Gharim dalam Zakat: Pengertian, Jenis, dan Besaran yang Diterima

Gharim dalam Zakat: Pengertian, Jenis, dan Besaran yang Diterima

Azkia Nurfajrina - detikHikmah
Kamis, 03 Nov 2022 09:00 WIB
Concept of zakat in Islam religion. Top view of money, rice, prayer beads beads and Quran on wooden background with copy space.
Gharim, orang yang memiliki utang. Foto: Getty Images/iStockphoto/Mohamad Faizal Bin Ramli
Jakarta - Gharim merupakan satu dari delapan golongan yang berhak mendapatkan zakat atau mustahik zakat. Gharim beserta tujuh mustahik zakat lainnya disebutkan dalam Al-Qur'an, yakni Surah At-Taubah ayat 60.


اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

Arab Latin: Innamaṣ-ṣadaqātu lil-fuqarā`i wal-masākīni wal-'āmilīna 'alaihā wal-mu`allafati qulụbuhum wa fir-riqābi wal-gārimīna wa fī sabīlillāhi wabnis-sabīl, farīḍatam minallāh, wallāhu 'alīmun ḥakīm

Artinya: "Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."


Pengertian Gharim


Mengutip Ensiklopedia Fikih Indonesia: 3 oleh Ahmad Sarwat, kata 'gharim' bermakna orang yang wajib membayar utangnya. Sementara menurut syariat, gharim yaitu orang yang berutang dan tidak mampu untuk membayar utangnya.


Buku Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khathab oleh Jaribah bin Ahmad Al-Haritsi mendefinisikan, gharim adalah orang mengemban utang untuk kemaslahatan dirinya atau kemaslahatan umat. Termasuk juga dalam kategori ini, orang yang mengemban utang akibat merusakkan sesuatu milik orang lain karena tersalah atau lupa.


Fiqih Islam wa Adilatuhu oleh Wahbah Az-Zuhaili, juga menyebutkan pengertian gharim yakni orang-orang yang mempunyai banyak utang. Para ulama Syafi'iyah dan Hanabilah menambahkan, baik seorang itu berutang untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.


Dalam Syarah Riyadhus Shalihin oleh Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, gharim adalah orang yang memiliki tanggungan utang yang banyak sehingga dia tidak bisa menyelesaikan utangnya. Atau seseorang yang mempunyai utang demi kemaslahatan umum, walaupun dia bisa membayarnya.


Jenis-Jenis Gharim

Ada dua jenis gharim melansir dari Fikih Ibadah Madzhab Syafi'i oleh Syaikh Alauddin Za'tari:

Pertama, orang yang berutang untuk kepentingan orang lain. Misal terjadi perselisihan antara dua kaum, lalu ada orang yang melerai keduanya dengan membayar sejumlah uang untuk dijadikan syarat berdamai.

Orang tersebut berutang demi kemaslahatan umum yakni mendamaikan dua kelompok. Dilatarbelakangi dengan kasus itu, ia termasuk gharim dan berhak mendapat zakat untuk membayarkan utangnya.

Kedua, orang yang berutang untuk kepentingan dirinya sendiri. Seperti seseorang berutang untuk membeli atau membayar keperluan pokok hidup, atau orang yang tertimpa musibah serta bencana, sehingga membuat mereka berutang. Gharim seperti ini bisa menjadi mustahik zakat.

Orang yang berutang untuk kepentingan pribadinya, di mana ia masih kuat bekerja, tidak boleh menerima dari harta zakat jika penghasilannya cukup untuk menutupi utangnya.


Jika orang berutang menerima zakat karena gharim, maka ia hanya boleh memakainya untuk membayar utangnya. Tapi jika ia menerima harta zakat karena orang fakir, maka ia boleh menggunakan zakat untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.


Seorang gharim yang fakir, atau gharim yang miskin lebih berhak untuk diberikan zakat, dibandingkan dengan orang fakir atau miskin yang tidak sedang menanggung utang.


Sebab, gharim yang fakir atau gharim yang miskin menyandang dua beban sekaligus, yakni sebagai yang terlilit utang juga fakir atau miskin.


Sementara orang fakir atau miskin yang tidak sedang terlilit utang, hanya punya beban sebagai orang fakir atau miskin saja.


Besaran Zakat untuk Gharim


Masih dari buku Fikih Ibadah Madzhab Syafi'i, boleh memberikan harta zakat kepada seorang gharim sebesar nilai tanggungan utangnya, baik sedikit atau banyak.


Jika harta tersebut sudah bisa membayarkan utangnya, atau ia sudah berkecukupan sebelum utangnya dipenuhi, maka ia harus mengembalikan zakat tersebut kepada pihak penguasa, atau orang yang memberikannya.


Namun ia juga boleh memberikan pada orang lain yang kesulitan, sehingga berhak menerima zakat.


Boleh memberikan zakat kepada gharim untuk jangka waktu satu tahun, yang mana ia harus membayar tanggungan utangnya. Tetapi tidak boleh lebih dari satu tahun.

Simak Video "Utang yang Capai Rp 7.773 T, Sri Mulyani Pede RI Mampu Bayar"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)