Deretan Dalil Mengenai Infak dengan Ikhlas di Jalan Allah SWT

Deretan Dalil Mengenai Infak dengan Ikhlas di Jalan Allah SWT

Azkia Nurfajrina - detikHikmah
Selasa, 11 Okt 2022 17:24 WIB
Coins, rosary, Holy Quran and rice in the sack. Zakat concept. Zakat is a form of alm-giving as a religious obligation or tax. Large Arab word right method to read correctly.
Ilustrasi. Anjuran melakukan infak di jalan Allah SWT, ini deretan dalilnya. (Getty Images/iStockphoto/hilal abdullah)
Jakarta - Melakukan infak sebagian harta dan memberinya kepada orang yang tidak mampu merupakan amalan terpuji. Bila seorang hamba mengerjakan perbuatan tersebut, Allah SWT tentu akan memberi ganjaran.

Namun perlu digarisbawahi, amalan yang didasari keikhlasan semata mencari ridha Allah lah yang akan diterima dan diberi ganjaran olehNya.

Menurut buku Keutamaan, Zakat, Infak, Sedekah, infak berasal dari kata anfaqa atau mengeluarkan dan membelanjakan (harta atau uang). Syekh Al Jurjani mendefinisikan infak dalam kitab At Ta'rifat sebagai penggunaan harta untuk suatu hajat atau kebutuhan. Sementara secara istilah, infak adalah segala macam bentuk pengeluaran, baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, ataupun yang lain.

Allah memerintahkan hambaNya untuk berinfak demi kemaslahatan umat dari rezeki yang telah diberi. Karena hakikatnya, seluruh harta seorang muslim adalah milikNya.

Imam Bukhari, Ahmad, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda dengan menyampaikan firman Allah:

أنفق يا ابن آدم ينفق عليك

Artinya: "Berinfaklah, niscaya Aku akan menafkahimu." (HR Bukhari, Ahmad & Ibnu Majah).

Dengan mengeluarkan harta di jalanNya, seorang hamba tidak perlu khawatir akan kekurangan rezeki. Karena Allah sudah berjanji akan memberikan rezeki jika hamba tersebut berinfak.

Bahkan, orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah dianalogikan dalam surah Al-Baqarah ayat 261 seperti keadaan seorang petani yang menabur benih hingga tumbuh subur. Allah SWT berfirman,

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ .

Arab latin: Maṡalullażīna yunfiqụna amwālahum fī sabīlillāhi kamaṡali ḥabbatin ambatat sab'a sanābila fī kulli sumbulatim mi`atu ḥabbah, wallāhu yuḍā'ifu limay yasyā`, wallāhu wāsi'un 'alīm.

Artinya: Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.

Dikutip dari buku Tafsir Ayat-ayat Perumpamaan Masalah Aqidah dan Akhlak, ayat di atas mengandung makna bahwa seorang muslim yang menafkahkan atau menginfakkan hartanya di jalan Allah, maka Allah akan memberi balasan atas amalannya dengan ganjaran pahala yang berlipat ganda.

Dalam ayat lainnya yakni surah Al-Baqarah ayat 265-266, Allah memberikan dua perumpamaan lain bagi hambaNya yang berinfak.

وَمَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ وَتَثْبِيْتًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍۢ بِرَبْوَةٍ اَصَابَهَا وَابِلٌ فَاٰتَتْ اُكُلَهَا ضِعْفَيْنِۚ فَاِنْ لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗوَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ . اَيَوَدُّ اَحَدُكُمْ اَنْ تَكُوْنَ لَهٗ جَنَّةٌ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ لَهٗ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۙ وَاَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهٗ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاۤءُۚ فَاَصَابَهَآ اِعْصَارٌ فِيْهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ.

Arab latin: Wa maṡalullażīna yunfiqụna amwālahumubtigā`a marḍātillāhi wa taṡbītam min anfusihim kamaṡali jannatim birabwatin aṣābahā wābilun fa ātat ukulahā ḍi'faīn, fa il lam yuṣib-hā wābilun fa ṭall, wallāhu bimā ta'malụna baṣīr. A yawaddu aḥadukum an takụna lahụ jannatum min nakhīliw wa a'nābin tajrī min taḥtihal-an-hāru lahụ fīhā ming kulliṡ-ṡamarāti wa aṣābahul-kibaru wa lahụ żurriyyatun ḍu'afā`, fa aṣābahā i'ṣārun fīhi nārun faḥtaraqat, każālika yubayyinullāhu lakumul-āyāti la'allakum tatafakkarụn.

Artinya: Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan harta mereka untuk mencari ridha Allah dan memperteguh jiwa mereka adalah seperti sebuah kebun di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, lalu ia (kebun itu) menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, hujan gerimis (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Apakah salah seorang di antara kamu ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buah-buahan. Kemudian, datanglah masa tua, sedangkan dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu, kebun itu ditiup angin kencang yang mengandung api sehingga terbakar. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan(-nya).

Perumpamaan pertama yaitu gambaran bagi hambaNya yang mengeluarkan harta yang didasari keikhlasan akan diberi pahala berlimpah atas apa yang diinfakkan. Dan Allah juga mengisyaratkan untuk berinfak sesuai kemampuannya.

Untuk perumpamaan kedua adalah kiasan bagi hambaNya yang menginfakkan harta dengan tidak ikhlas, atau keinginan lain yang tidak mengharapkan ridha Allah, seperti riya. Yang mana pahala yang seharusnya didapat atas harta yang dikeluarkan, malah berujung sia-sia.



Simak Video "Massa Aksi Bela Al-Qur'an Ancam Demo Tiap Jumat, Jika..."
[Gambas:Video 20detik]
(rah/rah)