Kapan Waktu Tepat Mandi Wajib Setelah Haid? Ini Penjelasannya

Kapan Waktu Tepat Mandi Wajib Setelah Haid? Ini Penjelasannya

Devi Setya - detikHikmah
Senin, 16 Jan 2023 13:15 WIB
Young beautiful muslim women open palm, peaceful praying in mosque.
Ilustrasi perempuan muslim berdoa saat hendak mandi wajib haid Foto: Getty Images/iStockphoto/Rachaphak
Jakarta - Haid merupakan bagian dari siklus organ tubuh wanita yang terjadi secara teratur dan berulang. Ketika haid, seorang wanita muslim tak boleh menjalani beberapa ibadah. Barulah ketika haid selesai bisa beribadah kembali dengan diawali mandi wajib.

Seorang wanita yang telah baligh atau dewasa akan mengalami siklus haid. Secara normal, darah haid akan keluar setiap bulannya. Meskipun pada beberapa wanita terkadang mengalami perbedaan jeda waktu haid.

Selain mengeluarkan darah haid, seorang wanita juga mengeluarkan darah nifas dan istihadah. Ketiga darah tersebut memiliki hukum yang berbeda. Seorang muslimah harus bisa membedakan ketiganya karena berkaitan dengan ibadah yang akan dikerjakan.

Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman tentang darah haid yang disebutkan sebagai kotoran. Sebagaimana tertulis dalam surat Al-Baqarah ayat 222:

وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَٱعْتَزِلُوا۟ ٱلنِّسَآءَ فِى ٱلْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ

Arab-Latin: Wa yas`alụnaka 'anil-maḥīḍ, qul huwa ażan fa'tazilun-nisā`a fil-maḥīḍi wa lā taqrabụhunna ḥattā yaṭ-hurn, fa iżā taṭahharna fa`tụhunna min ḥaiṡu amarakumullāh, innallāha yuḥibbut-tawwābīna wa yuḥibbul-mutaṭahhirīn

Artinya: "Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: "Haid itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."

Pahami Siklus Haid

Mengutip buku Ladang-ladang Pahala bagi Wanita oleh Umi Hasunah Ar-Razi, dijelaskan bahwa seorang wanita harus memahami siklus haid yang dialami. Dengan demikian, ia dapat menentukan ibadah yang dapat dikerjakannya.

Bagaimana cara mengetahui siklus haid? Untuk mengetahui siklus haid, kita harus mempelajari pengetahuan tentang haid dan istihadah. Sebab, istihadah atau kelainan (penyakit) dapat menyebabkan seorang wanita tidak mengalami haid.

Berkaitan dengan siklus haid, para ulama memiliki pendapat masing-masing. Sebagian ulama menjelaskan bahwa batasan minimum haid, yaitu sehari semalam. Dengan catatan, darah yang keluar dari rahim wanita tidak
pernah terputus (terus-menerus).

Sementara, sebagian ulama lain mengatakan bahwa haid normal terjadi selama 6-7 hari. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa haid harus terjadi selama 15 hari 15 malam. Sehingga, jika seorang wanita mengalami haid selama 16 hari bahkan lebih, maka darah yang keluar bukanlah haid, melainkan istihadah.

Lazimnya, seorang wanita akan mengalami haid sekitar satu sampai dua kali dalam sebulan. Dalam hal ini, para ulama sepakat bahwa seorang wanita akan mengalami masa suci sedikitnya 15 hari.

Sebagai perumpamaan, seorang wanita mengalami haid pada tanggal 10-15 Agustus, sehingga di hari berikutnya, yakni 16-30 Agustus, ia telah suci dan tidak akan mengalami haid. Namun, jika pada 25 Agustus ia mengalami haid lagi, maka darah yang keluar bukanlah
darah haid, melainkan istihadah.

Seorang wanita yang mengalami haid setidaknya mengeluarkan darah selama 24 jam. Jika seorang wanita mengalami haid selama 15 hari, tetapi darah yang keluar terputus-putus atau pada jam-jam tertentu, maka darah tersebut dianggap sebagai istihadah, bukan haid.

Sebaliknya, apabila seorang wanita mengalami haid selama dua jam dalam sehari, maka darah itu dianggap sebagai haid. Sebab, waktu tersebut telah memenuhi batas minimal haid, yakni 24 jam.

Selain haid terputus-putus, seorang wanita juga dapat dikatakan mengalami haid jika ia mengeluarkan darah selama tujuh jam dalam siklus melompat-lompat. Misalnya, pada hari pertama, seorang wanita mengalami haid selama tujuh jam. Kemudian, di hari kedua dan ketiga, ia tidak mengeluarkan darah sama sekali. Namun, pada hari keempat dan kelima, ia mengeluarkan darah selama 10 dan 8 jam. Dalam hal ini, jika durasi darah yang keluar kurang dari 24 jam, maka dalam hukum Islam-darah tersebut dianggap bukan haid, melainkan istihadah.

Waktu Tepat untuk Mandi Wajib Setelah Haid

Setelah mengetahui siklus haid, hal lain yang tak kalah penting untuk diketahui ialah masa berakhirnya haid. Sebab, hal tersebut berkaitan erat dengan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang wanita, seperti menjalankan mandi besar, sholat, dan mengerjakan amalan yang lain.

Cara yang paling mudah untuk mengetahui masa berakhirnya haid ialah mengingat waktu awal keluarnya haid. Pada umumnya, seorang wanita akan mengalami haid selama 6-7 hari. Sehingga, dapat diasumsikan bahwa pada bulan berikutnya, ia akan mengalami rentang waktu haid yang sama.

Untuk memastikan bahwa darah haid telah berhenti keluar, Aisyah -istri Rasulullah- dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari menyarankan agar setiap wanita menggunakan kapas untuk melihatnya. Caranya, kapas bersih dimasukkan ke kemaluan. Apabila pada kapas itu terdapat bercak berwarna merah, cokelat, ataupun kekuningan, maka bisa dipastikan bahwa ia masih mengalami haid. Namun, jika kapas tersebut berwarna putih, maka ia telah suci dan berkewajiban untuk mandi besar.

Bacaan niat mandi wajib setelah haid

Berikut bacaan doa mandi wajib setelah haid,

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى

Bacaan latin: Nawaitul ghusla lifraf il hadatsil akbari minal haidil lillahi ta'ala

Artinya: "Saya berniat mandi wajib untuk mensucikan hadas besar dari haid karena Allah Ta'ala."

Mandi saat Istihadhah

Dikutip dalam Ensiklopedia Fikih Indonesia 3: Taharah oleh Ahmad Sarwat, Lc, M.A, wanita yang mengeluarkan darah istihadah dari kemaluannya tetap diwajibkan mengerjakan sholat lima waktu. Sebab, darah istihadah bukan darah haid atau nifas, sehingga tidak ada larangan baginya mengerjakan sholat.

Status darah istihadhah hanyalah darah penyakit yang tidak menggugurkan kewajiban sholat. Sebelum sholat dianjurkan untuk membersihkan kemaluan, kemudian menyumbat dan membalut kemaluannya, setelah itu wudhu dan sholat.

Hal ini merupakan bentuk kehati-hatian agar sholat yang notabenenya ibadah kepada Allah swt selalu dilaksanakan dalam keadaan suci dan terhindar dari najis.

Syekh Wahbah Zuhaili menyebutkan bahwa mayoritas ulama berpendapat mandi bagi perempuan istihadhah di setiap hendak shalat adalah sunnah, bukan wajib.

"Disunnahkan bagi perempuan istihadhah, bagi kalangan mazhab Maliki dan Hambali, begitu juga Hanafi dan Maliki (dengan derajat sunnah yang lebih rendah) untuk mandi setiap sholat, berdasarkan hadis sebelumnya dalam bab mandi sunnah (Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia berkata, "Sesungguhnya Ummu Ḥabībah menderita istihadah selama tujuh tahun. Lantas ia bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai hal itu. Beliau menyuruhnya untuk mandi. (Aisyah) berkata, "Ia pun mandi setiap (mau) sholat.")

Berdasarkan hadits ini, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mandi bagi perempuan istihadhah setiap hendak sholat adalah sunnah yang dilakukan secara sukarela, tidak wajib.

Simak Video "Cuti Haid & Melahirkan Tetap Berlaku Meski Tak Ada di Perppu Ciptaker"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/lus)