Jabar X-Files: Daging Domba Maut Dukun Pengganda Uang Garut

Jabar X-Files: Daging Domba Maut Dukun Pengganda Uang Garut

Hakim Ghani - detikJabar
Minggu, 22 Jan 2023 06:30 WIB
Ilustrasi Pembunuhan
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono/detikcom).
Garut -

Dua tahun lalu, warga Garut pernah geger usai dua pria tua meregang nyawa. Mereka mati sia-sia, gegara makan daging domba yang dicampur racun tikus oleh seorang dukun 'pencabut nyawa'.

Rabu, 15 Desember 2021, tiga orang warga Garut bernama Dede, Ajat dan Nurdin tiba-tiba sekarat di kamar sebuah penginapan di kawasan Pantai Santolo, Garut. Entah apa alasannya, sehingga membuat beberapa teman mereka yang kebetulan ada di sana terheran-heran.

Bagaimana tidak heran. Sebab, tak ada hal-hal yang mencurigakan dilakukan sebelumnya oleh tiga sekawan tersebut. Terakhir kali yang diketahui teman-temannya, Ajat, Dede dan Nurdin memakan daging domba bersama-sama.


Singkat cerita, para saksi langsung membawa ketiganya ke RS Pameungpeuk yang tak jauh dari lokasi. Tapi sayang, nyawa Ajat dan Nurdin tak mampu terselamatkan. Sementara Dede, berhasil ditolong.

Kejadian itu membuat geger warga setempat, sampai-sampai bikin polisi turun tangan dan melakukan penyelidikan. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?

Cerita nahas tersebut berawal di bulan November 2021. Di suatu hari di bulan tersebut, Dede, Nurdin dan Ajat berkenalan dengan Yono Suryono, alias Abah Uyun. Sosok yang dikenalkan teman mereka berprofesi sebagai dukun sakti yang bisa menggandakan uang.

Di momen pertemuan antara mereka itu, Nurdin curhat ke Abah Uyun, jika dia, memiliki banyak utang yang tak mampu dilunasi. Bak kucing yang melihat ikan, Abah Uyun langsung 'nyamber' dan berkata, jika dia sanggup membantu Nurdin, dengan cara menarik uang gaib dan menggandakannya.

Yang ditawarkan beragam. Mulai dari duit Rp 100 ribu yang bisa jadi Rp 1 juta, Rp 1 juta yang bisa jadi Rp 5 juta, hingga duit 5 juta rupiah yang bisa disulap jadi Rp 1 miliar. Semuanya terserah Nurdin. Tergantung kesanggupannya, memberikan modal yang mana.

Syarat yang ditawarkan juga cukup enteng. Yakni dengan menyediakan uang yang ingin digandakan, plus membeli beberapa barang yang menunjang proses ritual, macam sesajen, kardus hingga yang paling aneh adalah daging domba seberat 1,5 kilogram.

Nurdin yang melihat peluang itu juga langsung mengiyakan. Tanpa pikir panjang, dia langsung menyerahkan duit Rp 5,5 juta sebagai mahar serta modal untuk membeli perlengkapan ritual. Barang-barang itu kemudian dibeli. Tak terkecuali daging domba yang diminta.

Beberapa hari kemudian, ritual kemudian digelar di rumah kerabat. Abah Uyun kemudian menjalankan siasat liciknya. Sang dukun kemudian masuk ke dalam kamar untuk melakukan ritual. Padahal, bukan ritual yang dia lakukan, melainkan merakit kardus menggunakan benang dan menaruh sejumlah uang di atasnya. Sehingga uang terlihat banyak jika dilihat dari kejauhan.

Usai melakukan hal itu, Abah Uyun kemudian memperlihatkannya kepada Ajat, Nurdin dan Dede. Tapi, ketiganya dilarang menyentuh, karena ritual belum usai. Mereka, kemudian diminta untuk memakan daging domba, yang tanpa sepengetahuan sudah dicampur dengan racun tikus kemudian dikukus.

Sembari menunggu daging domba itu matang, Abah Uyun punya siasat licik lainnya. Agar para korban percaya, dia mengambil salah satu uang pecahan Rp 100 ribu dari kardus, dan meminta korban membelanjakannya ke warung. Itu bertujuan untuk meyakinkan korban jika uang tersebut asli. Sesuai skenario, para korban terpedaya.

Usai daging domba bercampur racun tikus itu matang, kemudian tibalah saat ritual tiba. Dede justru yang jadi korban, sebenarnya. Dia diminta untuk memakan daging domba, sebagai perwakilan dari ketiga korban. Karena selain Nurdin, Ajat dan Dede juga ikut-ikutan ingin menggandakan uang.

Singkat cerita, Dede kemudian menyantap 1,5 kilogram daging domba bercampur racun tikus itu sampai habis. Tapi, bukan duit gepokan yang mereka dapat, malah Dede muntah-muntah dan merasa pusing. Abah Uyun kemudian menjadikan itu sebagai dalih untuk menyatakan jika ritualnya tak berhasil.

Tak puas hanya di situ, ketiga korban kembali menyetor uang dan mengajak Abah Uyun untuk melakukan ritual lagi. Kali ini, masih di bulan November, ritual dilaksanakan di salah satu rumah kerabat mereka di kawasan Kuningan, Jawa Barat.

Syaratnya seperti biasa, mereka harus makan daging domba. Tapi, lagi-lagi ritual itu tak berhasil. Nurdin dan Ajat yang kepalang rugi, kemudian mendatangi kediaman Abah Uyun. Mereka yang kesal, memaksa sang dukun untuk melakukan ritual lagi, atau mengembalikan duit yang sudah disetor.

Menurut Kapolres Garut saat itu, AKBP Wirdhanto Hadicaksono, di momen tersebut Nurdin dan Ajat sempat memaki-maki anak Abah Uyun hingga membuatnya sakit hati dan marah.

"Kemudian tersangka YS menyanggupi untuk melakukan ritual lagi, tapi meminta ritualnya agar dilakukan di Pantai Santolo," ucap Wirdhanto, Jumat 24 Desember 2021.

Mereka kemudian bersepakat untuk melakukan ritual di Pantai Santolo, di bulan Desember 2021. Pada hari tersebut, ritual kemudian dilakukan hingga berujung tewasnya Ajat dan Nurdin.

Di momen tersebut, Abah Uyun mengaku mendengar para korban saling berbisik. Jika daging domba tak mampu dihabiskan perwakilan yang ditunjuk, ketiganya akan menghabiskan daging tersebut bersama-sama. Juga, ketika duit gaib yang dijanjikan Uyun saat itu tak ada, ketiganya akan mengeroyok sang dukun.

Hal itu kemudian mendasari si dukun untuk berbuat lebih gila. Jika di momen ritual sebelumnya Uyun hanya mencampur racun tikus ke dalam daging domba sebanyak 1/4, hari itu Uyun mencampur daging domba dengan sebungkus racun tikus. Hingga akhirnya para korban sekarat dan dua di antaranya meninggal dunia.

Saat melihat para korban sekarat, Abah Uyun masih santuy. Dia pura-pura pingsan di dalam kamar, hingga dibangunkan sejumlah saksi yang melihat kejadian tersebut. Uyun kemudian meminta para saksi untuk mengantar Ajat, Dede dan Nurdin ke rumah sakit. Dia mengaku akan menyusul, tapi malah pulang ke rumah.

Usai mendengar kabar tewasnya Ajat dan Nurdin, Uyun kemudian menghilang tanpa jejak. Personel Sat Reskrim Polres Garut yang kemudian mengambil alih kasus tersebut, kemudian melakukan penyelidikan. Keberadaan Uyun akhirnya terendus polisi. Dia bersembunyi di kawasan Wonosobo, Jawa Tengah dan berhasil ditangkap pada hari Rabu, 22 Desember 2021.

Usai diinterogasi dan mengakui perbuatannya, Uyun kemudian dijerat polisi dengan hukuman berlapis, yakni Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana, Pasal 338 tentang Pembunuhan, serta Pasal 378 terkait Penipuan dan Penggelapan.

"Ancamannya maksimal hukuman mati," ujar Wirdhanto.

Uyun kemudian menjalani proses peradilan. Beberapa kali agenda persidangan diikutinya hingga bulan Juni 2022. Pada hari Rabu, 29 Juni 2022, Pengadilan Negeri Garut kemudian menyatakan Uyun terbukti melakukan pembunuhan berencana dan diganjar hukuman bui 18 tahun.

(mso/mso)