Jumlah Keluarga Suku Polahi Sulit Didata karena Tradisi Kawin Sedarah

Jumlah Keluarga Suku Polahi Sulit Didata karena Tradisi Kawin Sedarah

Tim detikSulsel - detikSulsel
Senin, 29 Agu 2022 11:50 WIB
Perempuan warga suku Polahi berada di gubuk tempat mengamati lahan perkebunan mereka di tengah perbukitan dan hutan di Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Huntan tempat suku Polahi di Gorontalo. (Foto: ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)
Makassar -

Masyarakat Suku Polahi tinggal di pedalaman Gorontalo, jauh di hutan Gunung Boliyohuto. Suku Polahi memiliki sebuah tradisi yang tidak lazim yakni melakukan perkawinan sedarah atau incest, sehingga sulit untuk didata.

Antropolog dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Yowan Tamu mengatakan sulit untuk mendata jumlah kepala keluarga pada suku Polahi. Hal ini diakibatkan tradisi perkawinan sedarah yang dilakukan, sehingga sulit mengetahui status kepala keluarga.

"Sebetulnya tidak bisa kita prediksi berapa kepala keluarga di situ (suku Polahi) karena kan mereka melakukan perkawinan incest. Jadi kita tidak tahu mana yang jadi kepala keluarga, mana yang anak," kata Yowan, Jumat (26/8/2022).


Terkait pendataan, Yowan mengatakan Departemen Sosial Kabupaten Gorontalo hanya bisa mengidentifikasi berdasarkan jumlah kelompok. Adapun kelompok masyarakat Suku Polahi terbagi atas empat klaster berdasarkan wilayah.

Semakin ke dalam wilayah tinggal mereka maka semakin sedikit anggota masyarakatnya. Selain itu juga semakin primitif dan ektrem penolakan terhadap orang luar.

"Jadi ada nama-namanya. Itu klasternya ada yang disebut sebagai kelompok 9, kelompok 18, kelompok 21, dan kelompok 70. Jadi kalau kelompok 9 itu mereka ada 9 orang di situ. Kelompok 18 mereka 18 keluarga. Kelompok 21 ada 21 keluarga. Jadi nama-nama kelompok gitu. Kalau itu yang diidentifikasi oleh Departemen Sosial Kabupaten Gorontalo ya," terangnya.

Yowan mengatakan kelompok besar terdapat di wilayah kaki gunung dan mulai beradaptasi dengan masyarakat, seperti menggunakan baju yang layak dan mulai berdagang. Namun kelompok terkecil merupakan yang paling ekstrem dan tinggal di wilayah terdalam.

"Semakin sedikit itu semakin ekstrem, kelompok 9, itu tidak ada orang berani tembus ke sana," kata Yowan.

Suku Polahi Masih Sulit Diteliti

Yowan mengatakan, pengetahuan tentang kehidupan masyarakat suku Polahi masih sangat terbatas. Karena masyarakat yang sangat tertutup dan menolak kehadiran orang luar.

Sehingga penelitian mendalam masih sangat sulit dilakukan. Yowan mengakui masih banyak misteri tentang suku Polahi termasuk tradisi perkawinan sedarah yang dilakukan mereka.

"Ada sejumlah penelitian yang menyebutkan perkawinan incest (perkawinan sedarah), tetapi untuk detailnya itu belum ada," kata Yowan.

Adapun penelitian-penelitian tentang suku Polahi hanya dilakukan pada masyarakat terluar yang berada di kaki pegunungan. Sehingga tidak ada penelitian rinci pada masyarakat primitif di kelompok terdalam tentang perkawinan sedarah ini.

"Penelitian kita itu jarang tembus ke klaster atas. Sebenarnya saya juga mau meneliti itu (perkawinan sedarah) tapi memang aksesnya tuh susah," jelasnya.



Simak Video "Menyusuri Jejak Perkembangan Islam di Timur Indonesia, Gorontalo"
[Gambas:Video 20detik]
(alk/asm)