari besar seperti Natal.

Masyarakat Toraja dikenal dengan berbagai tradisi dan upacara adatnya yang beragam. Mereka memegang teguh dan mempertahankan adat dan budaya nenek moyang sejak dahulu.

Barangkali salah satu tradisi yang umum dikenal adalah upacara Rambu' Solo, yakni sebuah upacara kedukaan atau kematian. Selain upacara Rambu' Solo, ternyata ada lagi satu upacara yang tak kalah menarik yakni Upacara Rambu' Tuka.


Jika upacara Rambu' Solo adalah ritual acara kematian, maka upacara Rambu' Tuka adalah acara syukuran. Salah satu ritual dalam Upacara Rambu Tuka adalah Tradisi Ma'lettoan.

Ini adalah salah satu tradisi unik, dimana orang-orang mengarak sebuah rumah-rumahan adat tongkonan yang berisi babi. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur dan persaudaraan.

Bagaimana uniknya perayaan tradisi Lettoan di Toraja ini? Berikut ulasannya sebagaimana dihimpun detikSulsel dari berbagai sumber:

Sejarah Tradisi Ma'Lettoan

Lettoan TorajaLettoan Toraja Foto: Istimewa


Melansir jurnal Universitas Negeri Makassar (UNM) yang berjudul "Ritual Maklettoan Bai dalam Acara Mangrara Banua di Desa Lolai Kabupaten Toraja Utara," disebutkan bahwa tradisi Ma'lettoan adalah tradisi turun temurun warisan nenek moyang masyarakat Toraja. Tradisi ini dilakukan dalam acara mangrara banua (upacara syukuran).

Dalam bahasa Toraja, Kata 'Lettoan' artinya sebuah kotak yang terbuat dari bambu dan digunakan sebagai tempat hewan persembahan. Kotak tersebut kemudian dihias dengan janur, daun tabang dan sirri-sirri (daun puring).

Bentuk dari kotak Lettoan ini sendiri umumnya menyerupai rumah adat Toraja, Rumah Tongkonan.

Sedangkan Ma'Lettoan Bai bermakna memasukkan babi (hewan persembahan) ke dalam kotak lettoan kemudian diarak oleh keluarga pada upacara syukuran.

Adapun sejarah asal mula tradisi Ma'Lettoan Bai disebutkan bahwa tradisi ini lahir bersama adat Toraja. Artinya keberadaan ritual Ma'Lettoan ini sudah ada sejak nenek moyang orang Toraja pertama dan terus diwariskan kepada anak cuku hingga generasi sekarang.

Prosesi Ritual Ma'Lettoan

Dalam masyarakat Toraja, Upacara Ma'Lettoan tidak sembarang dilaksanakan. Hal ini lantaran menurut adat, tradisi tersebut melambangkan kebesaran.

Untuk melakukan tradisi Ma'Lettoan ini pun membutuhkan modal yang cukup besar seperti membeli hewan babi. Karena itu upacara ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang mampu secara finansial saja.

Dalam melakukan tradisi ini juga perlu memperhatikan aturan dan tata acara yang berlaku. Beberapa tahapan dalam tradisi Ma'Lettoan adalah sebagai berikut:

Diawali dengan Mangrara Banua

Sebelum melakukan upacara Ma'Lettoan terlebih dahulu diawali dengan mangrara Banua. Dalam bahasa Toraja, 'rara' berarti darah.

Mangrara berarti meneteskan darah binatang yaitu proses menyembelih hewan (babi) sebagai tanda syukuran kepada Tuhan atas penyertaan dan pemberkatannya.

Acara Mangrara Banua ini biasanya dirayakan berbeda-beda masing-masing keluarga yang bersangkutan. Ada yang merayakan selama satu hari (Banua disangalloi), 2 hari (Banua diduangalloi) dan 3 hari (Banua ditallungalloi).

Masing-masing hari tersebut pun memiliki kegiatan yang berbeda-beda seperti mentomaua dan ma'pasitama yakni proses berkumpul seluruh keluarga besar untuk mempererat tali persaudaraan. Ada pula prosesi ma'pabenda tadoran yaitu menanam pohon cendana di halaman rumah.

Adapun jumlah hewan babi yang disembelih pada acara Mangrara Banua ini bervariasi tergantung jumlah hari perayaan dan kemampuan keluarga.

Prosesi Tahapan Ma'Lettoan

Selanjutnya setelah rangkaian acara Mangrara Banua selesai, masyarakat memulai ritual Ma'Lettoan Baik. Adapun tahapan dalam proses ini yaitu:

1. Digaragan Lettoan (pembuatan lettoan)

Digaragan Lettoan adalah proses membuat lettoan. Model lettoan yang dibuat pun bervariasi masing-masing keluarga.

Ada yang membuat lettoan satu tingkat, dua tingkat hingga tiga tingkat. Lettoan-lettoan ini kemudian dihiasi dengan janur, daun tabang dan sirri-sirri (daun puring).

Kadang lettoan ini dihiasi juga dengan maa', sejenis kain pusaka Toraja dan parang pusaka Toraja.

2. Dibulle (diarak)

Lettoa yang telah dibuat selanjutnya ditandu dan dipikul masuk ke halaman rumah tempat pelaksanaan upacara. Orang-orang yang memikul lettoan ini juga diatur menurut rumpun keluarga dari yang tertua hingga ke yang paling muda.

tradisi ma'lettoan torajatradisi ma'lettoan toraja (Foto: Istimewa)

Di atas lettoan ini juga biasanya ada seorang yang duduk sambil membunyikan alat musik. Yakni Pa'pono-poni atau pa'pelle atau Pa'Barrung sebuah alat musik tiup dari batang padi berbentuk mirip terompet.

Sambil memikul Lettoan ini, orang-orang juga menyanyikan lagu dan teriakan dengan bersorak-sorai. Lagu yang dilantunkan tersebut adalah kesenian Ma'Bugi yaitu bersuara dan bergoyang sambil jalan.

3. Dirempun (dikumpulkan)

Setelah proses tandu Lettoan dilanjutkan dengan mengumpulkan babi-babi yang jadi hewan persembahan. Biasanya dibuat kandang sementara di halaman rumah.

Selain acara tersebut, pada tahap ini juga dilakukan acara kesenian seperti Manimbong untuk kaum laki-laki dan Ma'dandang untuk perempuan.

Manimbong adalah acara bernyanyi untuk tujuan puji-pujian kepada Tuhan. Sementara Ma'dandan artinya berbaris berjejer untuk kaum perempuan.

4. Ditunu (disembelih)

Prosesi terakhir dalam acara Ma'Lettoan adalah menyembelih babi-babi untuk selanjutnya dagingnya dibagi-bagikan kepada keluarga dan masyarakat. Daging babi ini juga dipotong dan dibagikan berdasarkan strata sosial masyarakat.

Makna Filosofis dalam Tradisi Ma'Lettoan

Tradisi Ma'Lettoan bagi masyarakat Toraja adalah bagian dari tradisi leluhur yang terus dipertahankan hingga saat ini. Tradisi ini masih merupakan warisan dari kepercayaan Aluk Todolo (kepercayaan leluhur).

Adapun makna tradisi Ma'Lettoan ini adalah sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas keberhasilan yang sudah diraih. Biasanya ketika seseorang selesai membangun rumah baru.

Selain itu, tradisi ini juga berfungsi untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga. Hal ini bisa dilihat dari keikutsertaan berbagai keluarga dalam prosesi ritual Ma'Lettoa ini.

Pada acara ini hiasan dekorasi lettoan juga dibuat dengan meriah. Dengan menggunakan hiasan dan warna-warna seperti kuning yang merupakan lambang kegembiraan.

Hal ini berbeda dengan dekorasi pada acara rambu solo yang merupakan acara kedukaan.



Simak Video "Serawu Sulo, Tradisi Perang Api Masal Masyarakat Bone, Sulawesi Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(edr/hsr)