Peran Wanita dalam Islam, Dahulu Dihina Kini Mulia

Peran Wanita dalam Islam, Dahulu Dihina Kini Mulia

Devi Setya - detikHikmah
Selasa, 26 Jul 2022 19:36 WIB
Young beautiful Muslim Woman Praying In Mosque.
Ilustrasi wanita muslim sedang membaca Al-Quran Foto: iStock
Jakarta -

Wanita memiliki kedudukan terhormat dan mulia dalam pandangan Islam. Jauh sebelum Islam masuk, para wanita sama sekali tidak memiliki hak untuk merdeka. Parahnya lagi, wanita justru dianggap sebagai makhluk rendahan.

Namun Islam mengubah segalanya, para wanita muslim memiliki hak yang sama dengan pria. Bahkan para wanita bisa merasakan kesetaraan dan keadilan.

Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan kemuliaan. Ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad ini menjadi agama yang mampu mengubah suatu keadaan hina menjadi mulia, keadaan yang buruk menjadi sempurna. Di antara bukti dari semua itu adalah penghormatan agama Islam pada wanita.


Sejarah kelam keadaan para wanita sebelum datangnya ajaran Islam tercatat dalam beberapa zaman. Dalam kitab Fiqhu al-Mar'ah oleh Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya'rawi menjelaskan keadaan dan peran wanita sebelum datangnya Islam. Menurutnya, keadaan wanita sebelum datangnya Islam sangat menyedihkan.

Sebelum menikah, hak kekuasaannya dimiliki oleh ayah dan saudaranya yang laki-laki. Setelah menikah, ia dimiliki suaminya. Dengan kata lain, wanita tidak memiliki peran sama sekali dalam hidupnya sendiri bahkan tidak mendapat kemerdekaan bagi dirinya.

Terlebih, pada masa itu kerajaan dan bangsa besar juga memperlakukan wanita dengan sangat tidak layak.

Kedudukan Wanita Sebelum Datangnya Islam

1. Bangsa Arab Jahiliyah

Di bumi Arab, para wanita dibenci kelahiran dan kehadirannya di dunia. Sehingga kelahiran bagi mereka merupakan awal dari kematiannya. Padahal wanita merupakan perantara untuk meneruskan keturunan melalui kodratnya yakni melahirkan.

Dahulu, para bayi wanita yang dilahirkan di masa itu segera di kubur hidup-hidup di bawah tanah. Kalaupun para wanita dibiarkan untuk terus hidup, mereka akan hidup dalam kehinaan dan tanpa kemuliaan.

Dalam surat At-Takwir ayat 8-9, Allah SWT berfirman:


وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ


Artinya, "Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, 'Karena dosa apa dia dibunuh?'" (QS. At-Takwir [81]: 8-9)

Para wanita hanya dijadikan sebagai alat pemuas nafsu para lelaki belaka. Di masa itu pula, para lelaki berhak menikahi banyak wanita tanpa batas, tidak mempedulikan akan keadilan dalam pernikahan.

2. Bangsa Yunani

Bangsa Yunani dikenal sebagai bangsa yang hebat karena memiliki peradaban dan kebudayaan yang sangat maju. Namun sayangnya, peran wanita pada bangsa Yunani tidak lebih baik dibandingkan masa sebelumnya.

Kaum laki-laki saat itu mempercayai bahwa wanita merupakan sumber penyakit dan bencana. Sehingga mereka memposisikan perempuan sebagai makhluk yang rendah dan sangat hina. Ini bisa dilihat ketika seorang lelaki menerima tamu, para perempuan saat itu hanya dijadikan pelayan dan budak semata.

3. Bangsa Romawi

Bangsa Romawi dikenal memiliki sistem militer yang sangat kuat. Lagi-lagi, para wanita masih belum mendapatkan kemerdekaan di masa Bangsa Romawi. Dalam catatan sejarah, kaum lelaki pada masa itu, memiliki hak mutlak terhadap keluarganya. Ia bebas melakukan apa saja terhadap wanita.

Wanita diperlukan layaknya budak. Mirisnya, wanita bisa dijual beli seperti barang. Bahkan, diperbolehkan bagi laki-laki membunuh istri dalam keadaan tertentu.

Kebebasan wanita pada zaman ini hanya sebatas diperbolehkan memilih menikah dengan lelaki mana saja. Pada masa itu, angka perceraian menunjukkan angka yang sangat tinggi.

4. Peradaban Persia

Membahas tentang peradaban yang maju, maka Persia juga tidak kalah maju dengan bangsa lainnya. Bahkan, Persia merupakan koloni yang menetapkan hukum dan sistem sosial bagi wilayah jajahannya. Hanya saja, hukum yang mereka terapkan tak memberikan keadilan bagi perempuan.

Bila ada perempuan yang melakukan kesalahan, sekalipun kecil, akan dihukum dengan berat. Bahkan bila ia mengulangi kesalahannya, tak segan hukuman mati akan dijatuhkan.

Seorang perempuan dilarang menikah dengan lelaki yang bukan penganut ajaran Zoroaster (agama kuno di Persia) sedangkan lelaki bebas bertindak sesuai dengan kehendaknya. Bila dalam keadaan haid, mereka akan diisolasi ke tempat yang jauh di luar kota dan tak satu pun yang boleh bergaul dengannya, selain pelayan yang meletakkan makanan atau minuman untuknya.

Bagaimana kedudukan wanita setelah Islam datang? Klik halaman selanjutnya