Ini Perbedaan Antara Mahram dan Muhrim, Jangan Keliru!

Ini Perbedaan Antara Mahram dan Muhrim, Jangan Keliru!

Azkia Nurfajrina - detikHikmah
Senin, 31 Okt 2022 15:45 WIB
Mahasiswi sebuah universitas di Arab Saudi boleh pergi sendiri tanpa didampingi mahram
Perbedaan mahram dan muhrim. Foto: BBC World
Jakarta -

Pemakaian kata mahram dan muhrim seringkali keliru lantaran salah dalam memahami makna keduanya. Banyak yang menyangka bahwa mahram dan muhrim adalah dua kata yang punya kesamaan arti. Padahal tidak, keduanya punya arti yang berbeda.


Banyak dari masyarakat Indonesia yang memakai kata muhrim alih-alih kata mahram. Misal dalam kalimat, "Maaf, jangan terlalu dekat, bukan muhrim". Dalam konteks kalimat itu, kata yang harusnya dipakai adalah mahram, bukan muhrim.


Mahram dan muhrim dalam tulisan bahasa Arab punya huruf yang sama, tetapi harakat yang berbeda. Untuk itu alangkah baiknya untuk mengetahui perbedaan di antara keduanya.


Muhrim

Dilansir dari buku Haram Tapi Bukan Mahram oleh Hanif Luthfi, asal kata muhrim adalah ahrama-yuhrimu-ihraman artinya 'mengerjakan ibadah ihram'. Muhrim adalah adalah orang yang sedang mengerjakan ibadah ihram, baik haji maupun umrah.


Ketika jamaah haji dan umrah telah memasuki daerah miqat (batas dimulai dan berhentinya perintah ihram), kemudian seseorang mengenakan pakaian ihramnya, serta menghindari semua larangan ihram, maka orang itu adalah disebut muhrim.


Mahram

Dalam sumber yang sama disebutkan, asal kata mahram adalah haram, lawan kata halal. Maksudnya adalah sesuatu yang terlarang dan tidak boleh dilakukan.


Kamus Al-Mu'jam Al-Wasith menjelaskan bahwa al-mahram adalah dzul-hurmah yaitu wanita yang haram dinikahi.


Mengutip Ensiklopedi Fikih Indonesia: Pernikahan oleh Ahmad Sarwat, ulama fikih mengartikan mahram sebagai wania yang diharamkan untuk dinikahi secara permanen, baik karena faktor kerabat, penyusuan atau pun berbesanan.


Imam Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim menerangkan hakikat wanita yang termasuk mahram:


'Hakikat wanita yang termasuk mahram dimana boleh seorang laki-laki boleh melihat, khalwat (berduaan), bepergian dengannya, adalah wanita yang haram dinikahi selamanya karena sebab yang mubah, karena statusnya yang haram.'


Mahram adalah perempuan yang haram untuk dinikahi selamanya. Sebagaimana dalam firman Allah dalam Al-Qur'an, Surah An-Nisa ayat 23.


حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهٰتُكُمْ وَبَنٰتُكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ وَعَمّٰتُكُمْ وَخٰلٰتُكُمْ وَبَنٰتُ الْاَخِ وَبَنٰتُ الْاُخْتِ وَاُمَّهٰتُكُمُ الّٰتِيْٓ اَرْضَعْنَكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَاُمَّهٰتُ نِسَاۤىِٕكُمْ وَرَبَاۤىِٕبُكُمُ الّٰتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِّنْ نِّسَاۤىِٕكُمُ الّٰتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّۖ فَاِنْ لَّمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ ۖ وَحَلَاۤىِٕلُ اَبْنَاۤىِٕكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ اَصْلَابِكُمْۙ وَاَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الْاُخْتَيْنِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا


Arab Latin: ḥurrimat 'alaikum ummahātukum wa banatukum wa akhawātukum wa 'ammātukum wa khālātukum wa banatul-akhi wa banatul-ukhti wa ummahātukumullātī arḍa'nakum wa akhawātukum minar-raḍā'ati wa ummahātu nisā`ikum wa raba`ibukumullātī fī ḥujụrikum min-nisā`ikumullātī dakhaltum bihinna fa il lam takụnụ dakhaltum bihinna fa lā junāḥa 'alaikum wa ḥalā`ilu abnā`ikumullażīna min aṣlābikum wa an tajma'ụ bainal-ukhtaini illā mā qad salaf, innallāha kāna gafụrar raḥīmā


Artinya: "Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara perempuan ayahmu, saudara-saudara perempuan ibumu, anak-anak perempuan dari saudara laki-lakimu, anak-anak perempuan dari saudara perempuanmu, ibu yang menyusuimu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu istri-istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum bercampur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), tidak berdosa bagimu (menikahinya), (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan pula) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali (kejadian pada masa) yang telah lampau. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."


Tafsir Kemenag memberi keterangan terkait ibu pada awal ayat, yakni ibu, nenek, dan seterusnya ke atas. Sementara anak perempuan yaitu anak perempuan, cucu perempuan, dan seterusnya ke bawah.


Sebagian besar ulama memberi maksud dari 'anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu' termasuk juga anak tiri yang tidak dalam penjagaan atau perawatannya.


Surah An-Nisa ayat 23 disebutkan dalam Ensiklopedi Fikih Indonesia: Pernikahan, menjelaskan wanita yang haram dinikahi seorang istri selamanya adalah mahram sebab hubungan nasab, pernikahan (besan), dan persusuan.


Nasab atau ikatan darah, mencakup: ibu kandung, anak-anak perempuan, saudari kandung, saudari bapak, saudari ibu, keponakan dari saudara laki-laki, dan keponakan dari saudara perempuan.


Pernikahan atau hubungan besan, termasuk: ibu dari istri (mertua wanita), anak perempuan dari istri (anak tiri), istri dari anak laki-laki (menantu), istri dari ayah (ibu tiri).


Persusuan. Anak bisa disusukan dengan wanita lain selain ibunya. Keterkaitan anak dengan wanita lain yang menyusinya (ibu susu) disebut hubungan persusuan atau radha'ah.


Dalam ayat di atas yang termasuk mahram karena persusuan adalah perempuan yang menyusui (ibu susu) dan saudari sepersusuan.


Masih dari buku Haram Tapi Bukan Mahram, ada juga perempuan yang haram dinikahi tapi tidak selamanya atau sementara, seperti adik istri atau bibi istri.


Adik istri dan bibi istri tidak boleh untuk dinikahi sementara, karena bila istri meninggal atau dicerai, suami boleh menikahi adiknya atau bibinya.


Dengan begitu perbedaan antara mahram dan muhrim terletak pada artinya. Yang mana mahram adalah wanita yang haram dinikahi, baik selamanya atau sementara. Sedangkan muhrim merupakan orang yang melaksanakan ibadah ihram, haji maupun umrah.


Sekiranya penjelasan di atas cukup untuk memberi perbedaan di antara keduanya. Dengan harapan ke depannya tak ada lagi yang salah dalam memaknai konteks kata.



Simak Video "Massa Aksi Bela Al-Qur'an Ancam Demo Tiap Jumat, Jika..."
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)