Sunat Perempuan dalam Islam, Begini Penjelasan Hukumnya

Sunat Perempuan dalam Islam, Begini Penjelasan Hukumnya

Rahma Harbani - detikHikmah
Kamis, 03 Nov 2022 07:00 WIB
Arab woman with veil against orange yellow sky
Ilustrasi wanita muslim. Bagaimana hukum sunat perempuan dalam Islam? (Foto: Getty Images/iStockphoto/vanbeets)
Jakarta - Khitan atau sunat sudah menjadi kebiasaan yang dikenal muslim bahkan sejak zaman para nabi terdahulu. Sunat juga termasuk dalam perkara yang difitrahkan untuk manusia sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْآبَاطِ

Artinya: "(Sunnah) fitrah ada lima, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur bulu ketiak, memendekkan kumis, dan memotong kuku." (HR Bukhari dan Muslim).

Untuk itulah, sunat juga disyariatkan bagi muslim untuk menjaga kebersihan tubuh. Syariat sunat sendiri berawal dari Nabi Ibrahim AS yang kemudian dilanjutkan oleh para nabi setelahnya, termasuk Nabi Muhammad SAW.

اختتن إبراهيم عليه السلام وهو ابن ثمانين سنة بالقدوم

Artinya: Rasulullah SAW bersabda, "Ibrahim al Khalil berkhitan setelah mencapai usia 80 tahun dan beliau berkhitan menggunakan kapak,"(HR Bukhari dan Muslim).

Dikutip dari buku Ritual dan Tradisi Islam Jawa karya Muhammad Sholikhin, Nabi Muhammad SAW pun melakukan sunat terhadap cucunya yakni Hasan dan Husen saat keduanya berusia 7 hari. Syariat sunat kemudian diteruskan oleh para sahabat, tabi'in, tabi'al-tabi'in pada masa berikutnya hingga saat ini.

Adapun yang menjadi pertanyaan, syariat sunat ini kurang familiar anjurannya di kalangan perempuan muslim. Sebetulnya, bagaimana Islam mengatur hukum sunat bagi perempuan?

Sunat Perempuan dalam Islam

Sunat bagi perempuan adalah memotong bagian paling bawah dari kulit yang terdapat di bagian atas kemaluan. Tujuan sunat bagi perempuan dalam Islam adalah menstabilkan syahwat seperti dijelaskan Fikih Sunnah Wanita karangan Abu Malik Kamal ibn Sayyid Salim.

Sementara hukum melakukannya adalah makrumah atau bertujuan untuk memuliakan perempuan tersebut. Dengan kata lain, tidak ada kewajiban yang dibebankan bagi perempuan muslim untuk itu.

Ibnu Qudamah dalam Kitab al Mughni pernah menjelaskan hukum sunat perempuan dalam Islam. "Adapun khitan (atau sunat), maka ia wajib bagi laki-laki, dan bagi perempuan ia adalah kemuliaan. Ini merupakan pendapat sebagian besar ulama," tulisnya.

Dalil yang menjadi landasan pendapat ini adalah hadits Ibnu Abbas marfu` kepada Rasulullah SAW,

الخِتانُ سُنَّةٌ لِلرِّجالِ، مَكرُمَةٌ لِلنِّساءِ

Artinya: Khitan itu sunnah buat laki-laki dan kemuliaan bagi perempuan." (HR Ahmad dan Baihaqi).

Sebetulnya, tidak ada keterangan hadis yang menegaskan perintah sunat untuk perempuan. Sebaliknya, hanya ada dalil yang menerangkan petunjuk dan tata cara pelaksanaan sunat bagi perempuan.

Salah satunya, hadits Ummu 'Athiyah RA, seorang perempuan yang berprofesi sebagai pelaku sunat anak perempuan di Madinah. Lalu, Rasulullah SAW pun mengatakan hal berikut,

لا تُنهِكي فإنَّ ذلك أحظى للمرأةِ وأحبُ إلى البَعل

Artinya: "Janganlah engkau habiskan semua, karena sesungguhnya hal itu akan lebih baik bagi wanita dan lebih disukai para suami." (HR Abu Dawud).

Meski demikian, jalur-jalur periwayatann hadits di atas masih dinilai memiliki mata rantai transmisi yang lemah. Namun, hadits tersebut dishahihkan oleh al Bani dalam as Silsilah ash Shahihah.

Berdasarkan hadits di atas, cara sunat pada perempuan harus diperhatikan yakni, cukup dengan hanya menghilangkan selaput (jaldah/ colum/ praeputium) yang menutupi klitoris dan tidak boleh berlebihan, seperti memotong atau melukai klitoris (insisi dan eksisi).

Lebih lanjut, melansir dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), cara sunat pada perempuan yang dijelaskan dalam hadits tersebut juga hanya berlaku pada perempuan yang masih kecil. Sebab, tidak ada dalil yang menunjukkan adanya sunat pada perempuan dewasa.

Simak Video "Kecam Aksi Rasmus Paludan, Umat Islam di Ciamis Bakar Bendera Denmark"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/lus)