Mengenal Suku Kutai, Etnis dari Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

Mengenal Suku Kutai, Etnis dari Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

Muhammad Budi Kurniawan - detikSulsel
Minggu, 06 Nov 2022 11:21 WIB
Suku Kutai dan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur.
Mengenal Suku Kutai. Foto: (dok. istimewa)
Kutai Kartanegara -

Suku Kutai awalnya dikenal sebagai sebuah nama kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Disebut sebagai yang tertua karena Kerajaan Kutai adalah satu-satunya daerah yang memiliki bukti sejarah faktual.

Dalam Hukum Adat Suku Kutai yang ditulis Nursiah dkk dari Fakultas Hukum Universitas Kutai Kartanegara, bukti sejarah Kerajaan Kutai yakni tujuh buah prasasti batu yang telah ditemukan sejak tahun 1879, di Bukit Belves, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Pada tahun 1945, identitas dan budaya Kutai, khususnya Kerajaan Kutai Kartanegara di Martapura atau Martadipura, berangsur-angsur menurun setelah Indonesia merdeka. Lalu saat memasuki tahun 1947, status Kesultanan Kutai beralih menjadi daerah Swapraja Kutai yang masuk ke dalam federasi Kalimantan Timur.


Selain Kesultanan Kutai, ada Kesultanan Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur, dan Pasir yang ikut berfungsi membentuk Dewan Kalimantan Timur dan diketuai Sultan Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai ing Martapura ke-20. Selanjutnya pada tanggal 21 Januari 1960, identitas Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura secara resmi dibubarkan dan diserahkan kepada pemerintah daerah melalui sidang khusus DPRD Daerah Istimewa Kutai yang diadakan di Balairung Keraton Sultan Kutai, Tenggarong. Sejak saat itu, Sultan Aji Muhammad Parikesit dan keluarganya hidup sebagai rakyat biasa.

Dalam perkembangannya, Kesultanan Kutai dihidupkan kembali pada masa reformasi di tahun 1999. Syaukani Hasan Rais yang menjabat sebagai Bupati Kutai Kartanegara pada 1999, 1999-2004 dan 2005-2006, mengembalikan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura untuk tujuan pelestarian budaya.

Pada tanggal 7 November 2000, Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, diangkat menjadi Sultan Kutai Kartanegara setelah diakui oleh Abdulrahman Wahid, Presiden ke-4 Republik Indonesia dengan gelar Sultan Aji Muhammad Salehuddin II pada 22 September 2001.

Meskipun kekuasaan teritorial Kesultanan Kutai berkurang, kebangkitan budaya Kesultanan mengembalikan jati diri Kutai di mata bangsa dan dunia pada masa Kabupaten Kutai Kartanegara saat ini. Penyelenggaraan pesta adat Erau di Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi lebih semarak.

Yang membuat nama Kutai semakin terkenal adalah karena kekayaan alam yang sangat potensial, baik sumber daya terbarukan dan regenerasi. Potensi sumber daya alamnya Tidak hanya melibatkan investor domestik, tetapi juga investor asing. Semua itu menjadikan Kutai Kartanegara sebagai salah satu kabupaten terkaya di Indonesia, dengan angka anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang jauh di atas rata-rata.

Saat ini, istilah Kutai dikenal tidak hanya sebagai nama kerajaan atau wilayah, tetapi juga sebagai salah satu identitas etnis pertama di Bumi Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur. Selain Suku Dayak yang identitasnya jauh lebih terkenal, Suku Kutai juga pasti memiliki kekayaan adat istiadat, termasuk norma-norma yang masih dipakai atau masih dianut oleh urang-urang Kutai sampai sekarang. Suku Kutai kini mendiami beberapa daerah di Kalimantan Timur dan berpusat di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Hukum Adat Kutai

Pada masa Kesultanan Kutai Kalutanegara ing Martapura masih berkuasa, terdapat peraturan-peraturan tertulis dan mengikat bagi para rakyat yang tinggal di wilayah Kutai, yaitu Panji Kelaten yang terdiri dari 39 pasal yang mengatur persoalan kesultanan dan Beraja Niti atau peraturan Maharaja terdiri dari 164 pasal yang mengatur persoalan perdata dan pidana.

Tentu saja, Panji Kelaten dan Beraja Niti sudah tidak berlaku lagi dan hanya sebagai peraturan adat yang tidak tertulis. Beberapa di antaranya sebagai berikut:

Erau

Erau berasal dari bahasa Kutai, eroh yang artinya ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh suka cita. Suasana yang ramai, riuh rendah suara tersebut dalam arti: banyaknya kegiatan sekelompok orang yang mempunyai hajat dan mengandung makna baik bersifat sakral, ritual, maupun hiburan.

Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tidak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), juga diadakan upacara Erau.

Sejak itulah Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan raja-raja Kutai Kartanegara. Dalam perkembangannya, upacara Erau selain sebagai upacara penobatan raja, juga untuk pemberian gelar dari raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap kerajaan.

Perkawinan

Pagi hari pada Hari H atau hari di mana perkawinan itu dilaksanakan, setiap kelompok petugas sudah bersiap-siap untuk menjalankan tugas mereka masing-masing. Kaum perempuan, yakni para gadis dan ibu-ibu, bertugas untuk menyelesaikan persiapan makanan untuk pesta yang sudah dimulai sejak dua hari sebelumnya.

Dukun Memang bersama para pembantunya serta sebagian warga bertugas menyiapkan semua peralatan upacara perkawinan, di antaranya adalah memasang daun madam dan daun muru di pintu rumah sanggrahan sebagai pengusir roh-roh jahat yang bisa mengganggu jalannya upacara perkawinan.

Selanjutnya, Dukun Memang dan para pembantunya memandikan kedua calon mempelai di rumah mereka masing-masing. Kedua mempelai dimandikan dengan Ranam Bunga (air bunga) supaya kedua calon pengantin terlihat elok dan rupawan. Selain itu, kedua calon pengantin juga diwajibkan untuk melakukan ritual puja-puji dengan air Ranam Pemaden agar keduanya bersih dan suci dari pikiran-pikiran kotor atau hal-hal negatif lainnya dan memperoleh keselamatan.

Setelah ritual memandikan pengantin selesai, kedua calon mempelai didandani dengan pakaian yang paling indah. Untuk calon pengantin laki-laki, diharuskan mengenakan songkok (kopiah) berwarna hitam. Menjelang pukul 13.00 atau jam 1 siang, pengantin perempuan dibawa ke rumah sanggrahan terlebih dulu untuk menunggu kedatangan pengantin laki laki.

Setelah pengantin laki-laki datang dan disandingkan dengan pengantin perempuan, maka keduanya kemudian diarak mengelilingi rumah sanggrahan sebanyak tiga kali putaran sambil menyebarkan uang logam yang akan disambut dan diperebutkan dengan rasa riang gembira oleh anak-anak yang mengikuti arak-arakan pengantin tersebut.

Prosesi ini dilakukan dengan tujuan dan harapan agar kehidupan kedua mempelai nantinya akan mendapatkan kesejahteraan dan mampu memberikan kegembiraan kepada anak-anak mereka nantinya. Setelah acara arak-arakan dan tabur uang selesai dilaksanakan, maka kedua mempelai masuk ke dalam rumah sanggrahan dan duduk di tengah-tengah para hadirin yang sudah ada di dalam rumah. Posisi duduk kedua mempelai menghadap tetua adat dan para saksi.

Senjata Pusaka

Senjata pusaka utama kerajaan Kutai adalah sebilah keris yang bernama burit kang. Keris ini merupakan warisan Raja Kutai Kertanegara yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Sejarawan Kalimantan Timur, Muhammad Sarip menyebut asal usul keris burit kang dikisahkan secara mitologis dalam manuskrip Arab Melayu Surat Salasilah Raja dalam Negeri Kutai Kartanegara. Saat itu kelahiran atau kemunculan bayi Aji Batara Agung dari kayangan, dihikayatkan disertai dengan keberadaan keris emas yang digenggamnya.

"Manuskrip selesai yang ditulis oleh Khatib Muhammad Thahir pada 1849 itu juga mendeskripsikan riwayat penggunaan keris burit kang oleh Raja Kutai ke-6, yakni Pangeran Sinum Panji Mendapa Ing Martapura," ucap Sarip kepada detikcom, Selasa (1/11/2022).

Diceritakan bahwa Kerajaan Kutai Kertanegara menyerang Kerajaan Martapura dinasti Mulawarman di Muara Kaman pada abad ke-17. Sinum Panji Mendapa bertarung dengan Maharaja Dermasatiya. Keris burit kang menjadi senjata pamungkas bagi Sinum Panji Mendapa yang mengakhiri hidup Maharaja Dermasatia.

"Keris burit kang yang dibasahi darah Maharaja Dermasatia menjadi penanda runtuhnya kerajaan Hindu pertama di Nusantara," jelas Sarip.

Selain itu, keris burit kang saat ini digunakan oleh kerajaan Kutai hingga saat ini. Senjata pusaka ini digunakan oleh Sultan Kutai tiap ritual penabalan atau penobatan pemegang takhta kerajaan. Prosesi ini termasuk ketika penobatan sultan sebagai simbol pelestari budaya di era modern.

"Jadi, dapat diinterpretasikan bahwa keris burit kang adalah pusaka suci yang sakral bagi Raja Kutai," sebutnya.

Sementara itu, Kerabat Kesultanan Kutai, Adji Nakia Abdurahman mengatakan kris burit kang saat ini telah ditempatkan di Museum Nasional Jakarta. Alasan benda pusaka tersebut dipindahkan, lantaran adanya kisruh yang terjadi pada tahun 1965, tepatnya saat zaman PKI yang sempat membakar atribut kesultanan.

"Waktu itu kris burit kang berada di keraton Kutai di Tenggarong, karena ada penyerangan itu, jadi mungkin pemerintah saat itu dengan alasan menyelamatkan aset. Karena bernilai sejarah makanya di taruhlah di Jakarta," ucap pria yang bergelar Adji Raden Sudjono itu.

Meski keberadaan kris burit kang tidak lagi bertempat di Kesultanan Kutai, saat penobatan raja baru, pihak kesultanan Kutai selalu meminjamnya ke pemerintah untuk ritual pengangkatan sultan baru. Hal itulah yang dilakukan pada tahun 2018 saat pengangkatan raja kesultanan Kutai ke XXI yakni Sultan Aji Muhammad Arifin.

"Jadi waktu penobatan sultan raja Kutai itu terpaksa kami harus meminjam pada pemerintah, karena apabila pusaka itu tidak disematkan kepada raja, itu kurang sah menjadi raja. Makanya berapa kali sudah terjadi kita meminjam dengan biaya jaminan," sebutnya.

Saat ini keris burit kang peninggalan kesultanan Kutai masih bisa dilihat di Museum Mulawarman di Tenggarong, meski hanya replika.

"Memang di museum kita di sini adalah replika semua," pungkasnya.



Simak Video "Berseprah, Pesta Adat Seni dan Budaya Erau Simbol Tali Persaudaraan, Kutai Kertanegara"
[Gambas:Video 20detik]
(asm/ata)