Abdul Muthalib, Kakek Rasulullah SAW yang Paling Dituakan Bangsa Quraisy

Abdul Muthalib, Kakek Rasulullah SAW yang Paling Dituakan Bangsa Quraisy

Cicin Yulianti - detikHikmah
Rabu, 30 Nov 2022 07:30 WIB
Umat muslim berziarah di bukit Ar Ruhmah sekitar Jabal Uhud, Madinah, Arab Saudi, Minggu (23/10/2022). Jabal Uhud merupakan saksi bisu perang antara pasukan Islam yang dipimpin oleh Rasululloh SAW melawan kaum kafir Quraisy. Dalam perang tersebut 70 orang sahabat gugur sebagai syuhada termasuk paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muthalib. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.
Ilustrasi kakek Rasulullah saw yang menjadi sosok terpenting dari bangsa quraisy. Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Jakarta -

Kakek Nabi Muhammad SAW adalah Abdul Muthalib yang memiliki pengaruh sangat besar di kalangan bangsa Quraisy. Abdul Muthalib menjadi orang paling tua di bangsa Quraisy dan tempat kembalinya semua urusan yang terjadi di kota Mekah.

Melihat silsilah Rasulullah SAW, Abdul Muthalib adalah ayah dari Abdullah yang merupakan ayah dari Nabi Muhammad SAW. Mengutip Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW yang ditulis oleh K.H Moenawar Chalil (2001) diriwayatkan bahwa semasa hidup, Abdul Muthalib terkenal sebagai sosok yang paling terpandang. Ia memiliki sikap yang sangat bijaksana dan kharismatik.

Riwayat Hidup Abdul Muthalib

Kakek Nabi Muhammad atau Abdul Muthalib ini adalah anak dari Hasyim bin Abdu Manaf. Ia memiliki nama asli Syaibah. Nama Abdul Muthalib baru didapatkan ketika ia memasuki Mekkah dan dibonceng oleh saudaranya yakni Al-Muthalib. Saat itu, warga Arab menyangka bahwa ia merupakan budak dari Al-Muthalib sehingga dijuluki Abdul Muthalib.

Abdul Muthalib dibesarkan di rumah saudaranya tersebut. Ia menetap di Yaman bersama paman dan saudaranya. Hingga ketika pamannya meninggal, ia menggantikan pamannya dan mulai memimpin bangsa Quraisy saat itu.

Mengutip buku Cinta Rasul: Meneladani Rasulullah Melalui Sejarah oleh Sri Januarti Rahayu (2020), disebutkan bahwa Abdul Muthalib merupakan penemu sumur zamzam yang sempat menghilang pada saat itu. Abdul Muthalib sempat bermimpi ditemui sosok yang memerintahkan dirinya untuk menggali sumur tersebut.

Pada masa itu, sumber air merupakan sesuatu yang sangat berharga dibandingkan perhiasan karena kondisi daerahnya yang kering. Oleh karena penemuan kembali sumur zamzam tersebut, Abdul Muthalib semakin menjadi sosok yang dihormati oleh bangsa Quraisy. Ia pun merupakan sosok mengurus air mata suci tersebut.

Rasa Sayang Abdul Muthalib Kepada Cucunya

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW mendatangi Masjidil Haram dan mendekati kakeknya yang tengah duduk di tempat hamparannya. Saat itu, ia dikelilingi oleh anak-anaknya.

Seketika, anak-anak Abdul Muthalib atau paman Rasulullah SAW menahan untuk tidak menginjak hamparan yang sedang diduduki kakeknya tersebut. Akan tetapi Abdul Muthalib sendiri yang mengizinkan cucunya untuk mendekat. Ia berkata, "Biarkanlah dia berjalan mendekat kepadaku."

Hingga seterusnya, setiap Nabi Muhammad SAW datang ke sana, kakeknya membiarkan cucunya tersebut untuk duduk di sisinya. Rasa sayang kakek Nabi Muhammad tersebut membuat dirinya memutuskan untuk merawat cucunya yang sudah yatim piatu tersebut.

Bahkan, pada saat kelahiran Rasulullah SAW, nama Muhammad adalah pemberian dari Abdul Muthalib. Saat itu, nama Muhammad adalah nama yang tidak ada di jazirah Arab dan muka bumi.

Nama Muhammad ia dapatkan ketika pergi ke Syam untuk berdagang. Di sana juga, ia bertemu dengan seorang pendeta dan pendeta tersebut memberitahu bahwa akan lahir seorang nabi terakhir di daerah Abdul Muthalib yang bernama Muhammad.



Simak Video "Jual Parsel Buah-buahan, Pedagang Lumajang Raih Untung 10 Kali Lipat"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)