Apa Saja Kewajiban Suami Terhadap Istrinya?

Apa Saja Kewajiban Suami Terhadap Istrinya?

Azkia Nurfajrina - detikHikmah
Rabu, 12 Okt 2022 09:17 WIB
Close up Bride and groom hand in hand, Indonesian Wedding Tradition Ceremony
Ilustrasi pernikahan.Apa Saja Kewajiban Suami Terhadap Istrinya? (Foto: Getty Images/iStockphoto/Heri Mardinal)
Jakarta -

Islam mengatur kewajiban suami dan istri dalam rumah tangga. Dalam pernikahan, pasangan suami-istri memiliki peran dan tugas masing-masing. Untuk menjaga kerukunan rumah tangga, hal-hal tersebut menjadi kewajiban yang harus dikerjakan di antara keduanya.

Dikutip dari buku Panduan Lengkap Muamalah karya Muhammad al-Baqir, kewajiban seorang suami terbagi dua terhadap istrinya; berupa materi, dan bersifat non-materi.


Kewajiban Suami Berupa Materi


Pertama, mahar atau mas kawin. Dalam Islam, pemberian mahar merupakan hal wajib, yang mana sebagai simbol pemberian penghargaan kepada istri yang telah bersedia menjadi pendampingnya. Sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 4.


وَاٰتُوا النِّسَاۤءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً ۗ فَاِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْۤـًٔا مَّرِيْۤـًٔا.


Arab Latin: Wa ātun-nisā`a ṣaduqātihinna niḥlah, fa in ṭibna lakum 'an syai`im min-hu nafsan fa kulụhu hanī`am marī`ā.


Artinya: Berikanlah mas kawain (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka memberikan kepada kamu sebagian dari (mas kawin) itu dengan senang hati, terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.


Mahar merupakan hak mutlak istri. Tak ada siapa pun yang boleh menggunakan mahar tersebut untuk suatu keperluan, kecuali dengan izinnya.


Dengan diberikannya mahar saat akad, berarti sang suami memiliki tanggung jawab penuh terhadap istri, anak-anak, dan keluarganya.


Kedua, kewajiban suami selanjutnya yakni memberi nafkah untuk istrinya. Nafkah di sini dimaksudkan untuk memenuhi keperluan, seperti makanan, pakaian, rumah dan perabotnya.


Firman Allah dalam Surah Ath-Thalaq ayat 7 menjelaskan untuk memberi nafkah sesuai kemampuannya.


لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖۗ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهٗ فَلْيُنْفِقْ مِمَّآ اٰتٰىهُ اللّٰهُ ۗ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا مَآ اٰتٰىهَاۗ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًا.


Arab Latin: Liyunfiq żụ sa'atim min sa'atih, wa mang qudira 'alaihi rizquhụ falyunfiq mimmā ātāhullāh, lā yukallifullāhu nafsan illā mā ātāhā, sayaj'alullāhu ba'da 'usriy yusrā.


Artinya: Hendaklah orang yang diberikan kelapangan (rezekinya) memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari apa (harta) yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah kelak akan menganugerahkan kelapangan setelah kesempitan.


Kewajiban Suami Berupa Non-Materi


Pertama, tidak menyusahkan istri. Seorang suami harus memuliakan istrinya, begitu pun sebaliknya. Suami juga dianjurkan untuk menyenangkan hati istrinya, berperilaku, dan melakukan pergaulan yang baik.


Ia juga perlu sabar dalam menghadapi permasalahan yang bisa saja timbul di antara keduanya. Dalam Surah An-Nisa ayat 19, Allah SWT berfirman:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَاۤءَ كَرْهًا ۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا.


Arab Latin: Yā ayyuhallażīna āmanụ lā yaḥillu lakum an tariṡun-nisā`a kar-hā, wa lā ta'ḍulụhunna litaż-habụ biba'ḍi mā ātaitumụhunna illā ay ya`tīna bifāḥisyatim mubayyinah, wa 'āsyirụhunna bil-ma'rụf, fa ing karihtumụhunna fa 'asā an takrahụ syai`aw wa yaj'alallāhu fīhi khairang kaṡīra.


Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa.Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.


Kedua, menjaga kehormatan istri. Suami diwajibkan untuk menjaga kehormatan istrinya dari perbuatan yang dapat mencemarkan nama baik, serta yang dapat menimbulkan fitnah.


Ketiga, mengatur hubungan bersanggama di antara keduanya. Untuk menyalurkan nafsu seksual, pernikahan merupakan jalur yang tepat. Sehingga pasangan suami-istri memiliki hak dan kewajiban satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan tersebut.


Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah menyebutkan bahwa hubungan seksual yang dilakukan suami-istri dapat memperoleh pahala. Diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah bersabda:


'... pada setiap amal baik, betapapun kecilnya, disediakan pahala bagimu. Bahkan dalam hubungan seksualmu dengan istrimu, ada pula pahalanya,..'. Para sahabat bertanya, 'Ya Rasulullah, apakah seseorang dari kami melampiaskan syahwatnya lalu memperoleh pahala karenanya?', Maka Beliau menjawab, 'Tidakkah kalian perhatikan, sekiranya dia menyalurkan syahwatnya itu dengan cara yang haram, bukankah dia berdosa karenanya? Begitu pula sebaliknya, ketika dia menyalurkannya dengan cara halal, dia akan memperoleh pahala karenanya'. (HR Muslim)



Simak Video "Nekat Cetak Uang Palsu, Suami-Istri di Boyolali Ditangkap!"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)