Kisah Pemahat Tau-tau Tersohor Turun-temurun di Toraja

Kisah Pemahat Tau-tau Tersohor Turun-temurun di Toraja

Rachmat Ariadi - detikSulsel
Minggu, 07 Agu 2022 14:02 WIB
Patung Tau-tau Toraja
Foto: Rachmat Ariadi
Tana Toraja -

Tau-tau adalah komponen yang sangat penting dalam ritual rambu solo di suku Toraja. Tau-tau merupakan patung replika menyerupai orang yang sudah meninggal.

Hal ini membuat seniman pemahat Tau-tau memiliki menjadi kedudukan yang istimewa bagi masyarakat suku Toraja. Beberapa diantaranya menjadikan pemahat Tau-tau sebagai profesi turun-temurun.

Salah satunya Yohanis Garatta, yang kini menjadi salah satu seniman pemahat Tau-tau yang cukup terkenal di Tana Toraja. Ia mulai menggeluti profesi sebagai pemahat Tau-tau sejak berada di sekolah dasar (SD).


Ilmu pahat yang dimilikinya diturunkan dari sang Ayah yang juga merupakan seniman pemahat Tau-tau. Kini Yohanis dengan lihai memahat setiap detail patung hingga menyerupai orang yang menjadi model.

"Bapak memang pemahat dari dulu. Saya sudah diajarkan memahat patung sejak SD. Kalau tadi bilang saya detail, sebenarnya lebih detail karya bapak. Jadi ini bisa dibilang turun temurun lah," ucapnya kepada detikSulsel, Sabtu (6/8/2022).

Yohanis yang kini berusia 40 tahun mengatakan akan menggeluti seni memahat Tau-tau ini sampai umurnya tidak muda lagi. Bahkan kata dia, 3 anaknya akan didorong menjadi penerus demi menjaga adat istiadat Toraja.

"Kalau bisa sampai tua lah. Anak-anak juga sudah mulai belajar memahat, memang saya dorong untuk melanjutkan pekerjaan ini biar tidak terhenti di sini. Kalau bukan anak cucu yang melanjutkan siapa lagi," tandasnya.

Perbedaan Pemahat Tau-tau Dulu dan Sekarang

Yohanis menceritakan terjadi perubahan tradisi dalam melakukan seni pahat Tau-tau. Zaman dulu, kata dia, beberapa ritual harus dilakukan seorang pemahat Tau-tau sebelum membuat patung.

Memahat Tau-tau pada masyarakat Toraja zaman dulu adalah kegiatan yang sakral. Sehingga beberapa ritual harus dilakukan.

Ritual yang dimaksud diantaranya menyembelih satu ekor babi sebagai persembahan saat menebang kayu untuk Tau-tau. Kemudian, saat mulai memahat, kembali menyembelih satu ekor babi. Saat membentuk alat vital patung, pemahat kembali harus menyembelih satu ekor babi.

Namun, Yohanis mengatakan seiring perkembangan zaman kebiasaan tersebut sudah mulai menghilang. Di sisi lain bermunculan seniman-seniman pemahat Tau-tau di Toraja sehingga tradisi ini semakin lestari.

"Dulu itu jarang sekali orang yang memahat Tau-tau, ya karena setiap tahapnya ada ritualnya. Kalau mau tebang kayu harus potong babi, mulai memahat potong lagi, dan kalau sudah sampai pembentukan organ vital, itu potong satu babi lagi. Tapi sekarang sudah tidak karena zaman juga sudah berubah," jelasnya.