Kata Ahli Genetika Soal Suku Polahi Kawin Sedarah tapi Keturunannya Normal

Gorontalo

Kata Ahli Genetika Soal Suku Polahi Kawin Sedarah tapi Keturunannya Normal

Tim detikSulsel - detikSulsel
Minggu, 11 Sep 2022 07:00 WIB
Perempuan warga suku Polahi berada di gubuk tempat mengamati lahan perkebunan mereka di tengah perbukitan dan hutan di Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Foto: Suku Polahi di Gorontalo. (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)
Gorontalo -

Suku Polahi di Gorontalo dikenal sebagai kelompok masyarakat yang menjalankan tradisi kawin sedarah. Namun hasil keturunannya normal tanpa cacat secara fisik meski terlahir dari perkawinan sedarah atau incest.

"Itu normal karena baru dilihat dari luar saja," beber Ahli Genetika di Makassar dr Wahyuni Saddang SpOG kepada detikSulsel, Rabu (31/8/2022).

Namun Wahyuni menjelaskan, meski secara fisik terlihat normal, hampir dipastikan anak hasil perkawinan sedarah mengalami masalah kesehatan. Jika periksa secara keseluruhan, pasti akan diperoleh masalah genetika yang terjadi.


Anak hasil perkawinan incest ini bisa mengalami gangguan pada kognitifnya. Dalam hal ini gangguan terhadap kecerdasannya.

"Jadi kalau secara fisik dia normal mungkin bisa saja gangguan tersebut terjadi pada kecerdasan sang anak," ujarnya.

Hal itulah kemudian perkawinan sedarah tidak dianjurkan. Perilaku incest bisa menimbulkan berbagai macam kelainan kromosom pada anak keturunannya.

"Banyak kelainan-kelainan yang akan muncul. Seperti dalam hal kromosomnya. Mungkin kalau dari fisik ya mungkin dia bisa saja tidak nampak. Kita belum menganalisis kelainan di dalam, karena akan muncul dari efek kromosom," urai Wahyuni.

Berdasarkan hasil sebuah penelitian diketahui jika dari 21 anak hasil perkawinan incest semuanya mengalami gangguan autosomal. Gangguan tersebut merupakan penyakit yang diwariskan melalui kromosom autosom.

"Beberapa jurnal kedokteran, dari 21 anak yang dihasilkan dari incest baik biasanya ada kelainan kromosomnya. Salah satunya itu autosom resesif disorder," tutur Wahyuni.

Autosom resesif disorder adalah kelainan pada sistem saraf. Kelainan ini bisa memicu terjadinya kelemahan otot, masalah koordinasi atau gerakan tubuh, kesulitan berbicara, hingga gangguan pada organ jantung.

Secara garis besar, kelainan autosom resesif ini mengacu pada masalah koordinasi dan keseimbangan.

Wahyuni mengatakan, anak hasil perkawinan incest bisa dipastikan akan mengalami gangguan kromosom. Pasalnya, gangguan ini masih berisiko bagi pernikahan masih dalam garis keturunan dekat, seperti sepupu satu kali.

"Berdasarkan penelitian, antar sepupu dengan sepupu saja bisa membuat anak memiliki IQ redah. Berdasarkan penelitian, anak dari pernikahan satu garis keturunan kecerdasan intelektualnya itu lebih rendah dari orang yang tidak menikah dengan orang yang ada hubungan darah," jelasnya.

Suku Polahi dari Sudut Pandang Antropologi

Dua orang warga Suku Polahi Tuuli Palowa yang biasa disapa Bakiki (kanan) bersama istrinya, Nakiki Palowa (kiri) duduk di rumahnya di Dusun Tumba, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Jumat (17/6/2022). Polahi (pelarian) merupakan sebutan bagi warga yang konon melarikan diri saat jaman penjajahan Belanda ke daerah pegunungan dan hidup di tengah hutan. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/wsj.Dua orang warga Suku Polahi Tuuli Palowa yang biasa disapa Bakiki (kanan) bersama istrinya, Nakiki Palowa (kiri) duduk di rumahnya di Dusun Tumba, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Jumat (17/6/2022). Polahi (pelarian) merupakan sebutan bagi warga yang konon melarikan diri saat jaman penjajahan Belanda ke daerah pegunungan dan hidup di tengah hutan. (Foto: ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)

Antropolog dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Yowan Tamu menjelaskan, belum ada peneliti medis yang berhasil mengungkap rahasia di balik perkawinan sedarah di suku Polahi. Namun ada kemungkinan suku Polahi memiliki ritual khusus dalam kehidupan mereka sehingga anak yang dilahirkan tetap normal.

"Mungkin saja mereka memang ada ritual. Seperti mengonsumsi tumbuhan tertentu, kan mereka tinggal di jauh di dalam hutan, di gunung," ujar Yowan kepada detikcom, Jumat (26/) lalu.

Tetumbuhan yang mendiami kawasan tempat tinggal suku Polahi tersebut, disinyalir digunakan sebagai obat herbal. Tanaman yang diyakini suku Polahi berkhasiat.

"Jadi otomatis kan namanya di gunung pasti banyak tumbuhan-tumbuhan yang mungkin kita belum tahu khasiatnya," paparnya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.