Mengenal Tari Manimbong, Tarian Syukuran Suku Toraja

Mengenal Tari Manimbong, Tarian Syukuran Suku Toraja

Ulfa Rizkia A - detikSulsel
Minggu, 13 Nov 2022 03:00 WIB
Tari Manimbong
Tari Manimbong (Foto: Direktorat Pariwisata)
Makassar -

Tari Manimbong adalah tarian tradisional dari suku Toraja, Sulawesi Selatan. Tarian ini hanya ditampilkan pada upacara adat Rambu Tuka' atau upacara adat syukuran oleh masyarakat Toraja.

Tari Manimbong ini biasa dipertunjukkan di acara adat seperti pernikahan atau peresmian rumah adat (Tongkonan) yang baru atau yang selesai direnovasi.

Tarian ini juga dianggap sebagai suatu ibadah oleh masyarakat suku Toraja. Hal tersebut karena menurut kepercayaan suku Toraja, tarian ini merupakan doa-doa pengucap syukur.


Dalam pementasannya, Tari Manimbong dilakukan oleh 20 hingga 30 orang yang semuanya merupakan penari pria. Tarian dilakukan saling beriringan dengan Tari Ma'dandan yang merupakan bentuk tarian pemuja dan ungkapan rasa syukur yang dilakukan oleh kaum wanita suku Toraja.

Gerakan Tari Manimbong

Melansir jurnal Pendidikan dan Kajian Seni Universitas Negeri Semarang yang berjudul "Eksistensi Tari Manimbong dalam Upacara Rambu Tuka' Masyarakat Toraja", tarian Manimbong dilakukan dengan cara para penari masuk dan berbaris sambil berjalan mengelilingi pelataran Tongkonan. Kemudian mengatur posisi di tengah-tengah pelataran.

Proses memasuki pelataran Tongkonan diawali oleh para penari Ma'dandan yang berjalan sambil menghentakkan tongkat mereka ke tanah. Kemudian disusul oleh para penari Manimbong sambil membunyikan simbong atau okkoh-okkoh.

Setelah berkeliling para penari langsung berjejer di tengah-tengah pelataran Tongkonan. Penari wanita dan pria saling bertukaran tempat ke depan dan belakang, berdiri dan berlutut, dengan gertakan kaki yang seirama.

Tari Manimbong memiliki delapan kategori gerakan, yaitu Pa' Tambolang, Pa' Male'-Male', Pa' Letten Lemo, Pa' Tulali, Umbalalan, Talao Sau Tenden, Pa' Ruttu Ue, dan gerakan Pa' Bukka.

Tari Manimbong ini dapat ditampilkan dengan durasi waktu 7 hingga 10 menit, tergantung variasi gerakan yang dibawakan saat pementasan.

Keunikan Tari Manimbong

Secara umum, Tari Manimbong tidak diiringi alat musik melodis tradisional seperti geso'-geso' atau pelle' maupun alat musik lainnya.

Namun, saat mementaskan tarian ini, setiap orang akan membawa sebuah alat musik yang disebut sarong simbong. Alat musik tersebut seperti tameng kecil yang berbentuk lingkaran bermotif ukiran Toraja yang terdapat hiasan tali yang menjuntai (ikko'na) dan juga koin yang diikatkan sehingga saat menari alat tersebut akan menghasilkan bunyi ketukan bagi para pemain.

Selain menggunakan alat tersebut untuk menghasilkan bunyi, para penari juga akan menyanyi syair khusus yang memiliki makna rasa syukur. Syair yang dinyanyikan kebanyakan huruf vocal seperti, "Aaaa.." "Eeee..." "Oooo...".

Kostum Penari

Dalam tarian ini, penari menggunakan kostum Bayu Pokko', Seppa Tallu Buku, dan selempang kain tua (mawa'). Setiap penari menggunakan hiasan kepala yang terbuat dari bulu burung bawan atau bulu ayam yang indah.

Selain kostum tersebut, penari juga menggunakan parang kuno (la'bo' pinai) dan sejenis tameng kecil yang berbentuk lingkaran dengan motif ukiran khas Toraja.

Eksistensi Tari Manimbong

Tari manimbong saat ini sangat cukup sebagai tarian tradisional, hal Ini dilihat dari aturan hukum dan adat Toraja yang mengatakan bahwa tarian ini tidak boleh dipentaskan sembarangan.

Akan tetapi, Tari Manimbong kurang dikenal oleh masyarakat diluar Toraja, sebab kebanyakan pelaksanaan upacara Rambu Tuka' dilaksanaan tidak saat hari libur. Seperti kisaran bulan Juni, Juli, atau Desember.

Sehingga Tari Manimbong ini kurang pengakuan oleh masyarakat luar Toraja bahkan masyarakat Toraja sendiri



Simak Video "Mengenal Ritual Ma'Nene Suku Toraja, Tradisi Membersihkan Mumi Leluhur"
[Gambas:Video 20detik]
(alk/alk)