Wakaf: Pengertian, Hukum, Rukun, dan Keutamaannya

Wakaf: Pengertian, Hukum, Rukun, dan Keutamaannya

Kristina - detikHikmah
Rabu, 05 Okt 2022 12:49 WIB
Wakaf Al-Quran di Ponorogo
Wakaf Al-Qur'an, salah satu contoh wakaf yang dilakukan umat Islam. Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim
Jakarta - Wakaf adalah salah satu amal kebaikan yang termasuk sedekah jariyah. Orang yang mewakafkan hartanya akan tetap mendapatkan pahala sekalipun sudah meninggal dunia.

Amalan wakaf telah disyariatkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW dan diteruskan oleh para sahabat. Menurut sejarah, orang yang pertama kali melakukan wakaf adalah Abu Thalhah. Ia mewakafkan harta bendanya yang paling dicintai berupa sebidang kebun anggur untuk fakir miskin.

Pengertian Wakaf

Menurut buku Hukum Perwakafan di Indonesia karya Hujriman, wakaf berasal dari bahasa Arab "Waqofa-yaqifu-waqfa" yang artinya ragu-ragu, berhenti, memperlihatkan, memerhatikan meletakkan, mengatakan, mengabdi, memahami, mencegah, menahan, dan tetap berdiri.

Secara istilah wakaf adalah pemberian yang dilakukan dengan cara menahan dan menjadikannya bermanfaat untuk kemaslahatan umat. Adapun yang dimaksud dengan menahan adalah menghindarkan barang tersebut agar tidak diwariskan, dijual, dihibahkan, digadaikan, disewakan, dan sejenisnya.

Mundzir Qahf memberikan definisi wakaf secara sederhana yaitu memberikan harta atau pokok benda yang produktif terlepas dari campur tangan pribadi, menyalurkan hasil dan manfaatnya secara khusus sesuai dengan tujuan wakaf, baik untuk kepentingan perorangan, masyarakat, agama, atau umum.

Contoh wakaf antara lain mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid sebagai sarana ibadah, mewakafkan rumahnya untuk kegiatan pembelajaran (menuntut ilmu), memberikan kebunnya untuk pembuatan jalan dan lain sebagainya.

Hukum Wakaf

Hukum wakaf adalah sunnah muakkad atau amalan sunnah yang dianjurkan. Sebab, wakaf merupakan sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun orang yang mewakafkan atau wakif telah wafat. Demikian menurut pendapat para ulama.

Salah satu dalil yang menguatkan anjuran wakaf adalah firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 92,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ ٩٢

Artinya: "Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya."

Rukun Wakaf

Merangkum berita detikHikmah, Hamdan Rasyid dan Saiful Hadi El-Suth mengatakan dalam buku Panduan Muslim Sehari-hari, ada empat rukun wakaf yang perlu diketahui umat Islam.

1. Pewakaf (Wakif)

Syarat menjadi wakif harus sudah baligh, berakal sehat, dan pemilik sah atas barang yang diwakafkan. Selain itu, tidak terdapat paksaan ketika mewakafkan dan tidak ada larangan baginya untuk mewakafkan harta tersebut.

2. Harta yang Diwakafkan (Mauquf)

Barang yang dapat diwakafkan adalah barang yang kepemilikannya sah dan halal. Baik yang dapat dipindahkan seperti, buku, kendaraan, dan lainnya maupun yang tidak dapat dipindahkan seperti, tanah atau rumah.

3. Penerima Wakaf (Mauquf 'alaih)

Penerima perorangan harus disebutkan namanya. Namun, bila tidak disebutkan maka harta wakaf diserahkan kepada para fakir miskin. Penerima wakaf juga tidak memiliki kepemilikan pribadi pada harta kecuali pemanfaatannya saja.

4. Pernyataan Wakaf (Sighat)

Sighat ini wajib dilakukan oleh pihak yang mewakafkan. Sebagian ulama juga berpendapat, sighat dapat dinyatakan dalam bentuk lafaz atau ucapan maupun tulisan dari si pewakaf.

Sebaik-baiknya, pengikraran wakaf disaksikan oleh sekurang-kurangnya di hadapan dua saksi. Bahkan lebih baik lagi bila ada di hadapan notaris dan disertifikatkan.

Keutamaan Wakaf

Salah satu keutamaan wakaf adalah mendapatkan pahala jariyah sebagaimana disinggung pada pembahasan sebelumnya. Allah SWT berfirman dalam surah Al Hadid ayat 7,

اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاَنْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَنْفَقُوْا لَهُمْ اَجْرٌ كَبِيْرٌۚ ٧

Artinya: "Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari apa yang Dia (titipkan kepadamu dan) telah menjadikanmu berwenang dalam (penggunaan)-nya. Lalu, orang-orang yang beriman di antaramu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang sangat besar."

Kemudian, Allah SWT juga akan melipatgandakan ganjaran bagi orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya,

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ٢٦١

Artinya: "Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui." (QS Al Baqarah: 261)

Rasulullah SAW sendiri juga telah menjelaskan mengenai keutamaan wakaf. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

"Sesungguhnya yang didapati oleh orang yang beriman dari amalan dan kebaikan yang ia lakukan setelah ia mati adalah, ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan, anak shalih yang ia tinggalkan, mushaf Al-Qur'an yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah bagi ibnu sabil (musafir yang terputus perjalanan) yang ia bangun, sungai yang ia alirkan, sedekah yang ia keluarkan dari harta ketika ia sehat dan hidup, semua itu akan dikaitkan dengannya setelah ia mati." (HR. Ibnu Majah)

Simak Video "Remaja di Jambi Diamuk Warga Usai kepergok Curi Kotak Amal Masjid"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/lus)