Mengenal Banua Layuk, Rumah Adat Berusia Ratusan Tahun di Mamasa

Sulawesi Barat

Mengenal Banua Layuk, Rumah Adat Berusia Ratusan Tahun di Mamasa

Abdy Febriady - detikSulsel
Minggu, 18 Sep 2022 15:29 WIB
Rumah adat bernama Banua Layuk di Mamasa diyakini telah berusia ratusan tahun.
Foto: Abdy Febriady/detikcom
Mamasa -

Selain dikenal dengan keindahan panorama alamnya, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) juga menyimpan warisan budaya yang keberadaannya masih dipertahankan. Salah satunya rumah adat bernama Banua Layuk yang diyakini telah berusia ratusan tahun.

"Banua Layuk kalau di daerah Mamasa, khususnya di Rambusaratu biasa sering orang mengatakan, rumah adat rambusaratu, tapi namanya banua layuk, banua artinya rumah, layuk artinya tinggi, arti sebenarnya rumah tinggi, pemilik rumah ini sekaligus pemangku adat rambu saratu," kata penggiat wisata dan budaya Mamasa, Demianus kepada wartawan, Jumat (27/8/2022).

Salah satu banua layuk khas Mamasa berada di Kampung Rantebuda, Desa Rambusaratu, Kecamatan Mamasa. Jaraknya sekira 12 kilometer dari Kota Mamasa, dapat dijangkau baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan waktu tempuh sekira 15 menit.


Banua Layuk memiliki kemiripan dengan rumah adat Tongkonan di Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel). Secara keseluruhan bentangan atap banua layuk sepanjang 36 meter dengan lebar 7,5 meter. Atap pada bagian depan ditopang tiang besar dari batang kayu yang bentuknya bulat.

Demianus menyebut bagian yang menjulang tinggi di depan rumah dikenal dengan nama longa. Bagian tersebut diakui sarat makna dan harus diterapkan setiap pemimpin dalam kehidupan sehari-hari.

"Kalau sekarang kita duduk di depan rumah ketika dijelaskan dari segi arsitek rumah, kita di bawahnya longa-longa memiliki makna yang paling bagus, ketika jadi pimpinan, pimpinan itu tidak berlipat tangan, dia akan seperti payung, memayungi masyarakatnya, membuka jalan, membuka ide, bagaimana untuk kedepannya sehingga taraf hidup masyarakatnya boleh bagus," tuturnya.

Dijelaskan Demianus, banua layuk memiliki lima ruangan dengan fungsinya masing-masing. Mulai dari Tado, Babba, Tambing, Dapo hingga Lombon.

"Ruangan pertama namanya tado digunakan ketika tamu datang, ruangan kedua namanya babba digunakan ketika tamu ingin bermalam atau menginap, ada lagi ruangan namanya tambing khusus untuk yang punya rumah, sebelahnya lagi ada namaya dapo atau dapur yang tidak hanya digunakan untuk memasak juga berdiskusi dalam keluarga, serta ruangan lain namanya lombon khusus untuk menyimpan barang-barang," bebernya.

Selanjutnya kata Demianus, pada bagian depan dan belakang banua layuk terdapat ukiran berbentuk kepala kerbau. Ukiran tersebut sebagai simbol kekuatan dan kekayaan.

"Kepala kerbau kalau dilihat sepintas lalu yang dipasang di depan dan di belakang rumah adat ini, artinya pertama kerbau adalah sumber kekuatan, karena di Mamasa binatang paling kuat adalah kerbau, kemudian kerbau itu simbol kekayaan, karena biasanya kalau orang mau membeli sawah, tanah dan lainnya, biasanya dinilai berdasarkan jumlah kerbau," ungkap pria berusia 51 tahun itu.

Secara umum ukiran yang menghiasi banua layuk menggunakan empat warna, diantaranya hitam, putih, kuning dan merah. Keempat warna tersebut memiliki makna dalam kehidupan sehari-hari.

"Ketika menuntut pendidikan warna putih artinya suci sedangkan warna hitam artinya berduka, ada dua warna yang artinya sama sekali berbeda, merah simbol kebangsawanan sedangkan kuning simbol keadilan," terang Demianus.

Meski tidak dapat memastikan berapa usia banua layuk, Demianus mengaku jika dirinya adalah keturunan ke 21 pemilik rumah pertama, leluhurnya bernama Arruan Pasau.

"Kalau usia (banua layuk) saya tidak bisa mengatakan karena orang Mamasa belum mengenal tahun sebelum Belanda datang, tapi simple saya akan menjawab, saya sudah generasi ke-21, nama leluhur yang pertama punya rumah, arruan pasau itu adalah nenek-nenek saya," tandasnya.

Menurut Demianus, penamaan desa Rambusaratu berasal dari gelar leluhurnya, karena dianggap memiliki seratus macam cara untuk menyelesaikan setiap persoalan di daerah ini. Rambu artinya asap sedangkan saratu adalah seratus

"Perlu saya jelaskan bahwa nama desa sekarang ini rambusaratu, dulu nama gelaran nenek saya. Rambu artinya asap, saratu artinya seratus, arti sesungguhnya seratus macam solusi atau cara yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di daerah ini," pungkas pria yang juga berprofesi sebagai tour guide itu.



Simak Video "Melihat Proses Pembuatan Sambu, Tenun Warisan Leluhur di Mamasa"
[Gambas:Video 20detik]
(hsr/asm)