Mengenal Suku Mandar: Asal Usul, Budaya hingga Kehebatannya di Lautan

Sulawesi Barat

Mengenal Suku Mandar: Asal Usul, Budaya hingga Kehebatannya di Lautan

Edward Ridwan - detikSulsel
Kamis, 01 Sep 2022 01:30 WIB
Tradisi Suku Mandar, Toyang Roeng.
Laki-laki suku Mandar. (Foto: Abdy Febriady/detikSulsel)
Makassar -

Suku Mandar adalah salah satu kelompok etnis terbesar yang menempati wilayah Sulawesi Barat. Suku ini dulunya tergabung dalam suku-suku utama di Sulawesi Selatan seperti Bugis, Makassar dan Toraja, hingga Sulawesi Barat berdiri sebagai provinsi pada tahun 2004.

Di daratan Pulau Sulawesi, suku Mandar merupakan etnis terbesar kedua setelah Bugis. Tidak hanya di Sulawesi Barat, suku Mandar juga terdapat di beberapa daerah lain termasuk Kalimantan.

Suku Mandar memiliki sejarah dan adat budaya yang menarik untuk diketahui. Berikut ulasan tentang suku Mandar seperti yang dihimpun oleh detikSulsel dari berbagai sumber:


Asal-Usul Suku Mandar

Melansir buku yang berjudul "Polewali Mandar, Alam. Budaya. Manusia" yang diterbitkan oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Polewali Mandar, disebutkan bahwa suku Mandar terbentuk sejak abad XVI. Pembentukan ini terjadi setelah adanya persekutuan antara 7 kerajaan di pesisir atau disebut pitu baqbana binanga dengan 7 kerajaan dari pegunungan atau pitu ulunna Salu.

Tujuh kerajaan pesisir meliputi kerajaan Balanipa, Sendana, Pamboang, Banggae, Tappalang, Mamuju, dan Binuang. Sementara kerajaan pegunungan meliputi kerajaan Rantebulahang, Aralle, Tabulahang, Mambi, Matangnga, Tabang, dan Bambang.

Keempat belas kerajaan tersebut kemudian sepakat untuk bersatu membentuk sebuah persekutuan suku bangsa yang saling menguatkan dan melengkapi satu sama lain. Dari situlah asal-usul terciptanya suku Mandar.

Nama 'Mandar' sendiri hingga saat ini masih menjadi perdebatan. Para ilmuwan dan budayawan Sulawesi Barat belum memiliki kesepakatan akan asal usul kata 'Mandar' yang digunakan.

Sebagian menyebutkan bahwa nama 'Mandar' berasal dari kata 'Sipamandar' yang artinya saling melengkapi. Kata ini lahir dari persekutuan 14 kerajaan tersebut yang terjadi pada tahun 1580 silam.

Namun, sejumlah literatur menyebutkan bahwa kata 'Mandar' telah ada jauh sebelum persekutuan tersebut terjadi. Data ini terlihat dari peta-peta Eropa tahun 1534-1540 yang memuat kata 'Mandar' pada catatan pendaratan pertama pedagang Portugis di Pulau Sulawesi pada tahun 1530.

Pendapat lain menyebutkan kata Mandar berasal dari nama sebuah sungai di Balanipa, yaitu "Sungai Mandar" atau sungai Tinambung sekarang ini. Hal ini dilandaskan bahwa Kerajaan Balanipa adalah salah satu dari 14 kerajaan yang memiliki pengaruh politik yang cukup kuat waktu itu, sehingga nama persekutuan tersebut dikenal dengan "Mandar".

Bahasa Suku Mandar

Suku Mandar menggunakan bahasa Mandar. Penggunaan Bahasa Mandar memiliki sejumlah dialek yang berbeda.

Dialek ini dipengaruhi kawasan setempat. Adapun wilayah Sulawesi Barat yang menggunakan bahasa Mandar antara lain Majene, Polewali Mandar dan Mamuju.

Menurut pakar bahasa Mandar, Abdul Muthalib, ciri utama bahasa Mandar adalah bunyi ucapan pada huruf b, d, j, dan g. Bila huruf-huruf itu diapit dengan huruf vokal maka pelafalannya menjadi berubah.

Seperti pada kata 'pebamba' menjadi 'pevamba', kata 'dada' menjadi 'dazda'. Kemudian kata 'bija' menjadi 'bijya' dan "magara" menjadi "maghara".

Dialek bahasa Mandar yang paling banyak digunakan adalah dialek Balanipa, yaitu ujaran-ujaran, bahasa atau logat bahasa Mandar yang dipakai oleh rakyat di daerah Balanipa. Dialek Balanipa juga memiliki sejumlah varian seperti Lapeo, Pambusuang, Karama, Napo, Tandung dan Toda-todang.

Selanjutnya adat budaya suku Mandar...