Kisah Seorang Mujahid yang Korupsi dan Bertaubat Atas Perbuatannya

Kisah Seorang Mujahid yang Korupsi dan Bertaubat Atas Perbuatannya

Cicin Yulianti - detikHikmah
Jumat, 13 Jan 2023 05:00 WIB
Arab man praying on mat in desert. Male is in traditional wear. He is kneeling on sand.
Ilustrasi. Ini kisah mujahid yang taubat dari korupsi. (Foto: Getty Images/xavierarnau)
Jakarta - Sering mendengar kata mujahid? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mujahid adalah orang yang berjuang demi membela agama Islam.

Mengutip buku 7 Motivation of Islamic Business oleh Abdul Rachman Husein, definisi mujahid pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda, "Mujahid adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya di jalan Allah." (HR At Tirmidzi)

Berbeda dengan hari ini, di mana makna mujahid adalah memerangi hawa nafsu diri, pada masa Rasulullah SAW, mujahid adalah orang-orang yang berperang melawan kaum kafir yang menentang Islam.

Balasan Allah kepada para mujahid adalah mereka akan diberikan kebaikan dunia dan akhirat, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَآ إِلَّآ إِحْدَى ٱلْحُسْنَيَيْنِ ۖ وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمْ أَن يُصِيبَكُمُ ٱللَّهُ بِعَذَابٍ مِّنْ عِندِهِۦٓ أَوْ بِأَيْدِينَا ۖ فَتَرَبَّصُوٓا۟ إِنَّا مَعَكُم مُّتَرَبِّصُونَ

Arab latin: Qul hal tarabbaṣụna binā illā iḥdal-ḥusnayaīn, wa naḥnu natarabbaṣu bikum ay yuṣībakumullāhu bi'ażābim min 'indihī au bi`aidīnā fa tarabbaṣū innā ma'akum mutarabbiṣụn

Artinya: Katakanlah: "Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu". (QS At Taubah : 52)

Kisah Mujahid yang Korupsi dan Menyesali Perbuatannya

Mengutip buku Fiqih ASN & Karyawan oleh Ammi Nur Baits, pada zaman Muawiyah ra, beliau pernah mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Abdurrahman Khalid bin Walid. Setelah perang berhasil dimenangkan, ada satu orang yang mencuri 100 dinar dari ghanimah atau harta musuh yang berhasil dirampas saat perang.

Di tengah perjalanan, mujahid yang mencuri tersebut merasa menyesal atas perbuatan mencurinya. Lalu ia mendatangi Abdurrahman bin Khalid dan mengakui perbuatan kotornya serta mengembalikan uang hasil curiannya.

Abdurrahman Khalid bin Walid pun tidak menerima barang tersebut seraya berkata:

"Aku tidak bisa menerima darimu. Pasukan sudah bubar, mereka sudah pulang. Kau akan memikulnya menghadap Allah di hari kiamat."

Kemudian, mujahid tersebut menanyakan kepada beberapa sahabat dan mendapatkan jawaban yang sama dengan apa yang disampaikan Abdurrahman Khalid bin Walid.

Merasa masih penasaran dan menyesal atas kekhilafannya, mujahid tersebut pergi ke Damaskus untuk bertemu Muawiyah ra kemudian mengembalikan uang 100 dinar tersebut. Namun, jawaban dari Muawiyah ra sama saja dan menolaknya.

Mujahid tersebut keluar dari tempat Muawiyah ra dengan kondisi menangis. Ia teramat sedih hingga mengucapkan innaa lillaahi wa innaa ilahi rojiun.

Lalu seorang ulama tiba-tiba datang menghampirinya. Ulama tersebut adalah Abdullah as Saksaki. Kepada mujahid tersebut, sang ulama mengatakan:

"Silahkan kembali ke Muawiyah, sampaikan kepadanya agar beliau menerima ⅕ dari 100 dinar, sehingga serahkan 20 dinar kepadanya. Lalu, sedekahkan yang 80 dinar sisanya atas nama seluruh pasukan. Sesungguhnya Allah menerima taubat dari hamba-Nya dan Dia paling tahu siapa saja mereka, dan di mana tempat tinggalnya."

Sang mujahid berterima kasih atas saran tersebut kemudian mengatakan, "Andai aku memberikan fatwa itu, lebih aku sukai dibandingkan semua harta yang aku miliki." (Tafsir Ibnu Katsir 4/208)

Simak Video "Resepsi Puncak 1 Abad Nahdlatul Ulama Resmi Dibuka Jokowi"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/lus)