Kisah Ahli Ibadah yang Terhalang Masuk Surga karena Hal Sepele

Kisah Ahli Ibadah yang Terhalang Masuk Surga karena Hal Sepele

Kristina - detikHikmah
Kamis, 12 Jan 2023 05:00 WIB
Ilustrasi muslim menangis
Ilustrasi kisah ahli ibadah yang terhalang masuk surga karena hal sepele. Foto: Getty Images/iStockphoto/FOTOKITA
Jakarta -

Ada seorang pemuda yang bertobat dan menjadi ahli ibadah selama puluhan tahun. Namun, ia terhalang masuk surga karena hal yang terlihat sepele di mata manusia.

Kisah ini diceritakan oleh salah seorang tabi'in bernama Wahab bin Munabbih dan dinukil oleh Ahmad Izzan dalam bukunya yang berjudul Laa Taghtarr Jangan Terbuai.

Diceritakan, ada seorang pemuda yang bertobat dari semua maksiat. Lalu, ia menjadi ahli ibadah dan menyembah Allah SWT selama 70 tahun. Selama waktu tersebut, ia tidak meninggalkan puasa, tidak tidur, tidak berteduh dengan keteduhan apa pun, dan tidak makan lemak.

Ketika ia meninggal dunia, beberapa saudaranya bermimpi tentangnya. Dalam mimpinya itu mereka bertanya tentang apa yang dilakukan oleh Tuhan terhadap dirinya.

Lelaki ahli ibadah tersebut menjawab, "Hisablah hamba! Kemudian Allah mengampuni semua dosaku, kecuali satu dosa, yaitu aku telah mengambil lidi yang kugunakan untuk menusuk gigiku tanpa seizin pemiliknya. Karena itu, di sini aku tertahan dari surga karenanya, hingga sekarang ini."

Kisah serupa juga dialami oleh seorang juru timbang. Al-Harits al-Muhasibi, tokoh sufi yang hidup sezaman dengan Imam Ahmad, menceritakan, ada seorang juru timbang yang bertobat dari kecurangannya dalam menimbang. Kemudian, ia berbalik menjadi seorang ahli ibadah kepada Allah SWT.

Ketika ia meninggal dunia, beberapa sahabatnya bertemu dengannya dalam mimpi. Mereka bertanya kepadanya, "Apa yang diperbuat oleh Tuhanmu, hai Fulan?"

Ia menjawab, "Aku menghitung lima belas qafis (sejenis takaran) dari bermacam-macam biji-bijian."

Para sahabatnya bertanya, "Mengapa demikian?"

Ia menjawab, "Aku tidak memedulikan takaran yang kurang karena bercampur debu. Tanah yang menggumpal di dasar takaran itu mengurangi setiap takaran sebanyak tanah yang menempel itu. Itu membuatku disiksa di kubur hingga suaraku terdengar oleh orang lain. Lalu aku ditolong oleh sebagian yang saleh."

Ulama hadits yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah, Sufyan ats-Tsauri pernah berkata, "Menemui Allah dengan tujuh puluh dosa antara kamu dan Dia lebih ringan bagi kamu daripada menemui Dia dengan satu dosa antara kamu dan manusia."



Simak Video "50 Cabai Rawit untuk Melengkapi Mi Neraka Level 10, Surabaya"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/lus)