Kisah Khalifah Umar bin Khattab dan Ibu yang Masak Batu

Kisah Khalifah Umar bin Khattab dan Ibu yang Masak Batu

Devi Setya - detikHikmah
Minggu, 20 Nov 2022 05:30 WIB
Ilustrasi Batu Alam
Ilustrasi batu yang dimasak ibu pada zaman Umar bin Khattab Foto: Shutterstock
Jakarta - Seorang ibu akan berbuat apapun yang terbaik untuk anak-anaknya. Meskipun ia terpaksa berbohong untuk membuat anak-anaknya tenang, seperti kisah ibu yang memasak batu pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab termasuk sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga. Ia dikenal sebagai pemimpin yang adil dan sangat memperhatikan rakyatnya.

Banyak riwayat yang menceritakan kisah Umar bin Khattab selama masih hidup. Salah satunya kisah terkenal saat Umar bertemu seorang ibu yang memasak batu untuk anak-anaknya lantaran tak memiliki makanan apapun.

Kisah Umar dan seorang ibu pemasak batu dituliskan dalam salah satu buku berjudul Kisah dan Hikmah oleh Dhurorudin Mashad. Dikisahkan pada suatu malam, menjelang dini hari, Khalifah Umar melakukan kebiasaan rutinnya, berjalan bersama pengawalnya untuk melihat kondisi rakyatnya.

Sampailah Umar di sebuah dusun kecil terpencil, sayup-sayup telinga Umar menangkap suara tangis anak kecil. Tak lama kemudian, tangisan berhenti, namun sebentar terdengar lagi. Tangis anak kecil ini terdengar memilukan hati.

Umar kemudian mencari sumber suara tangis yang mengarah pada sebuah rumah gubuk sederhana yang terbuat dari kulit kayu. Di dalamnya tampak seorang ibu tengah duduk di depan sebuah tungku seolah sedang memasak.

Ibu yang Memasak Batu

Sesekali ibu ini sibuk mengaduk panci, sesekali pula ia membujuk anaknya untuk tidur.

"Diamlah wahai anakku. Tidurlah kamu sesaat, sambil menunggu bubur segera masak," ujar sang ibu.

Anak ini dapat tidur sesaat mendengar perkataan ibunya, namun tak lama ia terbangun dan kembali menangis. Kejadian ini berulang kali sampai akhirnya membuat Umar penasaran dengan apa yang dikerjakan sang ibu.

Perlahan Umar mendekat, lantas tangannya mengetuk pelan di daun pintu sambil mengucapkan salam. Umar tak ingin identitasnya diketahui, ia bertamu dalam keadaan menyamar.

Umar lantas bersegera melontarkan pertanyaan tentang apa yang sedang dimasak si ibu, dan apa penyebab si putra tak henti-hentinya menangis pula.

Dengan sedih, si ibu menceritakan keadaannya. Ia mengatakan bahwa anaknya menangis karena kelaparan sementara ia tak punya makanan apapun di rumahnya. Ibu ini juga mengatakan bahwa yang sedang dimasak adalah sebongkah batu untuk menghibur sang anak seolah-olah ibunya sedang membuat makanan.

Ibu ini juga sempat mengumpat kekesalannya pada sang pemimpin masa itu. "Celakalah Amirul Mu'minin Umar ibnu Khattab yang membiarkan rakyatnya kelaparan."

Mendengar kekesalan dari ibu ini, Umar lantas pergi dan menangis memohon ampun pada Allah SWT. Ia merasa menjadi pemimpin yang teledor hingga tak tahu ada rakyatnya yang kesusahan.

Umar Membawa Karung Berisi Gandum

Tanpa pikir panjang, Umar segera pulang dan mengambil sekarung gandum. Ia membawa sendiri karung gandum di punggungnya dan menuju ke rumah ibu yang memasak batu.

Pengawal Umar yang melihat pemimpinnya tergopoh-gopoh membawa karung gandum menawarkan diri untuk membantu. Namun Umar menolaknya.

"Wahai Amirul Mu'minin, biar aku sajalah yang mengangkut karung ini," ujar pengawal.

"Apakah kalian mau menggantikanku menerima murka Allah akibat membiarkan rakyatku kelaparan? Biar aku sendiri yang memikulnya, karena ini lebih ringan bagiku dibanding siksaan Allah di akhirat nanti," jawab Umar yang terus membawa karung gandum.

Setelah sampai di rumah ibu ini, Umar langsung memasakkan sebagian gandum ini untuk dijadikan makanan. Setelah matang, ibu dan anak ini dipersilahkan makan sampai kenyang.

Ucapan Terima Kasih dari Ibu Pemasak Batu

Umar lantas pamit setelah ibu dan anak ini makan dengan cukup. Ia kemudian berpesan agar esok harinya anak dan ibu datang ke Baitul Mal menemui Umar untuk mendapatkan jatah makan dari negara.

Ibu ini lantas mengucapkan terima kasih, "Engkau lebih baik dibanding Khalifah Umar," demikian ucapnya.

Perasaan bahagia sekaligus duka menyelimuti dada Umar.

Keesokan harinya, datanglah ibu itu ke Baitul Mal, untuk meminta jatah tunjangan pangan bagi diri dan anaknya. Umar menyambut dengan senyum bahagia. Ketika ibu itu menyadari bahwa orang yang membantunya di malam buta adalah Umar sang Amirul Mu'minin, si ibu langsung kaget.

Umar justru menyambut ibu ini sambil mendekat dan menyampaikan permohonan maaf. Sebagai pemimpin, Umar tidak sungkan meminta maaf pada rakyatnya yang luput dari perhatiannya.

Simak Video "6 Orang Tewas Akibat Ledakan Tambang Batu Bara di Sawahlunto"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/lus)