Ini Ibadah yang Boleh Digantikan Orang Lain

Ini Ibadah yang Boleh Digantikan Orang Lain

Kristina - detikHikmah
Jumat, 13 Jan 2023 14:30 WIB
Ilustrasi Haji
Ilustrasi ibadah yang boleh digantikan orang lain. Foto: Tim Infografis/detikcom
Jakarta -

Ada beberapa jenis ibadah dalam Islam yang di antaranya boleh digantikan orang lain. Ibadah ini memerlukan harta dalam pelaksanaannya.

Mengutip buku Fikih Ibadah karya, Yulita Futria Ningsih dkk, ibadah adalah ketundukan atau penghambaan diri kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Ibadah mencakup semua perbuatan manusia semasa hidup di dunia yang dilakukan dengan niat mengabdi dan menghamba kepada Allah SWT.

Diterangkan dalam buku Reuni Ahli Surga: Sejumlah Amalan Penting Penghuni Surga Saat di Dunia oleh Ahmad Abi Al-Musabbih, kata 'hamba' dalam konsep Islam bermakna sebagai ketundukan secara total seseorang kepada Allah SWT. Adapun, kata ibadah merupakan penghambaan kepada Allah SWT disertai kepatuhan dan cinta.

Perintah untuk beribadah termaktub dalam Al-Qur'an surah Al Baqarah ayat 21. Allah SWT berfirman,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ٢١

Artinya: "Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Ulama ushul fiqh membagi ibadah ke dalam tiga kategori. Pertama, ibadah mahdhah seperti salat dan puasa, kedua ibadah yang berhubungan dengan harta, seperti membayar zakat, dan terakhir ibadah yang memiliki dua dimensi, yakni dimensi fisik dan harta seperti melaksanakan haji.

Muhammad Jawad Mughniyah dalam Kitab Al-Fiqh 'ala al-madzahib al-khamsah menjelaskan, imam empat mazhab sepakat bahwa ibadah mahdhah seperti salat dan puasa tidak bisa digantikan orang lain bagaimanapun keadaannya, baik bagi orang yang sudah meninggal dunia maupun yang masih hidup.

Adapun, ibadah yang memerlukan harta saja seperti zakat dapat diganti orang lain. Ulama mazhab sepakat, orang yang tidak mempunyai harta boleh mewakilkan kepada seseorang untuk mengeluarkan zakat hartanya dan semua sedekahnya.

Sementara itu, para ulama berbeda pendapat mengenai ibadah yang terdiri dari gabungan antara harta dan badan, seperti haji. Ulama Malikiyah dan Hanafiyah berpendapat ibadah seperti ini tidak sah apabila digantikan oleh orang lain, sedangkan ulama lainnya berpendapat boleh digantikan apabila orang yang bersangkutan berhalangan melaksanakan kewajibannya.

Mengutip buku Ushul Fiqh karya Satria Effendi, pendapat yang memperbolehkan menggantikan ibadah haji ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Ia menceritakan ada seorang wanita Juhainah yang bertanya kepada Rasulullah SAW,

إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً؟ اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالوَفَاءِ

Artinya: "Ibuku telah bernazar untuk haji tetapi ia meninggal dunia sebelum menunaikannya. Apakah aku boleh melakukan atas namanya?" Nabi SAW menjawab, "Boleh, berhajilah menggantikannya. Bagamana pendapatmu jika ibumu memiliki utang, bukankah kamu akan membayarnya? Bayarlah (utang) kepada Allah, karena Dia lebih berhak untuk dilunasi." (HR Bukhari dan an-Nasa'i)

Menggantikan ibadah haji orang lain ini kerap disebut dengan istilah badal haji. Sayyid Sabiq dalam Kitab Fiqhus Sunnah-nya mengatakan, para ulama dari kalangan sahabat dan lainnya menyebut bahwa menunaikan badal haji untuk orang yang sudah meninggal dunia itu diperbolehkan. Hal ini turut dikemukakan ats Tauri, Ibnu Mubarak, Ahmad, Syafi'i, dan Ishak.

Syarat Badal Haji

Kewajiban menggantikan ibadah haji ini dikenakan kepada ahli warisnya. Orang yang menggantikan ini disyaratkan harus baligh, berakal, dan Islam, serta tidak mempunyai kewajiban haji dan dapat dipercaya untuk melaksanakannya.

Mazhab Syafi'i berpendapat, badal haji tidak boleh dilakukan oleh orang yang belum menunaikan haji untuk dirinya sendiri. Apabila ia melakukan haji, maka haji tersebut terhitung untuk dirinya sendiri.

Dalil mengenai hal ini disebutkan dalam Kitab Bulughul Maram yang disusun oleh Ibn Hajar Al-Asqalani.

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ. قَالَ: مَنْ شُبْرُمَةُ؟ قَالَ: أَخٌ أَوْ قَرِيبٌ لِيْ. قَالَ: حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ، ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ. رواه أبو داود والدار قطني والبيهقي وغيرهم باسانيد صحيحة

Artinya: Dituturkan pula darinya Ibnu Abbas RA bahwa Nabi SAW pernah mendengar seseorang berkata, "Laibaika dari Syubrumah." Beliau bertanya, "Siapa Syubrumah?" Ia menjawab, "Saudaraku." Lalu beliau bersabda, "Apakah engkau telah berhaji untuk dirimu sendiri?" Ia menjawab, "Belum." Beliau bersabda, "Berhajilah untuk dirimu sendiri, kemudian berhajilah untuk Syubrumah." (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)



Simak Video "Menag Soal Rencana Perjalanan Haji 2023: Kloter I Tanggal 24 Mei"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/lus)