Cerita Rakyat Sulawesi Selatan Putri Tandampalik, Ajarkan Arti Kesabaran

Cerita Rakyat Sulawesi Selatan Putri Tandampalik, Ajarkan Arti Kesabaran

Ulfa Rizkia Apriliyani - detikSulsel
Minggu, 13 Nov 2022 01:00 WIB
komik cerita nusantara: Kisah Putri Tandampalik
Foto:Ilustrasi (Doc: haibunda.com)
Makassar -

Cerita rakyat sulawesi selatan Putri Tandampalik merupakan salah satu cerita rakyat yang telah lama berkembang terutama di Daerah Wajo. Kisah ini mengajarkan tentang arti kesabaran dan pentingnya saling menghargai sesama makhluk.

Dikutip dari laman Kemendikbud, cerita rakyat Putri Tandampalik menjadi awal mula berkembangnya kepercayaan sebagian masyarakat Bugis bahwa mereka tidak diperbolehkan memakan kerbau boleng (putih) karena dianggap telah berjasa. Kerbau berkulit putih ini sangat dihormati dan dihargai karena telah berjasa menyembuhkan Putri Tandampalik dari penyakit yang dideritanya.

Larangan untuk menyembelih kerbau merupakan permintaan dari Putri Tandampalik sebagai bentuk penghargaannya kepada kerbau. Permintaan itu pun masih tetap diikuti oleh masyarakat Wajo sampai sekarang.


Cerita Rakyat Sulawesi Selatan Putri Tandampalik

Dikisahkan Putri Tandampalik merupakan seorang putri kerajaan dari daerah Luwu. Ia merupakan anak dari Datu Luwu yang bernama La Busatana Datu Maongge, seorang raja yang adil, bijaksana, dan arif, sehingga rakyatnya makmur dan sentosa.

Putri Tandampalik memiliki wajah yang rupawan, kecantikannya tersohor ke berbagai penjuru wilayah hingga daerah Bone yang letaknya cukup jauh dari Luwu. Selain parasnya yang rupawan, Putri Tandampalik juga memiliki perangai yang baik.

Suatu hari, raja Bone berniat untuk menikahkan putranya dengan Putri Tandampalik. Dia lalu mengutus pengawal ke kerajaan Luwu untuk melamar sang Putri.

Sesampainya di Istana Luwu, pengawal yang diutus oleh Raja Bone pun mengutarakan maksud kedatangannya. Mendengar hal tersebut, Datu Luwu pun terdiam.

Ia bingung untuk mengambil keputusan, sebab dalam adat Kerajaan Luwu, seorang gadis tidak diperbolehkan menikah dengan seorang pemuda dari negeri lain. Akan tetapi, jika lamaran itu ditolak, ia khawatir akan terjadi peperangan yang mengakibatkan rakyatnya menderita.

Beberapa saat ia berpikir, Datu Luwu masih kebingungan untuk memberikan jawaban. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya Datu Luwu memutuskan untuk menerima lamaran tersebut.

Tak lama usai Datu Luwu memutuskan menerima lamaran tersebut, nasib malang justru menimpa putrinya. Putri Tandampalik menderita sakit kulit yang aneh, tubuhnya mengeluarkan cairan kental menjijikkan dan mengeluarkan bau tidak sedap.

Seluruh tabib istana tidak mampu mengobati penyakit aneh yang diderita Putri Tandampalik. Bahkan, para tabib itu mengatakan bahwa penyakit yang diderita sang Putri bersifat menular.

Setelah berpikir dan menimbang, Datu Luwu mengambil keputusan untuk mengasingkan sang putri agar rakyat tidak terkena penyakit menular itu. Meskipun Putri Tandampalik merasa sedih, dia tetap patuh pada keputusan ayahnya.

Dengan berat hati, Datu Luwu terpaksa harus berpisah dengan sang putri yang dia sayangi. Sebelum berangkat, Datu Luwu memberikan sebuah keris kepada sang putri sebagai tanda bahwa dia tidak pernah melupakan Putri Tandampalik apalagi sampai membuangnya.

Berangkatlah Putri Tandampalik bersama beberapa orang pengawalnya. Mereka pergi ke suatu daerah yang jauh dari kerajaan Luwu menggunakan perahu.

Setelah berbulan-bulan mereka berlayar tanpa arah dan tujuan, mereka kemudian menemukan daratan. Seorang pengawal menemukan buah wajo saat menginjakkan kakinya di tempat itu sehingga Putri Tandampalik memutuskan manamai daerah itu dengan Wajo.

Tempat itu relatif subur dan sejuk sehingga Putri Tandampalik memutuskan untuk menetap di wilayah itu bersama para pengawalnya. Di tempat itu mereka berusaha dan bekerja keras membangun permukiman sebagai tempat tinggal.

Suatu waktu, Putri Tandampalik duduk di tepi danau, kemudian seekor kerbau putih datang dan menjilat kulit sang putri dengan lembut. Mulanya Putri Tandampalik ingin mengusirnya, namun kerbau itu begitu jinak dan tetap saja menjilatnya, akhirnya dia diamkan saja.

Setelah kerbau itu menjilati Putri Tandampalik, hal tidak terduga justru terjadi. Bekas jilatan kerbau putih itu ternyata menjadi obat dan menyembuhkan penyakit kulit yang dialaminya selama ini.

Akhirnya kulitnya menjadi putih, bersih, dan halus kembali. Sang putri pun bersyukur kepada Tuhan karena penyakitnya telah sembuh.

Sebagai bentuk penghargaan kepada kerbau putih itu, Putri Tandampalik memerintahkan pengawalnya agar tidak menyembelih apalagi memakan kerbau putih karena telah berjasa menyembuhkannya.

Suatu ketika, putra mahkota Bone pergi berburu bersama Anre Paguru Pakkannyareng Panglima Kerajaan Bone serta beberapa pengawalnya. Tidak sengaja dia berburu terlalu jauh sehingga terpisah dari rombongan.

Saat malam tiba, dia belum juga menemukan para pengawalnya sehingga membuatnya semakin gelisah dan tidak dapat memejamkan mata. Dari kejauhan dia melihat seberkas sinar, dia pun memberanikan diri untuk mendekati sumber cahaya.

Saat sampai di sumber cahaya itu, dia terkejut karena mendapati seorang puteri yang cantik jelita. Mereka lalu berkenalan dan menjadi saling akrab satu sama lain.

Sekembalinya ke negeri asalnya putra mahkota jadi tampak sering termenung, ingatannya terus tertuju pada Putri Tandampalik yang ditemuinya malam itu.

Anre Guru Pakkannyareng yang melihat gelagat sang putra mahkota itu pun menceritakannya kepada Raja Bone. Dia mengusulkan agar Raja Bone melamarkan Putri Tandampalik yang kemudian disetujui raja.

Raja Bone lalu mengirimkan utusan ke daerah Wajo untuk meminang Putri Tandampalik. Setelah para utusan itu sampai dan menyampaikan keinginan sang raja, Putri Tandampalik menyerahkan sebilah keris yang dulu diberikan oleh sang ayah.

Putri Tandampalik meminta agar mereka menemui Datu Luwu untuk menyerahkan keris itu. Apabila Datu Luwu menerima keris itu dengan baik, maka Putri Tandampalik akan menerima lamaran tersebut.

Putra Mahkota Bone lalu berangkat seorang diri menemui Datu Luwu dan menceritakan semua kejadian yang telah terjadi dan menyampaikan niatnya untuk mempersunting sang putri. Setelah itu, putra mahkota menyerahkan keris pusaka yang dititipkan oleh Putri Tandampalik kepada Datu Luwu.

Tidak lama setelah itu, Datu Luwu dan permaisurinya langsung bergegas menjemput sang Putri, lalu menikahkannya dengan Putra Mahkota Bone. Pernikahan keduanya berlangsung di Wajo. Beberapa tahun usai pernikahan tersebut, Putra Mahkota Bone diangkat menjadi raja.

Cerita rakyat Putri Tandampalik ini mengandung pesan moral tentang kesabaran dan keikhlasan. Dalam kisah ini digambarkan sosok Putri Tandampalik yang tetap sabar dan ikhlas menerima cobaan dari Tuhan hingga akhirnya kesabaran itu berbuah indah.

Selain itu, cerita rakyat ini juga menggambarkan tentang pentingnya saling menghargai sesama makhluk. Bentuk penghargaan sang Putri yang melarang menyembelih kerbau putih karena telah menyembuhkannya hingga kini masih tetap dipercaya oleh sebagian masyarakat Bugis, khususnya di Wajo.



Simak Video "Konon! Batu di Ciamis Ini Tak Bisa Dipindahkan dan Dihancurkan"
[Gambas:Video 20detik]
(urw/alk)