Tradisi Unik Masyarakat Suku Mandar Redam Angin Kencang Lewat Alat Dapur

Sulawesi Barat

Tradisi Unik Masyarakat Suku Mandar Redam Angin Kencang Lewat Alat Dapur

Abdy Febriady - detikSulsel
Jumat, 23 Des 2022 00:01 WIB
Tradisi Ussul dari warga suku Mandar di Polman, Sulbar.
Foto: Tradisi Ussul dari warga suku Mandar di Polman, Sulbar. (Abdy Febriady/detikcom)
Polewali Mandar -

Masyarakat suku Mandar di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), memiliki kebiasaan unik saat angin bertiup kencang. Mereka meletakkan peralatan dapur di depan pintu rumah yang diyakini dapat meredam angin kencang.

Peralatan dapur yang digunakan di antaranya alat parut kelapa tradisional yang oleh warga setempat dikenal dengan nama pikellu anjoro. Adapula sipi yang merupakan alat penjepit yang terbuat dari bambu.

Kedua alat tersebut diletakkan menghadap arah datangnya angin. Kebiasaan ini masih banyak dilakukan warga di Desa Tangnga-tangnga, Kecamatan Tinambung.


"Memang ini sudah kebiasaan kami sejak dulu kalau angin bertiup kencang," ujar salah satu warga setempat, Lia kepada wartawan, Selasa (20/12/2022).

Lia mengaku jika kebiasaan tersebut telah dilakukan secara turun temurun. Namun dirinya tidak tahu pasti hubungan penggunaan kedua alat tersebut untuk meredam tiupan angin kencang.

"Saya juga tidak tahu apa hubungannya, tetapi ini sudah kebiasaan dari nenek-nenek kita dulu, setiap angin kencang bertiup pasti letakkan pikellu dan sipi di depan pintu, jadi ini juga yang kami lakukan dengan harapan sama (tiupan angin kencang berhenti)," ungkapnya.

Warga lain bernama Syarifuddin mengungkapkan, kebiasaan ini sudah lama diterapkan orang tua sejak dulu. Apalagi saat para suami masih melaut.

"Para istri biasanya langsung meletakkan kedua alat tersebut (pikellu anjoro dan sipi) di depan pintu rumah. Biar tidak makin risau dan berharap tiupan angin kencang segera usai," terang Syarifuddin.

Menurutnya, kebiasaan ini tidak lagi hanya dilakukan warga di pesisir pantai, namun juga warga yang bermukim di daerah pegunungan. Dia mengaku saat tradisi ini dilakukan tidak lantas membuat angin berhenti bertiup kencang.

"Banyak yang buat seperti ini, bukan hanya kita yang tinggal di pinggir pantai, orang yang tinggal di daerah pegunungan juga ada yang ikut melakukan," ujar Syarifuddin.

"Boleh percaya boleh tidak, karena tidak juga langsung membuat angin kencang berhenti saat ini dilakukan," sambung Syarifuddin sembari tertawa.

Tradisi Doa Lewat Simbol

Tradisi Ussul dari warga suku Mandar di Polman, Sulbar.Foto: Tradisi Ussul dari warga suku Mandar di Polman, Sulbar. (Abdy Febriady/detikcom)

Sementara Budayawan Mandar Ridwan Alimuddin menerangkan, kebiasaan tersebut merupakan bagian dari tradisi yang dikenal dengan istilah ussul.

"Jadi sebenarnya ini adalah bagian dari tradisi ussul. Kita ada tradisi di Mandar namanya ussul, ussul itu mengharap atau berdoa lewat praktek dan simbol," jelas Ridwan.

Dia melanjutkan, penggunaan pikellu anjoro dalam praktek ussul, lantaran alat tersebut diyakini masyarakat setempat berhubungan dengan hal baik.

"(Pikellu anjoro) ini kan benda penting di rumah, berkaitan dengan lemak, berkaitan dengan simbol sesuatu yang baik," ujarnya.

Ridwan menuturkan, praktek ussul sudah dilakukan sejak dahulu kala. Praktek ussul juga dijumpai dalam dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk saat proses pembangunan rumah dan perahu.

"Ini sudah sejak dulu dilakukan, banyak hal, kalau kita mendirikan rumah, biasa dipasangi emas di bawah tiang rumah dengan harapan banyak rezeki, bisa juga kita lihat anak tangga orang Mandar pasti ganjil, 5,7,9, harapannya rezeki datang menggenapi, ussul semua namanya," tutupnya.



Simak Video "Kelezatan Atupe Doayu, Ketupa Sayur Khas Suku Mandar"
[Gambas:Video 20detik]
(sar/asm)