Saat Masa Iddah Bolehkah Wanita Keluar Rumah? Ini Jawabannya

Saat Masa Iddah Bolehkah Wanita Keluar Rumah? Ini Jawabannya

Awalia Ramadhani - detikHikmah
Jumat, 14 Okt 2022 18:25 WIB
Ilustrasi wanita muslim melakukan sujud
Masa Iddah. Foto: Getty Images/iStockphoto/Rawpixel
Jakarta - Mengutip buku Fikih Sunnah Jilid 4 karya Sayyid Sabiq, salah satu kewajiban perempuan saat menjalani masa iddah dalam Islam adalah ia tidak diperbolehkan keluar dari rumah suami, sang suami juga tidak diperbolehkan untuk menyuruh istri keluar dari rumahnya. Hal ini juga tertuang dalam firman Allah surah At-Thalaq ayat 1 yaitu:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَطَلِّقُوْهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَاَحْصُوا الْعِدَّةَۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ رَبَّكُمْۚ لَا تُخْرِجُوْهُنَّ مِنْۢ بُيُوْتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍۗ وَتِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهٗ ۗ لَا تَدْرِيْ لَعَلَّ اللّٰهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذٰلِكَ اَمْرًا

Artinya: "Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu iddah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas. Itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru."

Akan tetapi, ulama fikih memiliki pandangan yang berbeda terkait persoalan saat masa iddah dalam Islam apakah boleh keluar rumah? Mengutip referensi yang sama, inilah beberapa pandangan ulama fikih terkait hal tersebut:

1. Madzhab Hanafi

Dalam madzhab Hanafi, perempuan yang ditalak raj'i dan talak ba'in tidak boleh keluar dari rumahnya, baik pada siang atau malam hari. Hal ini dikarenakan bahwa perempuan yang ditalak masih dalam tanggungan nafkah suaminya.

Sedangkan untuk perempuan yang suaminya meninggal, maka dia boleh keluar rumah pada waktu siang hari dan awal malam. Namun ia tidak diperkenankan untuk menginap di rumah orang lain. Hal ini memungkinkan karena perempuan tersebut harus mencari nafkah saat siang, karena sudah tidak ada yang menafkahinya lagi.

2. Madzhab Hambali

Menurut madzhab Hambali, perempuan yang sedang menjalani masa iddah karena ditalak atau ditinggal mati suaminya, boleh keluar rumah pada waktu siang hari. Ibnu Qudamah, seorang ulama fikih berkata:

"Perempuan yang menjalani masa iddah diperbolehkan keluar untuk mencari sesuatu demi memenuhi kebutuhannya, baik masa iddah karena talak atau karena suaminya meninggal dunia"


Dalam Riwayat lain, Jabir berkata "Bibiku dari pihak ibu ditalak tiga kali oleh suaminya, lalu ia keluar rumah untuk memotong kurma miliknya. Ketika itu, dia ditemui seorang laki-laki dan melarangnya melakukan apa yang sedang dilakukannya. Lantas ia menceritakan apa yang terjadi pada Rasulullah SAW, beliau kemudian bersabda 'keluarlah untuk memotong kurma milikmu, barangkali engkau ingin bersedekah dengan kurma itu atau berbuat amal kebaikan' " (HR Nasai dan Abu Daud)

3. Madzhab Syafi'i

Berdasarkan madzhab syafi'i dalam buku Ringkasan Fiqih Madzhab Syafi'i oleh Dr. Musthafa Dib Bugha, perempuan yang suaminya meninggal dan yang ditalak ba'in, harus tinggal di dalam rumah serta tidak boleh keluar kecuali ada kebutuhan. Hal ini kurang lebih sama dengan pendapat madzhab Hanbali.

Maksudnya adalah istri yang ditalak ba'in dan talak raj'i harus tinggal di dalam rumah, tetapi tidak diwajibkan menahan diri dari berhias. Sebab, keduanya tidak sedang dalam keadaan berkabung.

Kewajiban menetap di rumah bagi perempuan yang sedang dalam masa iddah karena talak, menurut madzhab ini adalah menjadi qiyas (analogi hukum) bagi perempuan yang ditinggal mati suaminya karena persamaan mereka dalam hal memperoleh nafkah dari suami.

Dalam Madzhab Syafi'i dan Hanbali juga menyatakan bahwa perempuan yang masih dalam masa iddah (baik iddah karena talak atau kematian suami) dibolehkan keluar rumah jika keadaannya mengharuskan.

Keadaan tersebut seperti mengurusi keperluan hidupnya, atau melaksanakan tugasnya sehari-hari, misalnya jika perempuan tersebut merupakan seorang guru, petani, pedagang, dan sebagainya. Hal ini dikutip dari buku Fiqih Praktis karya Muhammad Bagir

Demikianlah penjelasan mengenai persoalan saat masa iddah dalam Islam terkait apakah boleh keluar rumah, semoga sedikit memberi hikmah dan pembelajaran bagi kita semua.



Simak Video " Menaksir Harga Rumah Mewah Ibu Eny di Jaktim"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)