Warisan Kolonial Belanda yang Masih Lestari di Sulut, Guru Disapa Meneer-Enci

Sulawesi Utara

Warisan Kolonial Belanda yang Masih Lestari di Sulut, Guru Disapa Meneer-Enci

Trisno Mais - detikSulsel
Minggu, 04 Sep 2022 09:20 WIB
Kisah Pengabdian 12 Tahun Guru Sekolah di Pulau Terluar RI
Ilustrasi guru. (Foto: Rafida Fauzia)
Sulut -

Warga pribumi Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut), memiliki sapaan khusus bagi guru. Mereka menggunakan sapaan Meneer bagi guru laki-laki dan sapaan Enci bagi guru perempuan.

Ternyata Meneer dan Enci merupakan warisan dari zaman kolonial. Sapaan ini pun terus digunakan hingga saat ini bahkan menjadi ciri khas masyarakat Minahasa.

Pemerhati Budayawan Sulawesi Utara, Fredy Wowor mengatakan awalnya warga pribumi Minahasa menggunakan sapaan Meneer sebagai ungkapan hormat kepada guru laki-laki. Meneer sendiri merupakan kata yang berasal dari bahasa Belanda yang berarti tuan.


"Istilah Meneer dan Enci itu pertama sebagai sebuah bagian dari perkembangan Bahasa. Karena di zaman kolonial, orang Minahasa pada khususnya, berada ada di zaman itu (penjajahan Belanda) dan istilah itu digunakan," jelas Fredy Wowor kepada detikcom, Jumat (2/9/2022).

Namun, sapaan Enci memiliki asal usul yang berbeda. Pasalnya, sapaan Enci menyerap bahasa China yang artinya kakak perempuan tertua.

Asal Usul Kata Meneer dan Enci dari Dua Bahasa Berbeda

Fredy menjelaskan bahwa Meneer berasal dari bahasa Belanda yang artinya tuan. Sementara Enci dari bahasa China yang artinya kakak atau saudari perempuan tertua.

Sejarah penyebutan Meneer sendiri dijelaskan tidak lepas dari hadirnya sekolah modern yang dimulai pada 1850-an oleh Nicolas Graven. Ia merupakan seorang pendeta sekaligus guru injil. Ia mendirikan seminari, kemudian pindah ke Tanawangko, lalu ke Tomohon Koranga, hingga menjadi guru agama.

Di sisi lain, Meneer merupakan sebutan tuan-tuan Belanda yang dihormati zaman kolonial. Pemakaian istilah Meneer tersebut membaur dalam konteks pergaulan sebagai tanda penghormatan.

Sapaan ini kemudian diambil oleh masyarakat Minahasa pada masa itu untuk menghormati guru atau pengajar. Karena pada masa itu sapaan guru lebih dikenal dengan "Tuan Guru".

"Konteks zaman kolonial Meneer itu dikaitkan dengan orang Belanda yang jadi pemimpin di zaman itu. Jadi kata Meneer itu sebenarnya merujuk pada pengertian tuan. Zaman itu kan sebutan terhadap guru tidak dibilang guru langsung, tapi tuan guru," jelasnya.

Sementara sapaan Enci juga lahir di periode yang sama. Namun terserap dari bahasa China yang artinya kakak tertua perempuan.

"Pada zaman kolonial yang mesti dipahami bahwa guru itu didominasi oleh gendernya laki-laki. Jadi ketika wanita menjadi seorang guru, maka istilah Enci yang diserap dari bahasa China dipakai untuk menyebut guru wanita," ujarnya.

Fredy menjelaskan pada masa itu benteng Manado kembali dibangun sementara pekerjanya didominasi oleh orang China. Sehingga wilayah Sulawesi Utara menjadi wilayah yang mengalami interaksi kultural.

Pada masa itu masyarakat Minahasa berbaur dengan orang China sehingga terjadi pertukaran bahasa. Hal ini yang mendasari sehingga sapaan Enci diserap dari bahasa China.

"Penggunaan bahasa melayu pasar (Bahasa Manado) ini kan juga orang-orang China dan Barat atau Arab. Begitulah situasi (pertukaran bahasa) zaman waktu itu," katanya.

Selanjutnya menjadi ciri khas di dunia pendidikan Minahasa...