Tragedi Kanjuruhan Yakinkan Bos Arema FC Iwan Budianto Mundur dari PSSI

Tragedi Kanjuruhan Yakinkan Bos Arema FC Iwan Budianto Mundur dari PSSI

M Bagus Ibrahim - detikJatim
Minggu, 15 Jan 2023 16:18 WIB
Wakil Ketua Umum PSSI Iwan Budianto
Iwan Budianto (Foto: Amalia Dwi Septi/detikSport)
Kota Malang -

Pemilik saham terbanyak Arema FC Iwan Budianto memutuskan mundur dari PSSI dan tidak akan mencalonkan atau dicalonkan sebagai Exco PSSI periode 2023-2027. Sikap itu diambil sebagai bentuk tanggungjawab moral usai Tragedi Kanjuruhan.

"Rasanya tidak elok dan tidak etis jika saya kembali duduk di Exco PSSI. Itu sebabnya saya tidak mau mencalonkan dan tidak bersedia dicalonkan," ujar pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum (Waketum) PSSI melalui rilis resmi, Minggu (15/1/2023).

Selain memutuskan sikap tersebut, IB sapaan akrabnya mengaku tidak akan tinggal diam melihat kondisi keluarga maupun korban Tragedi Kanjuruhan. Mengingat pada peristiwa 1 Oktober 2022 lalu ada 135 orang tewas dan ratusan orang mengalami luka-luka.

Upaya yang dilakukannya dengan secara langsung menginstruksikan kelangsungan Crisis Center dengan membentuk tim untuk memberikan bantuan dan pendataan secara detail baik korban yang berada di wilayah Malang maupun luar Malang.

Selain itu, pasca IB mundur, pihaknya akan kembali fokus memipin langsung pemulihan tim Singo Edan yang kondisinya saat ini terbilang cukup memprihatinkan. Prioritas pertama saat kembali ke barak Arema FC, IB akan menjalin komunikasi dengan para keluarga korban, Aremania dan stakeholder sepakbola di Malang untuk membicarakan masa depan Arema FC.

"Kami tiada henti untuk meminta maaf, dan kami ingin bangkit bersama menyembuhkan luka yang kita rasakan. Kami memaklumi dan memahami apapun respons yang ditujukan kepada kami. Tapi terimalah kami berikhtiar untuk berbenah dan meraih harapan baru agar lebih baik dan pulih," terangnya.

Sementara itu, Komisaris Arema FC, Tatang Dwi Arfianto menerangkan untuk kondisi klub berjuluk Singo Edan pasca Tragedi Kanjuruhan menghadapi berbagai rintangan dan ujian.

Mulai dari menjalani keputusan Komisi Disiplin PSSI untuk bermain tanpa penonton di radius 250 km di luar Malang sampai akhir kompetisi, mendapat denda Rp 250 juta. Hingga efek hukum yang dirasakan saat menghadapi gugatan pidana dan perdata.

"Kita hampir 80 persen karyawan dan pimpinan di Arema FC proaktif memberikan keterangan agar proses hukum berjalan obyektif. Kita sama juga berjuang mencari keadilan," kata Tatang.

Sedangkan terkait harapan IB untuk melanjutkan program tanggap darurat untuk membantu para keluarga korban pasca 100 hari Tragedi Kanjuruhan mendapatkan dukungan dari Tatang. Ia menganggap bahwa crisis center bagi korban tragedi Kanjuruhan sampai saat ini memang masih sangat diperlukan.

"Program lanjutan crisis center perlu, sebelumnya klub telah memberi total bantuan sebesar 35 juta untuk masing masing korban meninggal total 135 korban, 24 korban luka berat dan sekitar 160 luka ringan," tutur Tatang.

Tatang menambahkan, terkait dinamika tuntutan Aremania, pihaknya akan mengajak mereka untuk berkomunikasi agar bisa ditemukan solusi dalam menangani peristiwa Tragedi Kanjuruhan.

"Arema FC akan proaktif menjalani program pemulihan jangka panjang maupun jangka pendek yang ditampung dari saran masukan Aremania serta stake holder Malang Raya," kata dia.

Diakui Tatang, secara psikis pengelolaan serta bisnis, Arema FC mengalami dampak yang memprihatinkan, mulai renegoisasi sponsor sampai penataan benefitnya, sebab butuh pembiayaan yang tinggi dikarenakan Singo Edan harus berpindah home base dan berhentinya kompetisi.

"Kita akui kita terpuruk dan prihatin. Namun, banyak pesan dan motivasi datang dari banyak pihak, juga dari para keluarga korban, Arema FC harus mampu lewati ujian ini dan harus tetap menjaga tetap ada," tandasnya.



Simak Video "Fakta-fakta Demo Ricuh Berujung Kantor Arema FC Dirusak"
[Gambas:Video 20detik]
(abq/iwd)