Mengenal Miqat dalam Ibadah Haji, di Mana Saja Lokasinya?

Mengenal Miqat dalam Ibadah Haji, di Mana Saja Lokasinya?

Cicin Yulianti - detikHikmah
Kamis, 15 Des 2022 10:45 WIB
Suasana Masjid Bir Ali, Tempat Miqat Jamaah Haji Indonesia dari Madinah
Suasana Masjid Bir Ali, Tempat Miqat Jamaah Haji Indonesia dari Madinah (Foto: Kemenag)
Jakarta -

Dalam melaksanakan rangkaian ibadah haji, terdapat batas-batas tertentu dalam melakukan sebuah ritual, misalnya dalam hal pakaian. Batas tempat mengenakan pakaian ihram untuk melaksanakan ibadah haji disebut miqat makani.

Dalam ibadah haji, miqat adalah batas waktu dan tempat yang telah ditetapkan oleh syara' sebagai garis awal sekaligus akhir. Artinya, miqat menjadi batas waktu dan tempat tertentu, di saat seseorang melakukan ritual haji di luar batas tersebut maka ibadahnya dikatakan tidak sah.

Adapun miqat yang terkait dengan batas tempat mengenakan pakaian ihram termasuk miqat yang didasarkan oleh tempat atau miqat makani.

Apa Itu Miqat Makani?

Mengutip buku Miqat di Jeddah Tidak Sah? Karya Luki Nugroho, dijelaskan bahwa miqat makani adalah batas tempat di mana ibadah haji itu mulai wajib dikerjakan. Dari batas tempat inilah jamaah akan memulai ibadah haji mereka.

Dalam miqat makani ini, jamaah haji memulai ibadahnya dengan berihram. Jamaah haji laki-laki harus melepas pakaian mereka dan digantikan oleh dua lembar kain untuk menutup aurat. Sedangkan jamaah haji perempuan tetap memakai busana muslim mereka karena wajib menutupi aurat secara rapat.

Batas dari miqat makani dalam berhaji ini disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam hadits berikut:

"Miqat-miqat tersebut sudah ditentukan bagi penduduk masing-masing kota tersebut dan juga bagi orang lain yang hendak melewati kota-kota tadi padahal dia bukan penduduknya namun ia ingin menunaikan ibadah haji atau umrah. Barangsiapa yang kondisinya dalam daerah miqat tersebut, maka miqatnya dari mana pun dia memulainya. Sehingga penduduk Makkah, miqatnya juga dari Makkah." (HR. Bukhari no. 1524 dan Muslim no. 1181).

Lokasi Miqat Makani

Jamaah haji tentunya tidak hanya dari warga Kota Makkah saja melainkan dari seluruh negara. Oleh karena itu, terdapat miqat makani bagi jamaah yang berasal dari luar batas. Mengutip buku Fikih Pada Madrasah Dalam Pendekatan Teori dan Praktek oleh Nur Rafi'a Hafiza dan Satria Wiguna, terdapat lima lokasi miqat makani yakni:

1. Dzulhulaifah, yang terletak sekitar 600 mil dari kota Madinah.

2. Qarnul Manazil, yang terletak di daerah sill qabir. Miqat ini diperuntukkan bagi jamaah yang datang dari daerah najd misalnya Riyadh. Jarak tempat ini dari Kota Makkah adalah sekitar 70km.

3. Yalamlam atau miqat bagi jamaah yang datang dari arah Yaman.

4. Juhfah atau tempat miqat bagi jamaah yang datang dari arah Syam.

5. Zatul 'irq atau tempat miqat yang diperuntukkan untuk jamaah yang berasal dari arah Iraq.

Adapun lokasi miqat makani bagi jamaah haji yang berasal dari Indonesia sebagaimana disebutkan dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kemenag, antara lain adalah:

1. Jamaah haji yang termasuk ke dalam gelombang 1 biasanya mendarat di Madinah sehingga miqatnya di Bir Ali (Zulhulaifah).

2. Jamaah haji yang termasuk ke dalam gelombang 2 dapat mengambil miqat dengan lokasi di bawah ini:

  • Asrama haji embarkasi di tanah air. Melakukan ihram sebelum miqat masih dianggap sah menurut jumhur ulama . Akan tetapi, bagi jamaah haji yang sudah memulai ihram dari asrama haji embarkasi wajib menjaga diri dari larangan ihram.
  • Dalam pesawat saat pesawat melintas sebelum atau di atas Yalamlam atau Qarnul Manazil.
  • Bandar Udara King Abdul Aziz (KAIA) Jeddah. Lokasi ini telah ditetapkan berdasarkan keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI).


Simak Video "Jokowi: Biaya Haji Masih Kajian, Belum Final Sudah Ramai"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)