Mistis Tari Pakanna Bone, Penari Wanita Kerasukan Roh Tusuk Diri dengan Badik

Mistis Tari Pakanna Bone, Penari Wanita Kerasukan Roh Tusuk Diri dengan Badik

Agung Pramono - detikSulsel
Sabtu, 08 Okt 2022 18:20 WIB
Tari Pakkanna
Tari Pakkanna. (Foto: Agung Pramono/detikSulsel)
Bone -

Tari Pakkanna asal Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) merupakan tari kreasi yang cukup ekstrem karena penari wanita menusuk dirinya menggunakan badik. Tidak hanya menampilkan adegan berbahaya, tarian ini juga diiringi dengan kisah mistis yang dialami sejumlah penari.

Tari Pakkanna merupakan tarian kreasi tradisional yang diciptakan oleh Koreografer Andi Irwan pada tahun 2010. Awalnya bernama tari Pabbarani Makkunrai yang berarti perempuan berani.

Berdasarkan usulan Dewan Adat Bone, Andi Baso Bone, tarian ini kemudian mengalami perubahan menjadi Tari Pakkanna yang berarti prajurit.


Saat ditemui detikSulsel, Andi Irwan menjelaskan tarian ini menceritakan pasukan elit wanita atau laskar wanita pada masa kerajaan Bone yang ke VI, Latentrisukki Petta Mulengnge. Tarian ini diperagakan 5 wanita tidak boleh kurang ataupun lebih.

Penari dengan formasi ganjil tersebut kemudian menampilkan tarian dengan gerakan ekstrem yakni menusuk diri dengan sebilah badik.

"Penari pakkanna harus 5 orang dan ganjil. Selama ini saya tampilkan tidak pernah kurang dari 5 orang, tidak pernah lebih," kata Andi Irwan kepada detikSulsel, Jumat (7/10/2022).

Irwan menyebut, sejak tarian ini digarap perasaannya antara senang dan takut. Waktu pertama ditampilkan dengan nama Tari Pakkanna, tiga penari bahkan kerasukan setelah tampil.

Irwan menceritakan, menurut dewan adat para penari tersebut dirasuki oleh roh para prajurit. Hal ini untuk menunjukkan eksistensi para prajurit tersebut.

"Penariku namasuki, na bilang dewan adat prajurit kerajaan yang masuki. Kerasukannya dia mau ji ditau kalau 'saya ada'," kata Irwan menceritakan peristiwa tersebut.

Tari PakkannaTari Pakkanna Foto: Agung Pramono/detikSulsel

Bahkan, orang tua dari penari tersebut melarang anaknya untuk tampil. Karena selain berbahaya juga mengandung hal mistis.

"Ganti-gantian 3 orang kerasukan. Makanya mamanya larang mi untuk ikut, tetapi itu penari tetap ji mau ikut pentas," tuturnya.

Tidak hanya itu, Irwan mengatakan salah satu dari penari Tari Pakkanna pernah merasa selalu diikuti oleh roh prajurit selama 1 minggu lamanya.

Irwan mengungkapkan, memang dalam tarian Pakkanna tidak sembarang perempuan yang bisa menjadi penari. Ada seleksi khusus dan itu diseleksi oleh dirinya sendiri.

"Saat ini ada banyak penari ku, tetapi tidak semua bisa bawa Tari Pakkanna. Kalau saya pribadi sebagai koreografernya saya sendiri yang tau kalau itu yang bisa, ini tidak. Dari dalam memang," jelasnya.

"Bukan ka sekke (tidak mau berbagi) untuk latih orang. Cuman tidak sembarang memang. Harus orang tertentu. Karena ini penari kalau tergores sedikit na anggap biasa mi. Jangan sampai dibawa keluar nanti tergores ki, saya sebagai koreografernya pasti tidak enak," sambung Irwan.

Penari Tidak Merasakan Sakit

Menusukkan badik di tubuh tidak membuat para penari Tari Pakkanna merasakan sakit. Bahkan jika badik tersebut ditusuk ke area kepala.

Namun, penari ini terkadang tidak kebal. Sehingga beberapa penari pernah terluka.

Meski begitu mereka tetap tidak merasakan sakit. Jika diminta untuk menghentikan tarian, mereka tidak menghiraukan seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dirisaukan.

"Kalau berdarah ki tidak na rasa ki. Kadang tampil mereka tidak sadari, nanti selesai tampil baru na tau kalau berdarah ki. Barulah dikasih tissu untuk lap darahnya, dia kira ji itu keringat," bebernya.

Sebelum Tari Pakkanna ditampilkan, biasanya digelar doa bersama. Selain itu para pemusik yang mengiringi akan membaca sebuah mantra khusus dalam bahasa Bugis.

"Ada sedikit mantra yang dibacakan oleh pemusik. Mantranya dalam bahasa Bugis," ujarnya.



Simak Video "Tarian Tradisional Desa Lombasana, Makassar"
[Gambas:Video 20detik]
(alk/nvl)