Suku Polahi di Gorontalo: Masyarakat Primitif dengan Tradisi Kawin Sedarah

Suku Polahi di Gorontalo: Masyarakat Primitif dengan Tradisi Kawin Sedarah

Nurul Istiqamah - detikSulsel
Sabtu, 27 Agu 2022 17:36 WIB
Perempuan warga suku Polahi berada di gubuk tempat mengamati lahan perkebunan mereka di tengah perbukitan dan hutan di Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Masyarakat suku Polahi (Foto: ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)
Makassar -

Suku Polahi merupakan kelompok masyarakat yang berdiam di salah satu wilayah di Gorontalo. Masyarakat Polahi merupakan suku terdalam asli dari Gorontalo yang tidak mengalami revolusi.

Masyarakat suku Polahi menggunakan bahasa asli Gorontalo zaman dahulu. Mereka juga menggunakan bahasa tubuh yang hanya dimengerti oleh suku mereka.

Masyarakat suku Polahi berdiam di gunung dan tidak menerima pendatang. Sehingga untuk mengunjungi masyarakat dari suku Polahi harus menggunakan pemandu yang sudah diterima oleh mereka.


"Mereka (masyarakat suku Polahi) tidak serta merta menerima orang asing. Karena bagi mereka orang asing itu adalah orang yang membahayakan. Jadi kalau ingin menemui mereka kita harus menggunakan guide (pemandu) yang memang mereka kenal," jelas Antropolog dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Yowan Tamu kepada detikSulsel, Jumat (26/8/2022).

Yowan menambahkan, berdasarkan sejumlah penelitian masyarakat suku Polahi tidak memiliki kepercayaan dan tidak mengenal agama apapun. Hal ini disebabkan mereka tidak menerima https://www.detik.com//sulsel/budaya/d-6257732/suku-polahi-di-gorontalo-masyarakat-primitif-dengan-tradisi-kawin-sedarah dari luar lingkungannya.

Meski begitu Yowan mengatakan, pengetahuan tentang kehidupan masyarakat suku Polahi masih sangat terbatas. Karena masyarakat yang sangat tertutup sehingga penelitian mendalam masih sangat sulit dilakukan.

Sejarah Suku Polahi

Yowan menjelaskan suku Polahi awalnya masyarakat biasa yang tinggal di Gorontalo. Namun, pada masa penjajahan masyarakat Polahi melarikan diri jauh ke dalam hutan karena menolak dijajah dan membayar pajak.

Dosen Antropologi ini mengatakan masyarakat suku Polahi sudah mengasingkan diri sejak masa pemerintahan Raja Eyato, tahun 1673 hingga 1679 masehi. Mereka lalu menciptakan peradaban sendiri yang kemudian terlanjur hidup dalam kondisi terisolasi.

"Jadi pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan hidup dalam kungkungan dari penjajahan. Makanya mereka lari mengasingkan diri. Akhirnya seperti itukan mereka karena sudah mengasingkan diri," jelas Yowan.

Yowan mengatakan dari hasil beberapa pengamatan, hingga kini suku Polahi masih hidup terisolasi dengan keadaan primitif. Menurutnya, suku Polahi hidup dengan mengkonsumsi isi hutan baik itu daun kering, daun hijau hingga hewan yang tersedia di sekeliling mereka.

"Mereka makan makanan dalam hutan. Mau daun-daun kering, daun-daun yang hijau, mereka makan. Karena mereka tidak memiliki beras, bahkan mereka memasak masih menggunakan rotan. Mereka memakan binatang-binatang yang mereka dapat di sekitar mereka," tuturnya.

Suku Polahi adalah Masyarakat Nomaden

Yowan menjelaskan suku Polahi adalah masyarakat yang Nomaden. Yakni komunitas masyarakat yang memilih hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari pada menetap di suatu tempat.

Yowan mengatakan suku Polahi di Gorontalo bermukim jauh di dalam hutan Gunung Boliyohuto, Gorontalo. Mereka akan mulai mencari tempat tinggal lain di Gunung Boliyohuto jika salah satu anggota suku meninggal.

"Mereka tuh mengadopsi Nomaden. Misalnya kalau ada yang meninggal di satu lokasi, mereka harus pindah lokasi. Mereka tidak mau tinggal di situ karena dianggap itu adalah sakral buat mereka," jelasnya.

Klaster di Suku Polahi

Suku Polahi menerapkan klaster masyarakat sesuai kedalaman bermukim mereka di dalam hutan di Gunung Boliyohuto. Yowan mengatakan berdasarkan identifikasi Departemen Sosial Kabupaten Gorontalo, diketahui suku Polahi terbagi dalam 4 klaster.

"Jadi ada nama-namanya. Itu klasternya ada yang disebut sebagai kelompok 9, kelompok 18, kelompok 21, dan kelompok 70. Jadi kalau kelompok 9 itu mereka ada 9 orang di situ. Kelompok 18 mereka 18 keluarga. Kelompok 21 ada 21 keluarga. Jadi nama-nama kelompok gitu. Kalau itu yang diidentifikasi oleh Departemen Sosial Kabupaten Gorontalo ya," terangnya.

Yowan menjelaskan, kelompok yang mendiami wilayah gunung tertinggi merupakan kelompok dengan keadaan paling primitif dan jumlah kelompok paling kecil, yakni klaster 9. Kelompok tersebut sangat sulit untuk ditemui, sebab mereka menganggap orang asing bagai sesuatu yang membahayakan atau penjajah.

Sementara, kelompok yang bermukim di wilayah kaki gunung Boliyohuto merupakan Suku Polahi yang dengan kelompok terbanyak, klaster 70. Mereka mulai beradaptasi dengan penduduk Gorontalo di sekitar kaki gunung dengan turun ke pasar dan belajar berpakaian layak.

Tidak Mengenal Mata Uang

Masyarakat suku Polahi tidak menerima apapun sehingga mereka tidak mengenal mata uang. Yowan mengatakan, masyarakat suku Polahi seringkali menjual hasil kebun di pasar, di wilayah kaki gunung.

Namun, mereka akan menjualnya dengan harga sangat murah, karena tidak mengenal mata uang yang berlaku. Yowan menuturkan beberapa suku Polahi akan terlihat pada hari-hari tertentu di pasar Muhiyolo.

"Mereka menerima uang tapi kan mereka nggak tahu itu jumlahnya berapa," cerita Yowan.

Adapun hasil perkebunan yang dijual oleh suku Polahi adalah cabai. Salah satu kebutuhan pokok ini kerap dibeli oleh masyarakat sekitar gunung dengan harga yang sangat murah dibandingkan harga normal.

Tradisi Perkawinan Sedarah

Selain memiliki kehidupan primitif, masyarakat suku Polahi juga memiliki tradisi yang tidak lazim. Yakni melakukan perkawinan sedarah atau incest.

Perkawinan sedarah ini dilakukan baik antar saudara, ibu dengan anak, maupun bapak dengan anak. Secara ilmu medis perkawinan sedarah akan melahirkan anak yang cacat, uniknya keturunan suku Polahi tetap normal.

Yowan mengatakan belum ada peneliti medis yang berhasil mengungkap rahasia di balik perkawinan sedarah di suku Polahi. Namun dari kacamata antropologi, Yowan mengatakan mungkin saja suku Polahi memiliki ritual khusus dalam kehidupan mereka sehingga anak yang dilahirkan tetap normal.

"Mungkin saja mereka memang ada ritual. Seperti mengonsumsi tumbuhan tertentu, kan mereka tinggal di jauh di dalam hutan, di gunung, jadi otomatis kan namanya di gunung pasti banyak tumbuhan-tumbuhan yang mungkin kita belum tau khasiatnya," jelas Yowan.



Simak Video "Menyusuri Jejak Perkembangan Islam di Timur Indonesia, Gorontalo"
[Gambas:Video 20detik]
(alk/asm)