Kisah Aisyah, Istri Nabi Muhammad SAW yang Pencemburu

Kisah Aisyah, Istri Nabi Muhammad SAW yang Pencemburu

Devi Setya - detikHikmah
Senin, 14 Nov 2022 12:46 WIB
Arab woman with veil against orange yellow sky
ILustrasi Aisyah Istri Nabi Muhammad yang Cemburu Foto: Getty Images/iStockphoto/vanbeets
Jakarta - Kebanyakan wanita memiliki sifat cemburu pada pujaan hatinya. Demikian juga dengan Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW yang dikenal cemburuan.

Nabi Muhammad SAW selama hidupnya diketahui memiliki 13 orang istri. Dari seluruhnya, hanya satu yang dinikahi dalam keadaan gadis yakni Aisyah binti Abu Bakar. Selebihnya, istri Nabi Muhammad SAW adalah seorang janda.


Nabi Muhammad SAW menikahi Aisyah di bulan Syawal. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Aku melihatmu (Aisyah) dalam mimpiku selama tiga malam. Malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih. Malaikat itu berkata, 'Ini adalah istrimu'. Lalu kusingkapkan penutup wajahmu, ternyata itu adalah dirimu. Aku bergumam, 'Seandainya mimpi ini datangnya dari Allah, pasti akan menjadikannya nyata'."(HR. Bukhari dan Muslim)

Aisyah Sosok Istri yang Pencemburu

Dikutip dari buku Manajemen Cinta Sang Nabi Muhammad SAW oleh Sopian Muhammad, seluruh istri Nabi Muhammad SAW ini saling berlomba mendapatkan perhatian sang suami. Namun ada yang sikapnya dianggap berlebihan sehingga Nabi Muhammad SAW pun kerap gusar dibuatnya.

Sosok itu adalah Aisyah. Oleh Rasulullah SAW, Aisyah memiliki panggilan sayang yakni "yang kemerah-merahan" karena kulitnya yang putih dan merona kemerahan.

Dalam sebuah riwayat, Aisyah berkata, ".. Dialah Zainab binti Jahsy yang selalu bersaing denganku untuk mengambil tempat di hati Rasulullah SAW." (HR. Muslim).

Zainab binti Jahsy hanyalah salah satu istri Nabi yang dicemburui Aisyah di samping beberapa istri Nabi lainya. Aisyah juga pernah cemburu kepada Hafsah.

Aisyah pernah berkata, "Rasulullah SAW senang madu dan sesuatu yang manis-manis. Setiap kali selesai melakukan shalat Ashar beliau biasanya menemui istri-istrinya. Tatkala datang giliran Hafsah, beliau lama sekali berada di sisinya sehingga kecemburuanku muncul."

Cemburu kepada Khadijah yang Telah Wafat

Bahkan Khadijah yang sudah meninggal dunia pun tak luput dari sikap cemburu Aisyah.

Kecemburuan Aisyah terhadap istri pertama Rasulullah SAW yang telah wafat, Khadijah, hanya karena beliau sering menyebut namanya, memuji keluhuran akhlaknya, serta mengenang kebersamaannya.

"Khadijah hanyalah seorang perempuan tua, dan Allah telah memberi gantinya untuk engkau seorang perempuan yang lebih baik darinya" tegas Aisyah.

Perkataan Aisyah ini kemudian ditepis oleh Rasulullah SAW yang ingin membela Khadijah agar tak ada yang menjelek-jelekkannya. Apalagi Aisyah berkata demikian tanpa alasan yang jelas dan hanya karena api cemburu.

"Tidak! Allah tidak memberikan pengganti untukku yang lebih baik darinya. la sungguh-sungguh beriman tatkala orang-orang mengingkariku. la membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku. la membantuku dengan harta bendanya, di saat orang-orang menjauhi dan memboikotku. Darinya Allah mengaruniakan anak kepadaku," bela Nabi menanggapi kecemburuan Aisyah.

Sikap yang diperlihatkan Rasulullah SAW ini mencerminkan dalamnya cinta dan keutamaan beliau karena senantiasa menjaga nama baik dan kehormatan istri.

Dengan membela Khadijah, bukan berarti Rasulullah SAW kemudian menyudutkan Aisyah. Ini adalah proses pembelajaran yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mencintai semua istrinya dan akan menjaga kehormatan sang istri meskipun telah tiada.

Cemburu Saat Malam Nisfu Syaban

Cemburunya Aisyah juga pernah dikisahkan saat suatu malam Rasulullah SAW tidak berada di sampingnya, padahal malam itu adalah haknya.

Aisyah kemudian mendatangi tempat para istri Rasulullah SAW yang lain namun tak juga mendapati keberadaan sang suami. Sampai akhirnya Aisyah menemui Rasulullah SAW tengah berada di masjid.

Melihat sang istri mencarinya, Rasulullah SAW pun berkata, "Kau cemburu lagi Aisyah? Apakah kamu khawatir, Allah dan Rasul-Nya akan berbuat aniaya padamu? Ini malam Nisfu Syaban, Aisyah?"

Rasulullah SAW ingin mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah SWT adalah hal yang penting dan harus diutamakan.

Dalam menghadapi sifat cemburu Aisyah, Rasulullah SAW tidak pernah berkata kasar dan selalu bersikap lemah lembut. Hal inilah yang menjadi tauladan bahwa Rasulullah SAW menunjukkan rasa cinta pada seluruh istrinya tanpa pilih kasih.

Simak Video "Curhat Andien Aisyah Pernah Alami Kekerasan oleh Mantan Pacar"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/erd)