Kisah Al-Qamah, Anak Durhaka yang Sulit Ucapkan Syahadat saat Sakaratul Maut

Kisah Al-Qamah, Anak Durhaka yang Sulit Ucapkan Syahadat saat Sakaratul Maut

Devi Setya - detikHikmah
Jumat, 09 Des 2022 05:00 WIB
Candle burning with nice yellow colour with leaves all around.
Ilustrasi anak durhaka yang sakaratul maut Foto: Getty Images/iStockphoto/StockWithMe
Jakarta - Bagi seorang muslim yang beriman tentu akan dimudahkan Allah SWT menyebut kalimat syahadat jelang ajal menjemput. Namun tidak bagi Al-Qamah. Ia justru merasa kesulitan mengucapkan syahadat saat sakaratul maut.

Kisah Al-Qamah yang sulit mengucapkan syahadat saat akhir hayatnya dibagikan dalam kitab al-Kabair karya Syamsuddin Abu 'Abdillah Adz-Dzahabi. Al-Qamah digambarkan sebagai sosok pemuda yang soleh, taat kepada perintah Allah SWT dan juga berakhlak mulia.

Al-Qamah juga merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang selalu menempati shaf terdepan setiap sholat berjamaah. Banyak orang memuji sifat soleh Al-Qamah.

Tak hanya soal ibadah, Al-Qamah juga dikenal sebagai sosok yang sangat santun terhadap ibundanya. Sejak sang ayah meninggal dunia, Al-Qamah selalu memastikan seluruh kebutuhan ibunya dapat terpenuhi. Ia sangat menyayangi ibunya.

Sikap Al-Qamah Berubah Setelah Menikah

Suatu hari, Al-Qamah memutuskan untuk menikah dengan perempuan pujaan hatinya. Setelah menikah ini, perhatian Al-Qamah kepada sang ibunda jauh berkurang. Ia disibukkan dengan urusan rumah tangganya sendiri.

Sang ibu lantas merasa kecewa pada putranya namun ia memilih untuk diam. Siapapun tak tahu tentang perasaan kecewa yang dipendam ibu Al-Qamah, kecuali Allah SWT yang Maha Mengetahui.

Kemudian datang kabar bahwa Al-Qamah tengah sakit. Setiap hari kondisinya semakin parah. Para sahabat berjaga-jaga ketika tampak Al-Qamah seperti mau meninggal.

Mereka silih berganti untuk menalqinkan kalimat syahadat, "Laa ilaaha illallaah ..." saat melihat Al-Qamah sakaratul maut.

Beberapa kali mereka coba mengulang, namun lidah Al-Qamah tidak bergetar, tidak dapat mengikuti kalimat yang dipandu para sahabatnya, lidahnya kelu dan kaku. Padahal sebagai seorang muslim yang taat, seharusnya tidak sulit bagi Al-Qamah mengucapkannya.

Melihat kejadian ini, salah seorang sahabat melapor kepada Rasulullah SAW. Segera Rasulullah datang dan kemudian menyuruh seorang sahabat menjemput ibu Al-Qamah.

Kepada ibunya, Rasulullah SAW bertanya, "apa tingkah Al-Qamah yang memberatkan dirinya ini?"

Jika ada dosa terhadap ibu sendiri, kata Rasulullah, maka perlu segera dimaafkan. Ibunya menyebutkan, bahwa anaknya orang baik dan taat pada Allah SWT.

"Saya ini sedih ya Rasul, sesudah ia berumahtangga sangat kurang perhatiannya kepada saya, sebab itu saya tidak memaafkannya," ujar ibu Al-Qamah.

Berarti, murka sang ibunda yang membuat Al-Qamah terhalang mengucap syahadat.

Kemudian Rasulullah SAW berseru, "Kalau begitu, ayo para sahabat kumpulkan kayu bakar yang banyak, supaya Al-Qamah dibakar saja."

Mendengar perkataan Rasulullah SAW ini, ibu Al-Qamah tidak tega melihat anaknya akan dibakar.

"Wahai Rasul, dia itu anakku. Hatiku tetap tak tega melihatmu membakar tubuhnya. Apalagi dilakukan di depan mataku sendiri," pinta ibunda Al-Qamah

"Wahai ibunda Al-Qamah, azab Allah itu lebih berat dan lebih kekal. Jika kau ingin Allah mengampuninya, maka ridhoi dia. Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, shalat, puasa, dan sedekah Al-Qamah tidak ada manfaatnya selama engkau masih murka kepadanya," kata Rasulullah SAW.

Kata maaf kemudian terlontar dari lidah ibu Al-Qamah. Saat itu juga lidah Al-Qamah lentur dan dengan mudah mengucapkan kalimat tauhid sebelum ia meninggal dunia.

Kalau saja ibu Al-Qamah tidak memaafkan sang anak, ia hampir saja meninggal dan masuk dalam golongan orang-orang yang merugi.

Sebagaimana hadits Rasulullah SAW:

"Tidak seorang hamba pun yang dianugerahi rezeki oleh Allah kemudian dia tidak menunaikan hak kepada kedua orang tuanya, kecuali Allah menghapuskan amal baiknya dan menyiksanya dengan siksa yang pedih."

Melalui kisah Al-Qamah ini dapat dipetik pelajaran bahwa memenuhi hak orangtua adalah sebuah kewajiban. Ridho Allah tergantung pada ridho orang tua. Selalu sayangi orangtua agar Allah SWT mudahkan jalan di dunia maupun di akhirat.

Simak Video "Anak Durhaka di Jambi Bunuh Ayah-Ibu Karena Dianggap Dajal"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/lus)