Mengenal Suku Kajang dengan Kearifan Lokalnya

Mengenal Suku Kajang dengan Kearifan Lokalnya

Rasmilawanti Rustam - detikSulsel
Minggu, 11 Des 2022 14:56 WIB
Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Foto: Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. (Dokumen Pribadi Hasmika)
Bulukumba -

Suku Kajang merupakan suku yang masih kental dengan budaya dan adatnya. Suku ini populer karena masih memegang teguh adat tradisional dan terkesan menutup diri dari modernisasi.

Suku Kajang menetap di Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel). Desa Tana Toa sendiri terletak sekitar 200 kilometer arah Timur Kota Makassar.

Secara geografis, daerah Suku Kajang terbagi menjadi 2 yakni Kajang dalam atau yang mereka sebut tau Kajang dan Kajang luar atau yang disebut tau Lembang. Batas antara Kajang dalam dan Kajang luar ditandai dengan pintu gerbang berarsitektur tradisional Kajang.


Kajang Dalam

Dilansir dari jurnal Fakultas Psikologi Universitas Surabaya dengan judul "Amma Toa - Budaya (Kearifan Lokal) Suku Kajang dalam di Bulukumba Sulawesi Selatan", Kajang dalam sangat memegang teguh adat tradisional. Mereka tetap mempraktekkan hidup sederhana sebagaimana yang diajarkan leluhurnya.

Masyarakat Kajang dalam mempercayai bahwa benda-benda yang berbau teknologi bisa memberi dampak negatif dalam kehidupannya. Hal ini dianggap mengganggu hubungan relasi manusia dengan lingkungan alam karena sifat teknologi bisa merusak kelestarian sumber daya alam.

Itulah sebabnya masyarakat Suku Kajang dalam belum bisa menerima peradaban luar. Bagi mereka hidup sederhana seperti leluhur sebelumnya lebih baik dibandingkan dengan hidup modern.

Kajang Luar

Berbeda dengan Kajang dalam, Kajang luar atau tau Lembang sudah bisa menerima peradaban seperti listrik. Kehidupan Kajang luar memiliki kehidupan yang relatif modern.

Kajang luar juga menempatkan dapur dan buang airnya di belakang rumah. Hal tersebut berbeda dengan Kajang dalam yang menempatkan dapur dan buang airnya di depan rumah.

Pimpinan Suku Kajang

Melansir laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Ammatoa adalah sebutan untuk pimpinan adat tertinggi dalam komunitas Suku Kajang.

Amma artinya Bapak, sedangkan Toa berarti yang dituakan. Bagi masyarakat Kajang, Ammatoa adalah orang suci yang dipilih langsung oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Ammatoa tidak dipilih oleh rakyat, bukan juga dari garis keturunan maupun penunjukkan dari pemerintah. Ammatoa ditunjuk melalui proses ritual di dalam hutan tombolo atau hutan keramat yang disebut Turiek Akrakna (yang berkehendak).

Ammatoa mendapatkan jabatan seumur hidup. Artinya Ammatoa akan menjabat sampai meninggal dunia.

Nilai kepemimpinan Ammatoa

1. Nilai Kejujuran

Nilai Kejujuran merupakan landasan pokok yang dijalankan oleh masyarakat Suku Kajang dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia. Maka dari itu karaeng atau pimpinan sangat diakui memiliki sifat yang jujur oleh masyarakat.

Sejalan dengan ungkapan masyarakat Kajang yaitu lambusunuji nukareng yang artinya karena kejujuranmu maka engkau jadi karaeng.

2. Nilai Keteguhan

Keteguhan atau yang disebut gattang oleh masyarakat Suku Kajang. Yang artinya kuat dan tangguh dalam pendirian.

Peradilan adat Suku Kajang tidak pernah membedakan atau memihak. Walaupun kerabat atau anak sendiri, akan tetap diputuskan bersalah apabila memang bersalah.

3. Nilai Demokrasi

Meskipun Ammatoa tidak dipilih langsung oleh rakyat, akan tetapi pelaksanaan kepemimpinan tetap melibatkan rakyat. Artinya aspirasi dari masyarakat tetap ditampung dan dipertimbangkan oleh Ammatoa. Kemudian menjadi kebijakan dan tindakan yang akan dilakukan oleh Ammatoa.

4. Nilai Persatuan

Sebuah hubungan persatuan dan kebersamaan masyarakat Suku Kajang disebut juga dengan assikajangeng yang artinya sama-sama orang Kajang. Ammatoa selalu berusaha menjaga persatuan dan kebersamaan dalam masyarakat kawasan adat, maupun Kajang luar.

Salah satu wujud persatuannya adalah bermusyawarah atau yang mereka sebut abborong. Mereka akan melakukan musyawarah ketika hendak melakukan kegiatan.

Pakaian Suku Kajang

Dilansir dari jurnal UIN Alauddin Makassar dengan judul "Proses Interaksi Sosial Komunitas Adat Kajang di Desa Tana Toa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba", dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Suku Kajang memakai pakaian hitam dan tidak menggunakan alas kaki. Begitupun pengunjung dari luar Kajang, diwajibkan menggunakan pakaian berwarna hitam.

Menurut masyarakat Kajang, hitam memiliki arti kesederhanaan dan persatuan dalam segala hal. Hitam disebut menunjukkan kekuatan dan derajat yang sama di mata sang pemilik jagat.

Suku Kajang memiliki beberapa pakaian adat mulai dari atas kepala sampai bawah. Di antaranya, sarung hitam (tope le'leng), pengikat kepala bagi laki-laki (passapu), pakaian berwarna hitam bagi perempuan (baju poko) dan bagi laki-laki (baju tutu) dan celana pendek di atas lutut berwarna putih bagi laki-laki (pacaka).

Berikut penjelasannya:

1. Sarung hitam (tope le'leng)

Tope le'leng adalah sarung hitam yang digunakan oleh masyarakat kajang. Sarung tersebut ditenun dan dijahit langsung oleh orang Kajang.

"Sarung ditenun di sini, sebelumnya dalam bentuk kain, nanti setelah ditenun baru bisa dijahit jadi sarung," tutur anak Kepala Suku Kajang, Jaja kepada detikSulsel, Jumat (9/12/2022).

Tope le'leng digunakan layaknya memakai sarung pada umumnya. Bisa dipakai laki-laki dan perempuan.

"Cara pakainya sama dengan cara pakai sarung pada umumnya," ujar Jaja.

2. Pengikat kepala bagi laki-laki (passapu)

Bagian dari pakaian adat lainnya adalah pengikat kepala bagi laki-laki atau yang disebut sebut passapu. Sama seperti tope le'leng, passapu juga hasil tenunan yang berwarna hitam dari masyarakat suku Kajang.

Passapu dibuat dengan kain yang sama dengan sarung. Akan tetapi passapu memiliki cara tersendiri dalam menenun.

"Bahannya sama dengan sarung, tetapi prosesnya menenunnya beda," ungkapnya.

3. Pakaian berwarna hitam bagi perempuan (baju pokko)

Baju dari pakaian perempuan suku Kajang disebut juga baju pokko. Merupakan pakaian sehari-hari masyarakat Kajang yang berwarna hitam.

Modelnya sama dengan baju bodo. Hanya saja baju pokko tidak memiliki payet-payet.

"Sama dengan baju bodo. Cuma dia betul-betul alami khas kajang dan polos, tidak ada payet dan blink-blink," tuturnya.

4. Pakaian berwarna hitam bagi laki-laki (baju tutu)

Sama dengan baju pokko, baju tutu juga dibuat dengan menggunakan kain warna hitam.

Baju tutu memiliki model yang sama dengan baju laki-laki pada umumnya. Bagian depan terdapat 2 buah saku, menggunakan kerah dan dibuat dengan 2 model lengan, yaitu panjang dan pendek.

"Modelnya baju laki-laki seperti pada umumnya. ada saku 2 di depan, pakai kerah, ada lengan panjang dan ada lengan pendek." katanya

5. Celana pendek di atas lutut berwarna putih bagi laki-laki (pacaka)

Bagian terakhir dari pakaian adat suku Kajang adalah pacaka. Celana yang di atas lutut tersebut digunakan sehari-hari oleh laki-laki Kajang.

Celana yang dibuat menggunakan kain berwarna putih dan dijahit sendiri. Uniknya, kalau celana pada umumnya menggunakan karet, suku Kajang menggunakan benang atau kain pada bagian pinggangnya.

"Menggunakan kain warna putih dan dijahit sendiri. Model celana menggunakan benang atau kain untuk bagian pinggangnya," tuturnya.

Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel).Foto: Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.(Dokumen Pribadi: Hasmika)

Rumah Adat Suku Kajang

Melansir jurnal Universitas Psikologi Universitas Surabaya dengan judul Amma Toa-Budaya (Kearifan Lokal) Suku Kajang dalam di Bulukumba Sulawesi Selatan", rumah adat suku Kajang berbentuk rumah panggung. Mirip dengan bentuk rumah adat suku Bugis-Makassar.

Orang Kajang membangun rumah dengan menghadap ke arah barat atau terbitnya matahari. Hal tersebut dipercaya mampu memberikan keberkahan.

Bagian dalam rumah suku Kajang hampir tidak memiliki sekat. Sementara dapur dan kamar mandi berada di bagian depan rumah.

Budaya Suku Kajang

Dilansir laman Kementerian dan Kebudayaan RI, Sama seperti pakaian hitam, tanpa alas kaki juga mempunyai makna. Masyarakat Kajang percaya bahwa menyentuh tanah secara langsung akan mengingatkan bahwa kita akan kembali ke tanah juga.

Salah satu yang menjadi ciri khas masyarakat Suku Kajang adalah menggunakan bahasa Konjo. Mereka tidak memakai Bahasa Indonesia karena masyarakat suku Kajang tidak pernah merasakan pendidikan formal.

Kepercayaan Suku Kajang

Masyarakat Suku Kajang memeluk agama Islam. Namun mereka juga menjalankan kepercayaan adat Suku Kajang yang disebut Patuntung.

Agama Islam di Suku Kajang pertama kali dianut oleh Datuk Tiro. Namun Datuk Tiro berpindah ke Hila-Hila dan meninggal.

Kemudian masyarakat Suku Kajang menganggap ajaran agama yang diberikan oleh Datuk Tiro terbilang jauh dari kata cukup. Terutama soal syariat.

Maka dari itu, masyarakat Suku Kajang akhirnya menjalankan kepercayaan adat, yaitu Patuntung yang merupakan campuran kepercayaan leluhur dan ajaran Islam.

Patuntung artinya penuntun yang berarti mencari sumber kebenaran. Sebuah kepercayaan yang mengajarkan tentang menjaga lingkungan serta kesederhanaan hidup.

Gaya Hidup Suku Kajang

Masyarakat Suku Kajang menjalankan hidup sederhana sesuai adat. Mereka hidup menyatu dan menjaga hubungan dengan alam.

Pohon dan seluruh makhluk hidup yang ada dalam kawasan adat tersebut, tidak boleh disakiti ataupun dirusak, pun dengan sesama manusia.

Hal tersebut diyakini masyarakat Kajang dalam menjalani kehidupannya yang merupakan ketentuan dari Turiek Akrakna melalui Ammatoa. Seperti itulah sistem kehidupan masyarakat Suku Kajang, dimana setiap pesan, adat, agama dan lainnya harus berasal Ammatoa.



Simak Video "Melihat Indahnya Surga Bawah Laut Pantai Mandala Ria, Bulukumba"
[Gambas:Video 20detik]
(hsr/hmw)