Kenapa Pria Lamar Gadis Sulsel Harus Bayar Uang Panai? Ini Penjelasannya

Kenapa Pria Lamar Gadis Sulsel Harus Bayar Uang Panai? Ini Penjelasannya

Urwatul Wutsqaa - detikSulsel
Selasa, 02 Agu 2022 07:09 WIB
dr. Fitrianisa Burmana dengan Andi Bastian Basri.
dr. Fitrianisa Burmana yang dilamar dengan uang panai Rp 5 M oleh Andi Bastian Basri. (Dok. Istimewa)
Makassar -

Uang panai merupakan sejumlah uang yang harus diberikan oleh laki-laki yang mempersunting wanita dari suku Bugis-Makassar. Jumlah fantastis uang panai dalam pernikahan adat suku Bugis-Makassar seringkali mengundang perhatian khalayak.

Belum lama ini pernikahan dengan uang panai fantastis kembali heboh di media sosial. Gadis Bugis asal Kabupaten Pinrang dr Fitrianisa Burmana dilamar oleh pujaan hatinya Andi Bastian Basri dengan panai hingga Rp 5 miliar dan mendatangkan 7 artis ibukota dalam resepsi pernikahan.

Kewajiban uang panai dalam adat pernikahan suku Bugis-Makassar masih menimbulkan pertanyaan bagi sejumlah kalangan, mengapa pihak laki-laki harus membayarkan uang panai ketika melamar wanita Bugis-Makassar?


Uang panai yang dalam bahasa Makassar biasa disebut doi panai, atau dalam bahasa Bugis disebut doi menre merupakan sejumlah uang yang harus dipersiapkan pihak laki-laki ketika hendak melamar perempuan Bugis. Besaran uang panai yang harus dikeluarkan oleh pihak laki-laki ditentukan berdasarkan kesepakatan antara keluarga kedua belah pihak.

Budayawan Bugis-Makassar dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Dr. Firman Saleh menjelaskan, uang panai merupakan bagian dalam pernikahan adat Bugis Makassar. Laki-laki membayarkan uang panai sebagai pemenuhan kebutuhan biaya melangsungkan resepsi pesta ada pernikahan di pihak perempuan.

"Jadi seperti biasanya, dalam adat masyarakat Bugis-Makassar itu kan untuk pemenuhan kebutuhan pada saat melakukan pesta adat perkawinan. Laki-laki bukan diberikan beban, bukan juga diwajibkan, tapi seperti itulah adat Bugis-Makassar, bahwa untuk penyelenggaraan pesta itu, laki-laki lah yang memberikan kepada pihak perempuan untuk digunakan dalam melangsungkan pesta itu," ujarnya saat dihubungi detikSulsel, Senin (1/7/2022).

Firman menambahkan, kewajiban menyiapkan uang panai bagi pihak laki-laki dimaksudkan agar pihak perempuan dapat menggunakan uang tersebut untuk mempersiapkan pesta penyambutan yang layak bagi keluarga pihak laki-laki yang datang. Lantas mengapa pihak laki-laki harus membayarkan uang panai? Firman menjelaskan laki-laki dalam adat Bugis-Makassar memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan itu.

"Kenapa (laki-laki yang siapkan)? Karena biasanya, laki-laki punya kemampuan. Perempuan untuk menyambut keluarga, untuk menyambut mempelai laki-laki itu kan pasti butuh makanan, butuh banyak hal. Nah, yang memenuhi itu laki-laki," ujarnya.

Dirinya kembali menekankan bahwa uang panai pada adat pernikahan Bugis-Makassar bukan untuk menyulitkan laki-laki. Karena pada dasarnya uang panai harus sesuai dengan esensi nya, yaitu cukup untuk memenuhi biaya pesta adat yang diselenggarakan pihak perempuan.

"Dalam tradisi Bugis-Makassar itu ada istilah begini, dalam bahasa bugis 'mega cappu to, cedde cappu to', artinya 'banyak pun pasti habis, sedikit pun juga cukup'. Itu tidak diharuskan sampai berapa banyak, yang penting cukup," jelas Firman.

Terkait nominal uang panai yang fantastis, Firman mengatakan dalam tradisi biasanya digunakan sebagai bentuk penolakan secara halus. Biasanya, pihak perempuan yang berasal dari kalangan bangsawan atau memiliki ekonomi lebih tinggi akan mematok nominal yang tinggi agar pihak laki-laki tidak bisa dipenuhi oleh pihak laki-laki.

"Saya sudah jelaskan masalah tradisinya, bahwa itu salah satu bentuk penolakan sebenarnya. Karena yang dipinang ini bahasa halus nya tidak selevel, ada yang kalangan orang bangsawan, atau ekonominya lebih tinggi, kemudian dipatoklah sebanyak yang kira-kira dia tidak bisa jangkau," terangnya.

Selengkapnya di halaman selanjutnya.