Orang yang Diwajibkan Melaksanakan Haji, Siapa Saja?

Orang yang Diwajibkan Melaksanakan Haji, Siapa Saja?

Kristina - detikHikmah
Jumat, 20 Jan 2023 13:00 WIB
Kakbah dan ibadah haji
Ilustrasi orang yang wajib melaksanakan ibadah haji. Foto: Getty Images/iStockphoto/prmustafa
Jakarta - Haji adalah rukun Islam yang kelima. Ibadah yang dilakukan di Tanah Suci ini hukumnya wajib bagi orang-orang yang memenuhi syarat.

Perintah menunaikan haji termaktub dalam Al-Qur'an surah Ali 'Imran ayat 97. Allah SWT berfirman,

فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

Artinya: "Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam."

Hal ini juga termuat dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, ia berkata,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم «بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Artinya: "Nabi SAW bersabda: "Islam itu didirikan atas lima perkara. Yaitu, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadan, menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi yang mampu melakukannya." (HR Muttafaq 'alaih)

Disebutkan dalam Kitab Al-Fiqh 'ala al-madzahib al-khamsah karya Muhammad Jawad Mughniyah, orang yang diwajibkan untuk melaksanakan haji adalah orang yang baligh, berakal, dan mampu. Ini merupakan syarat wajib haji sebagaimana disepakati para ulama mazhab.

Dalam hal ini, kata Muhammad Jawad Mughniyah, anak kecil tidak diwajibkan berhaji, baik yang sudah mumayyiz (bisa membedakan) maupun yang belum. Apabila sudah mumayyiz, maka hajinya sah namun pelaksanaan haji pada waktu ini dianggap sunnah dan kewajiban menunaikan hajinya tidak gugur.

Para ulama mazhab sepakat bahwa orang gila tidak memiliki beban syariat, termasuk haji. Apabila orang golongan ini naik haji dan dapat melaksanakan kewajibannya sebagaimana dilaksanakan orang berakal, maka hajinya itu tidak diberi pahala dari kewajiban haji. Namun, jika gilanya adalah musiman dan bisa sembuh sekitar pelaksanaan haji, maka dia wajib menunaikannya.

Sementara itu, mengenai bisa atau mampu dalam syarat haji, ada perbedaan pendapat di antara para ulama mazhab. Imam Syafi'i mengatakan dalam Kitab Al-Umm, dalam pelaksanaan ibadah haji terdapat keharusan adanya bekal berupa harta.

Apabila orang yang bersangkutan memiliki harta yang bisa mengantarkannya berhaji, maka kesanggupan untuk melaksanakan ibadah ini menjadi sempurna dan ia dikenakan kewajiban haji. Imam Syafi'i berpendapat, pada kondisi seperti ini, orang tersebut harus melaksanakan haji sendiri dan tidak sah apabila diwakilkan.

Kemudian, Imam Syafi'i juga menegaskan, mampu dalam haji juga berlaku bagi orang yang memiliki kelemahan pada badannya dan dia tidak dapat berkendara, sehingga dia tidak dapat berhaji dengan berkendara tetapi memiliki kesanggupan (harta) untuk memerintahkan orang melakukan haji untuknya atau badal haji.

Apabila orang yang wajib haji tidak melaksanakan haji sampai akhirnya dia meninggal dunia atau dia kembali mengalami kondisi tidak sanggup berhaji, maka dia wajib mengirim orang untuk melaksanakan haji atas namanya dalam kondisi tersebut. Demikian menurut penjelasan Imam Syafi'i dalam Kitab Induk Fikih-nya.



Simak Video "Datangi KPK, Menag Yaqut Bahas Biaya Ibadah Haji 2023"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/lus)