Mengenal Tari Pakkanna Asal Bone, Aksi Penari Wanita Tusuk Diri dengan Badik

Mengenal Tari Pakkanna Asal Bone, Aksi Penari Wanita Tusuk Diri dengan Badik

Agung Pramono - detikSulsel
Sabtu, 08 Okt 2022 16:52 WIB
Tari Pakkanna
Foto: Agung Pramono/detikSulsel
Bone -

Tarian tradisional suku Bugis biasanya menampilkan keanggunan dan kelemahlembutan dari penari wanita. Namun, berbeda dengan Tari Pakkanna asal Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), yang justru menampilkan kekuatan dari penari wanita.

Tarian ini terbilang cukup ekstrem karena menggunakan senjata tajam. Para penari wanita menusuk diri sendiri dengan badik yang merupakan senjata tradisional suku Bugis-Makassar.

Tarian ini diciptakan pertama kali oleh Koreografer Andi Irwan pada tahun 2010. Awalnya bernama tari Pabbarani Makkunrai yang berarti perempuan berani.


Saat ditemui detikSulsel, Andi Irwan mengatakan awalnya tarian ini menceritakan pasukan elit wanita atau laskar wanita pada masa kerajaan Bone yang ke VI, Latentrisukki Petta Mulengnge. Tarian ini diperagakan 5 wanita dengan menusuk dirinya dengan badik.

"Ini tari pertama kali tahun 2010, cerita tariannya sebagai prajurit wanita yang ada di Bone di masa pemerintahan Raja Bone Ke VI. Karena pada masa itu Pemerintahan Raja Bone membentuk prajurit wanita," kata Andi Irwan kepada detikSulsel, Jumat (7/10/2022).

Di masa pemerintahannya, Latentrisukki Petta Mulengnge memakai strategi perang dengan menggunakan perempuan untuk mengelabui pasukan Kerajaan Luwu yang menyerang Kerajaan Bone. Perempuan saat itu menggunakan alat tenun dan badik sebagai senjata.

"Katanya kalau perempuan pakai lowidah atau alat tenun tajam sekali. Dari situ kisahnya saya ambil referensi sehingga ada Tarian Pabbarani Makkunrai," sebut Irwan.

Karena memiliki gerakan ekstrem, Irwan mengatakan setiap hendak dipentaskan, selalu dilakukan berdoa bersama. Tarian ini juga hanya ditampilkan pada acara-acara tertentu.

Selain itu, ada mantra yang dibaca oleh pemusik yang mengiringi tarian ini. Sehingga hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu.

"Biasa acara kerajaan saja. Ada sedikit mantra yang dibacakan oleh pemusik. Mantranya dalam bahasa Bugis," bebernya.

Perubahan Nama Menjadi Tari Pakkanna

Irwan menjelaskan pada tahun 2012 Tari Pabbarani Makkunrai mengalami perubahan pola tarian juga perubahan nama. Hal ini berdasarkan usulan dari Dewan Adat Bone, Andi Baso Bone.

"Puang One (Andi Baso Bone) bilang tidak usah diikutkan prosesi perangnya. Makanya saya garap ulang itu tarian tahun 2012 menjadi Tari Pakkanna. Dalam Tarian Pakkanna gerakan awal tidak berubah. Namun hampir 50 persen di bagian pertengahan saya bongkar itu tarian kembali," jelasnya.

Pakkanna kata Irwan, merupakan Bahasa Bugis lampau yang memiliki arti prajurit. Nama itu dianggap lebih keren dan jarang orang mengetahuinya.

Tarian ini kini hanya ditampilkan secara khusus pada saat hari jadi Bone.

"Pakkanna itu dari bahasa Bugis dulu. Tarian Pakkanna jarang ditampilkan, hanya hari jadi bone," kata Irwan.

Irwan mengaku banyak yang meminta diajarkan tarian tersebut. Namun ia takut karena karena tarian ini menantang bahaya bagi penari wanita.

Tarian ini hanya ditampilkan pada acara-acara kerajaan dan hari jadi Bone. Tarian Pakkanna baru 1 kali ditampilkan di luar Bone, yakni saat pesta budaya di Somba Opu, Gowa.

"Selama ini hanya ditampilkan di acara-acara kerajaan. Orang-orang tertentu yang dibawa, ini tarian baru 3 generasi. Karena harus dilihat juga karakternya itu orang, bukan sekadar pintar menari saja," tambahnya.

Irwan menuturkan, selama proses latihan Tari Pakkanna penari tidak langsung menggunakan badik. Senjata tradisional tersebut baru digunakan saat tampil.

"Yang pasti tidak sembarang, karena ada orang mau minta dilatih, tapi resikonya yang ditakutkan," pungkasnya.



Simak Video "Tarian Tradisional Desa Lombasana, Makassar"
[Gambas:Video 20detik]
(alk/nvl)