Peristiwa Perang Tabuk: Terjadi di Bulan Rajab dan Perang Terakhir Rasulullah SAW

Peristiwa Perang Tabuk: Terjadi di Bulan Rajab dan Perang Terakhir Rasulullah SAW

Devi Setya - detikHikmah
Selasa, 24 Jan 2023 05:02 WIB
Maroko memang sudah terkenal akan keindahan dan keeksotisannya. Mulai dari luasnya padang pasir yang sepi hingga keramaian kota budaya Marrakech yang memukau.
Ilustrasi Peristiwa Perang Tabuk di Bulan Rajab Foto: dok. Boredpanda/Aurel Paduraru
Jakarta - Perang Tabuk menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Rajab. Perang Tabuk juga menjadi peperangan terakhir yang diikuti Rasulullah SAW.

Tabuk adalah sebutan untuk suatu tempat yang terletak antara Wadil Qura dan Syam. Perang ini disebut pula Ghazwah Al-Usrah yang artinya Perang Kesulitan.

Dikutip dari buku Perang Hunain dan Perang Tabuk yang diterjemahkan oleh Muhammad Ridha dan H. Anshori Umar Sitanggal Abu Farhan, dijelaskan bahwa Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab tahun ke-9 H. Dalam kalender Masehi diperkirakan terjadi antara bulan September-Oktober 630 M.

Perang Melawan Kaum Romawi

Perang Tabuk adalah perang terakhir yang langsung dikuti Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah hendak berangkat ke medan perang, cuaca terasa amat panas dan musim itu musim paceklik.

Oleh karenanya, Rasulullah SAW tidak menggunakan metode tauriyah (sindiran) lagi mengenai tujuan keberangkatan, seperti yang biasa beliau lakukan pada peperangan-peperangan lain sebelumnya. Pada perang kali ini beliau jelaskan kepada para sahabatnya bahwa beliau hendak menghadapi balatentara Romawi.

Begitu panasnya udara saat peristiwa Perang Tabuk, orang-orang menyembelih unta, lalu meminum air dalam kantong di perut kecilnya. Itulah sebabnya perang ini disebut juga Ghazwah Al-Usrah, yakni perang yang dilakukan dalam masa kesulitan dan kesempitan.

Kisah perang Tabuk tercatat dalam Al-Qur'an surat At-Taubah Ayat 117

لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِىِّ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِى سَاعَةِ ٱلْعُسْرَةِ مِنۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُۥ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Arab-Latin: Laqat tāballāhu 'alan-nabiyyi wal-muhājirīna wal-anṣārillażīnattaba'ụhu fī sā'atil-'usrati mim ba'di mā kāda yazīgu qulụbu farīqim min-hum ṡumma tāba 'alaihim, innahụ bihim ra`ụfur raḥīm

Artinya: Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.

Penyebab Perang Tabuk

Melansir dari laman NU, Senin (23/1/2024) Perang Tabuk terjadi karena disebabkan penaklukan kota Makkah (fatḫu makkah) yang merupakan puncak kemenangan bagi umat Islam. Makkah sudah berada dalam kekuasaan Muslim dan orang-orang musyrik berbondong-bondong memeluk Islam.

Namun masih ada kekuatan besar imperium Romawi yang menjadi ancaman. Konflik antara Muslim dan Romawi sendiri sudah dimulai sejak terbunuhnya sahabat Rasulullah bernama Al-Harits bin Umair di tangan Syurahbil bin Amr al-Ghassani. Setelah terbunuhnya Al-Harits, Rasulullah mengirim pasukan di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah untuk menyerang pasukan Romawi di Mu'tah. Setelah peperangan itu, ternyata sejumlah kabilah Arab mulai melepaskan diri dari Qaishar Romawi dan bergabung dengan umat Islam.

Romawi kemudian menghimpun balatentara yang banyak sekali di Syam. Imperium Romawi pun mulai menyiapkan kekuatan besar untuk menghancurkan pasukan Muslim.

Ternyata kabar rencana penyerangan itu terdengar ke telinga umat Muslim kendati masih samar-samar. Sadar bahwa Romawi merupakan imperium raksasa paling ditakuti pada masanya, membuat masyarakat Muslim di Madinah gelisah. Khawatir jika tiba-tiba Romawi datang menggempur mereka dan meluluhlantakkan Madinah.

Rombongan orang dari Syam ke Madinah sambil membawa minyak, menginfokan bahwa Heraklius, sang raja Romawi, sudah menyiapkan pasukan besar dengan kakuatan 40.000 prajurit. Kabilah-kabilah Arab Nasrani seperti Lakhm, Judzam, dan lainnya juga turut bergabung.

Para Sahabat Rasulullah SAW Bersedekah untuk Perang Tabuk

Rasulullah SAW menyeru para sahabatnya untuk berangkat dan memberi tahu tempat yang hendak mereka tuju saat Perang Tabuk. Beliau juga mengirim delegasinya ke Makkah dan kabilah-kabilah Arab lainnya untuk menyeru berangkat ikut Perang Tabuk.

Kepada mereka semua Rasulullah SAW menyuruh bersedekah dan menganjurkan mereka berinfak dan memberi bekal kepada yang tidak punya bekal saat keberangkatan.

Para sahabat Rasulullah SAW pun berdatangan dengan membawa sedekah yang banyak.

Abu Bakar Ash-Shiddiq, menyerahkan seluruh hartanya senilai 40.000 dirham, maka Rasulullah bertanya kepadanya: "Apa yang kamu sisakan untuk keluagamu?"

Abu Bakar menjawab: "Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya."

Selanjutnya, datanglah Umar membawa separuh hartanya. Rasulullah bertanya kepadanya: ""Adakah sesuatu yang kamu sisakan untuk keluargamu?"

"Ya, separuh hartaku," jawab "Umar.

Abdurahman bin 'Auf membawa 200 uqiyah. Kemudian ada Ashim bin Adi bershadagah satu wasaq kurma dan juga Utsman membekali sepertiga dari seluruh balatentara.

Setelah persiapan matang, pasukan Muslim pun bergerak ke arah utara menuju Tabuk dengan membawa 30.000 prajurit, 10.000 lebih sedikit dibanding jumlah perajurit Romawi. Sekalipun begitu banyak sumbangan yang berhasil terkumpul, ternyata belum mencukupi untuk pasukan sebanyak itu.

Meskipun telah mendatangi kawasan Tabuk, pihak musuh kemudian mengajak berdamai dengan membayar upeti. Dengan ini, kemenangan berada di pihak kaum Muslim, kendati tidak sampai terjadi pertempuran.

Sejak saat itu, pasukan Muslim semakin digdaya karena berhasil mengalahkan imperium raksasa Romawi. Kabilah-kabilah Arab yang sebelumnya mendukung Romawi pun kini bergabung bersama pasukan Muslim.

Demikian kisah singkat peristiwa Perang Tabuk yang terjadi di bulan Rajab.

Simak Video "89 Tentara Rusia Tewas Dirudal Ukraina Gegara Ponsel Ilegal"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/erd)