Makna Ritual Potong Babi Saat Warga Torut Cari Babinsa Hilang di Sungai

Makna Ritual Potong Babi Saat Warga Torut Cari Babinsa Hilang di Sungai

Rachmat Ariadi - detikSulsel
Selasa, 15 Nov 2022 15:15 WIB
Ritual potong babi di Toraja Utara bantu cari babinsa yang hilang di Sungai Maiting.
Ritual potong babi di Toraja Utara bantu cari babinsa yang hilang di Sungai Maiting. Foto: Dokumen Istimewa
Toraja Utara -

Warga di Desa Poton, Toraja Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar ritual adat memotong seekor babi untuk membantu mencari Babinsa Serda Amiruddin yang hilang usai tenggelam di sungai. Warga melakukan ritual potong babi tersebut agar penunggu Sungai Maiting memunculkan jasad korban yang sudah hanyut selama 6 hari.

"Itu persembahan saja kepada penunggu sungai ini. Agar penunggu sungai memunculkan korban yang sudah 6 hari hanyut," kata tokoh adat Rindingallo, Marten Tande kepada detikSulsel, Selasa (15/11/2022).

Pada ritual persembahan itu, terlihat pihak keluarga korban Serda Amiruddin dibantu personel TNI menyembelih seekor babi di pinggir sungai. Setelah itu, babi dihanyutkan ke sungai.


Marten mengungkapkan, dalam ritual persembahan tidak diwajibkan memberikan seekor babi. Biasanya warga desa hanya menyembelih ayam hidup kemudian dikonsumsi saat kegiatan temu adat atau Kombongan.

"Tidak harus babi juga sebenarnya. Biasanya itu cuma ayam yang dipotong itu pun dikonsumsi masyarakat saat Kombongan. Tapi karena ada pawang yang menyuruh untuk menyembelih babi jadi pihak keluarga kemarin itu melakukan," ungkapnya.

Sungai Maiting Dikeramatkan

Menurut Marten, Sungai Maiting memang sudah dikeramatkan masyarakat setempat sejak zaman nenek moyang dahulu. Pasalnya sungai tersebut sudah menelan banyak korban jiwa.

"Dikeramatkan. Cerita dari nenek kami saat masih memegang kepercayaan Aluk Todolo sungai ini punya banyak penunggu. Sampai sekarang masyarakat masih mempercayai itu," kata Marten.

"Dulu pernah ada warga juga yang memandikan kerbaunya kemudian tiba-tiba hilang. Sementara kerbaunya itu masih ada di tempat," sambungnya.

Akibatnya lanjut Marten, jarang ada warga setempat yang berani turun melakukan aktivitas di Sungai Maiting. Ditambah lagi, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan saat berada di lokasi tersebut, di antaranya dilarang mengucapkan kata-kata kasar.

"Jarang sekali orang yang turun ke sungai ini. Bahkan warga setempat jarang yang turun, karena mereka tau kalau sungai ini berbahaya. Saat berada di jembatan Maiting maupun sungai, itu tidak boleh berkata kasar, dan melamun. Karena kalau kosong pikiran itu biasanya diganggu," ucap Marten.

Awal Mula Serda Amiruddin Hilang

Serda Amiruddin dinyatakan hilang di Sungai Maiting, sekitar pukul 09.00 Wita, Rabu (9/11). Saat itu, Amiruddin sedang melakukan pencarian korban bernama Palungan (55) yang lebih dulu dinyatakan terseret arus sungai.

Dandim 1414 Toraja, Letkol Inf Monfi Ade Chandra menjelaskan, Serda Amiruddin tergelincir saat melakukan pencarian korban hanyut di Sungai Maiting. Derasnya aliran sungai saat itu kata dia, membuat Amiruddin ikut terseret dan hingga saat ini dikabarkan masih hilang.

"Saat itu dia (Amiruddin) sedang melakukan penyisiran di sungai. Tapi tiba-tiba tergelincir jatuh. Aliran sungainya saat itu cukup deras jadi diperkirakan dia tidak bisa menyelamatkan diri. Sampai saat ini kita masih melakukan pencarian korban," jelasnya.

Sementara korban yang lebih dulu dinyatakan hanyut, Palungan (55) sudah ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Korban ditemukan beberapa jam setelah Amiruddin dinyatakan hilang.

Serda Amiruddin sudah hilang selama 6 hari lamanya. Tim SAR gabungan dari TNI, Polri hingga Basarnas sudah dikerahkan dalam melakukan pencarian korban.

Beberapa metode pun sudah dilakukan yakni penyisiran sungai sepanjang 20 Km dan metode penyelaman ke dasar sungai. Namun hingga saat ini jasad Amiruddin belum juga ditemukan.



Simak Video "Liburan 'Wah' di Toraja: Nongkrong di Kapitoo dan Camping Mewah"
[Gambas:Video 20detik]
(hmw/asm)