Perkosa Bocah di Gunungkidul Dijerat KUHP, KPAI: Pakai UU Perlindungan Anak!

Perkosa Bocah di Gunungkidul Dijerat KUHP, KPAI: Pakai UU Perlindungan Anak!

Pradito Rida Pertana - detikJateng
Jumat, 20 Jan 2023 21:23 WIB
Ilustrasi Pemerkosaan Anak
Ilustrasi (Foto: Zaki Alfarabi/detikcom)
Gunungkidul -

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) angkat bicara soal kasus pria perkosa bocah SD di Gunungkidul. KPAI meminta polisi menggunakan Undang-Undang Perlindungan Anak dalam kasus tersebut.

Komisioner KPAI Dian Sasmita mengatakan, dari https://www.detik.com//jateng/hukum-dan-kriminal/d-6526834/perkosa-bocah-di-gunungkidul-dijerat-kuhp-kpai-pakai-uu-perlindungan-anak yang didapatkannya, korban berusia 12 tahun dan pelaku usia 19 tahun tergolong dewasa telah melakukan hubungan badan. Menurutnya aktivitas seksual antara orang dewasa dan anak-anak melanggar aturan.

"Nah yang perlu dipastikan adalah apa pun hubungan yang tercipta antara anak dan orang dewasa, dan kemudian diikuti oleh aktivitas seksual itu tidak ada kamusnya di Perlindungan Anak suka sama suka," kata Dian kepada detikJateng, Jumat (20/1/2023).


"Karena posisi anak dengan dewasa itu sudah menunjukkan relasi yang tidak setara. Orang dewasa punya kemampuan yang lebih daripada anak-anak untuk melakukan bujuk rayu, melakukan manipulasi, hingga intimidasi," lanjut Dian.

Oleh sebab itu, Dian menilai polisi harus lebih jeli dalam menerapkan pasal dalam kasus di Gunungkidul tersebut. Mengingat tidak ada penerapan pasal yang berlatar belakang suka sama suka.

"Makanya untuk melindungi anak-anak tidak ada pasalnya terkait suka sama suka. Untuk itu kami mendesak Polres Gunungkidul untuk dapat merespons kasus ini dengan serius dan mengutamakan keadilan bagi korban," ujarnya.

Dian pun meminta polisi untuk menggunakan Undang-Undang Perlindungan Anak dalam penanganan kasus tersebut.

"Selain itu, melakukan proses hukum sesuai dengan aturan yang berlaku yaitu menggunakan Undang-Undang Perlindungan Anak," tandasnya.

Dian juga meminta kepada Pemkab Gunungkidul untuk memberikan upaya dalam memulihkan kondisi psikis korban.

"Dan meminta kepada Pemkab Gunungkidul supaya menjamin rehabilitasi, pemulihan terhadap anak ini. Karena masa depan anak korban masih panjang dan apa yang dialami itu memberikan luka psikis dan luka fisik yang tidak bisa cepat pulih seiring dengan proses hukum," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, polisi mengamankan FJS (19) warga Kapanewon Paliyan, Gunungkidul, usai membawa kabur bocah perempuan yang masih berusia 12 tahun dan melakukan hubungan badan sebanyak lima kali. Dalam kasus itu polisi menerapkan Pasal 332 ayat 1 KUHP tentang membawa lari anak yang belum dewasa tanpa sepengetahuan orang tua.

(rih/ahr)