Kengerian di Pintu 10 Kanjuruhan, Mayat-mayat Dikumpulkan Jadi Satu

Kengerian di Pintu 10 Kanjuruhan, Mayat-mayat Dikumpulkan Jadi Satu

Praditya Fauzi Rahman - detikJatim
Kamis, 19 Jan 2023 19:11 WIB
Rekaman CCTV pintu di Stadion Kanjuruhan yang diputar di PN Surabaya
Rekaman CCTV pintu di Stadion Kanjuruhan yang diputar di PN Surabaya (Praditya Fauzi Rahman/detikJatim)
Surabaya -

Sebanyak 17 saksi dihadirkan dalam sidang lanjutan Tragedi Kanjuruhan. Para saksi yang dihadirkan tak hanya dari penonton dan aparat, tapi juga pedagang sekitar yang mengetahui langsung tragedi kemanusiaan itu. Pedagang mengungkap kengerian yang terjadi saat Tragedi Kanjuruhan.

Sidang pemeriksaan agenda saksi ini digelar di ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Sedangkan dua terdakwa yang hadir yakni Abdul Haris dan Suko Sutrisno.

Salah satu saksi yang diperiksa keterangannya adalah Yun Winanik. Warga Singosari ini membuka toko di sekitar Stadion Kanjuruhan atau tepatnya di nomor 53 sebelah pintu 10 sejak tahun 2011.

Menurut Yun, saat tragedi pecah, ia sempat mendengar dua kali letusan tembakan dari dalam stadion. Sesaat setelah itu, ia lalu melihat banyak orang yang dibopong keluar dalam keadaan meninggal dan luka dari pintu 10.

"Dengar 2 kali ledakan dari dalam, tapi di luar nggak ada (ledakan)," tutur Yun kepada hakim, Kamis (19/1/2023).

Menurut Yun, keadaan semakin kacau karena korban meninggal dan luka terus bertambah. Sedangkan saat itu tak ada satu pun petugas medis yang menolong.

Oleh karena itu, ia lalu berinisiatif untuk ikut menolong para korban baik yang meninggal dan luka. Korban-korban yang luka ia masukkan ke dalam tokonya. Sedangkan mayat-mayat dikumpulkan jadi satu.

Yun sendiri hampir tak bisa menghitung berapa banyak yang meninggal dan luka di pintu 10. Ini karena saking banyaknya korban yang berdatangan.

"Banyak yang meninggal, yang angkat Aremania. Tidak ada petugas sama sekali. Lalu saya suruh masuk ke warung dan memberi minum, saya kasih obat, banyak, nggak bisa dihitung," ungkap Yun.

Saksi lainnya, Nanang Effendy, pedagang lain yang lapaknya tak jauh dari stadion juga mengisahkan hal yang sama. Ia sempat mendengar dua kali ledakan tembakan. Setelahnya, suasana tak terkendali yang disusul korban jiwa dari dalam.

"Kami tidak melihat (gas air mata), hanya mendengar 2 ledakan sekitar 20 meter dari sebelah kanan kios saya. Setelah ledakan di atas riuh. Beberapa keluar sudah tidak terkontrol," jelas Nanang.

Menurut Nanang, pada saat masih laga, ia juga menyaksikan sejumlah suporter bertiket tak bisa masuk ke dalam stadion karena di dalam sudah penuh meskipun saat itu pintu diberlakukan buka-tutup.

"Ada, kalau bilang banyak lebih dari 10 orang. Mereka bergelang tiket, tapi tidak bisa (masuk). Kemungkinan datangnya telat. Hampir babak kedua sampai (stadion)," tandas Nanang.

Seperti diketahui, sebanyak 132 orang meninggal dunia saat Tragedi Kanjuruhan. Kejadian ini terjadi seusai laga Arema FC kontra Persebaya yang berakhir 2-3. Penonton berebut dan berdesakan keluar saat polisi menembakkan gas air mata selepas pertandingan karena massa suporter turun ke lapangan.

Lihat juga video 'Pilu 2 Balita di Malang, Tak Tahu Ibunya Tewas dalam Tragedi Kanjuruhan':

[Gambas:Video 20detik]



(abq/dte)