Mengenal Suku Buton: Sejarah, Asal-Usul, dan Kebudayaannya

Sulawesi Tenggara

Mengenal Suku Buton: Sejarah, Asal-Usul, dan Kebudayaannya

Edward Ridwan - detikSulsel
Kamis, 18 Agu 2022 17:58 WIB
Pawai budaya Pemkot Baubau dengan baju adat Buton
Pawai budaya Pemkot Baubau dengan baju adat Buton (Foto: FB Pemkot Baubau)
Buton -

Suku Buton menarik perhatian sebagian orang usai Presiden Jokowi menggunakan pakaian adat Dolomani khas Buton saat menghadiri upacara HUT ke-77 RI di Istana Negara baru-baru ini. Baju adat Dolomani yang digunakan Jokowi merupakan baju adat khas suku Buton yang dibuat langsung oleh perajin lokal setempat.

Suku Buton merupakan kelompok etnis yang menempati wilayah Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kepulauan Buton. Selain itu, masyarakat suku Buton juga tersebar di beberapa wilayah seperti Maluku Utara, Kalimantan, Riau, dan Papua.

Ibu kota Kepulauan Buton adalah Bau-bau. Jumlah penduduk di wilayah Kepulauan Buton mencapai 255.712 jiwa.


Lantas, seperti apa sejarah dan kebudayaan, dan hal menarik dari Suku Buton? Berikut penjelasannya yang telah dirangkum oleh detikSulsel.

Sejarah Asal-Usul Suku Buton

Mengutip dari buku 'Kerajaan Tradisional Sulawesi Tenggara: Kesultanan Buton' yang diterbitkan oleh Depdikbud RI, disebutkan bahwa nenek moyang penduduk Buton termasuk dalam ras Deutro Melayu. Penyebarannya dimulai dari daratan Asia melalui Annam, Tonkin, Indo Cina, Kamboja dan terus ke Asia Tenggara Kepulauan.

Namun, masyarakat setempat memiliki cerita-cerita rakyat mengenai asal-usul nenek moyang mereka. Konon, penduduk Kesultanan Buton adalah turunan dari 4 orang tokoh pertama yang datang ke Pulau Buton dari Semenanjung Johor di Malaka pada abad ke 13. Keempatnya adalah Sipanjonga, Sitamanajo, Sijawangkati, dan Simalui.

Menurut cerita dari masyarakat setempat, pemukiman pertama keempat tokoh pendiri kerajaan Buton berada di daerah Kalampa di Desa Katobengke, Bau-bau. Daerah inilah yang menjadi cikal-bakal wilayah kesultanan Buton.

Di Desa Katobengke, mereka membabat ilalang untuk mendirikan tempat tinggal. Pekerjaan membabat ilalang ini disebut "Welia" yang kemudian berubah menjadi Wolio sehingga penduduk daerah tersebut disebut orang Wolio. Kemudian dalam perkembangannya menjadi Kerajaan Buton-Wolio.

Selanjutnya, mereka bergabung dengan Kerajaan Tobe-tobe, yang ada di daerah timur. Makin lama Buton terus berkembang dengan dengan berdirinya pemukiman-pemukiman baru di sekitar Kalampa dan Wolio. Pemukiman-pemukiman itu berkembang menjadi kampung yang dikenal dengan Kampung Gundu-gundu dan Barangkatopa.

Seiring waktu, wilayah kekuasaan Kerajaan Buton semakin meluas. Mereka mendirikan pemukiman-pemukiman baru yang dikenal dengan Kampung Gundu-Gundu dan Barangkatopa. Pemimpin kampung tersebut kemudian diangkat menjadi menteri (bonto).

Selanjutnya dibentuk dua kampung lagi yaitu Peropa dan Baluwu. Dengan demikian sudah ada 4 menteri (bonto) di masa awal terbentuknya Kerajaan Buton.

Berikut nama-nama kampung dan menterinya yang ada pada awal terbentuknya kerajaan Buton:

1. Wilayah Barangkatopa dikepalai Bonto Sitamanajo.
2. Wilayah Gundu-gundu dikepalai Bonto Sijawangkati.
3. Wilayah Peropa dikepalai Bonto Betoamhari.
4. Wilayah Baluwu dikepalai Bonto Sangiariarana.

Keempat Bonto atau menteri ini kemudian membentuk lembaga pemerintahan yang disebut patalimbona. Pemerintahan ini terus mengalami perkembangan seiring berkembangnya wilayah kekuasaan pemerintahan kerajaan Buton.

Menteri yang ada di Kesultanan Buton terus bertambah hingga menjadi 9 menteri. Selanjutnya dikenal sebagai siolimbona yang artinya sembilan menteri utama.

Selanjutnya pengaruh agama Islam di Suku Buton...