Syarat-Syarat Muzakki, Orang yang Wajib Membayar Zakat

Syarat-Syarat Muzakki, Orang yang Wajib Membayar Zakat

Awalia Ramadhani - detikHikmah
Kamis, 27 Okt 2022 09:00 WIB
Top view of calculator, prayer beads and coins over black background written with ZAKAT
Muzakki. Foto: Getty Images/iStockphoto/Abu Hanifah
Jakarta - Sebelum masuk ke pembahasan syarat-syarat muzakki, mari terlebih dahulu mengetahui apa definisi zakat secara umum.

Zakat masuk ke dalam rukun Islam yang ke tiga dari lima rukun lainnya, sehingga menjadi salah satu kewajiban umat Islam untuk menunaikannya. Menurut Yusuf al-Qaradhawi, zakat merupakan ibadah maa'liyyah ijtima'iyyah yang memiliki posisi yang penting, strategis, dan juga menentukan, baik dari sisi agama Islam atau kesejahteraan umat. Tulis Dr. K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc. dalam buku Zakat dalam Perekonomian Modern.

Dalam buku Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf oleh Elsbeth Bauer, dijelaskan juga bahwa pengertian zakat secara syara' atau istilah adalah ibadah yang wajib dilaksanakan, dengan memberikan sejumlah (kadar tertentu) dari harta milik sendiri kepada mereka yang berhak menerimanya (ditentukan menurut syariat Islam).

Dalam Al-Quran sendiri pembahasan mengenai zakat salah satunya seperti dalam firman Allah surah At Taubah ayat 103:

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: "Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

Syarat Muzakki

Dalam zakat, orang yang menunaikan zakat disebut dengan muzakki. Kemudian orang yang menerimanya disebut mustahiq, dan mereka yang mengelolanya disebut dengan amil. Muzakki, atau orang yang berzakat sendiri memiliki beberapa syarat yang ditetapkan dalam Islam. Dalam buku Manajemen Pengelolaan Zakat oleh Dr. Nurfiah Anwar, syarat-syarat muzakki adalah:

1. Beragama Islam

Orang yang wajib menunaikan zakat adalah muslim atau muslimah. Mereka yang non-muslim tidak mempunyai kewajiban menunaikan zakat. Hal ini seperti sabda Rasulullah yang beliau sampaikan kepada Mu'adz bin Jabal saat akan diutus ke Yaman.

Perintah Rasulullah kepada Mu'adz, adalah mengajak ahli kitab beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bila telah beriman, Rasul memerintahkan Muadz menyampaikan bahwa diwajibkan atas mereka shalat lima waktu, dan dilanjutkan dengan perintah untuk berzakat.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa orang-orang kafir (non-muslim) tidak dibebani dengan kewajiban zakat walau harta kekayaan yang mereka miliki melimpah. Hal ini juga sesuai dengan firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 91:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ وَّمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ ࣖ ۔

Artinya: "Sesungguhnya, orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak memperoleh penolong."

2. Merdeka

Para hamba sahaya dikenal dalam sejarah dan sudah ada sejak zaman Rasulullah. Budak-budak pada masa tersebut berada dalam kekuasaan tuannya. Sehingga tuan bisa melakukan tindakan apapun kepada mereka seperti jual-beli budak. Oleh sebab itu, ahli fiqih sepakat bahwa hamba sahaya tidak dikenai kewajiban zakat.

Namun, zaman semakin berkembang dan orang dengan status hamba sahaya sudah tidak lagi ditemukan di zaman ini, yang ada hanyalah pekerja rumah tangga, pelayan toko, dan lain-lain yang mana keberadaan mereka mendapat upah atau gaji setiap bulannya. Mereka tergolong sebagai orang yang merdeka dan wajib menunaikan zakat.

Hal ini berdasarkan firman Allah surah Al-Baqarah ayat 267:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji."

Berdasarkan ayat tersebut, Quraish Shihab menegaskan bahwa ayat tersebut dimaksudkan untuk wajib mengeluarkan zakat dari hasil usaha, apapun bentuknya.

3. Baligh dan berakal

Aspek syarat ini bagi muzakki dikaji berdasarkan dua aspek. Yaitu aspek kepiawaian dalam bertindak karena anak-anak yang belum mencapai umur baligh, tampak belum dapat bertindak secara sempurna. Sama halnya orang yang tidak berakal atau gila.

Menurut mazhab Hanafi, tidak diwajibkan berzakat bagi anak-anak dan orang gila. Karena zakat termasuk salah satu ibadah mahdhah. Namun jumhur ulama berpendapat apabila anak-anal dan orang gila memiliki harta satu nisab atau lebih, maka wajib untuk berzakat.

Adapun pendapat lain, menurut Yusuf al-Qaradhawi, anak-anak dan orang gila masih diwajibkan berzakat karena zakat merupakan kewajiban yang bersangkutan dengan kekayaan. Pihak yang diminta mengeluarkan zakat sendiri adalah wali dari anak-anak maupun orang gila tersebut.

Demikianlah syarat-syarat muzaki yang harus muslim ketahui.



Simak Video "5 Rekomendasi Aplikasi Kalkulator Zakat"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)