Tawaf Wada' Sebagai Tawaf Penutup Ibadah Haji

Tawaf Wada' Sebagai Tawaf Penutup Ibadah Haji

Awalia Ramadhani - detikHikmah
Kamis, 13 Okt 2022 11:22 WIB
Muslim pilgrims line up as they leave after they circle the Kaaba, the cubic building at the Grand Mosque, as they keep social destination to protect themselves against Coronavirus a ahead of the Hajj pilgrimage in the Muslim holy city of Mecca, Saudi Arabia, Wednesday, July 29, 2020. During the first rites of hajj, Muslims circle the Kaaba counter-clockwise seven times while reciting supplications to God, then walk between two hills where Ibrahims wife, Hagar, is believed to have run as she searched for water for her dying son before God brought forth a well that runs to this day. (AP Photo)
Ilustrasi Tawaf Wada (Foto: AP/STR)
Jakarta -

Tawaf Wada' menjadi salah satu hal yang wajib dilaksanakan saat haji. Arti haji sendiri dalam buku Haji dan Umrah karya Quraish Shihab, adalah berkunjung ke suatu tempat tertentu untuk tujuan ibadah.

Ibadah tersebut diharapkan mengantarkan manusia pada pengenalan jati diri dan mensucikan jiwa. Diketahui pula oleh umat muslim bahwa ibadah haji menjadi salah satu kewajiban bagi setiap orang yang mampu.

Salah satu hal yang dilakukan saat beribadah haji adalah tawaf. Dikutip dari Ensiklopedia Haji dan Umroh oleh Ahmad Sarwat Lc., tawaf adalah gerakan yang dilakukan saat ibadah haji dengan cara mengelilingi Ka'bah. Tawaf sendiri dimulai dari Hajar Aswad dan diakhiri dengan Hajar Aswad yang dilakukan dengan tujuh putaran dengan bagian kanan tubuh menghadap ke Ka'bah.

Tawaf terdiri dari banyak jenis, namun yang termasuk dalam rukun ibadah haji hanya tawaf ifadhah. Tawaf lain tetap disunnahkan, bahkan diwajibkan seperti tawaf wada', namun tidak termasuk ke dalam rukun ibadah haji.

Penjelasan Tentang Tawaf Wada'

Tawaf wada' termasuk ke dalam jenis tawaf sunah. Namun, tawaf ini wajib dikerjakan ketika jemaah haji akan segera meninggalkan kota Mekkah. Mengutip buku Ringkasan Fikih Madzhab Syafi'i oleh Dr. Musthafa Dib Al-Bugha, ada pendapat yang kuat mengenai dinyatakannya tawaf wada' sebagai salah satu kewajiban haji. Hal ini dijelaskan berdasarkan hadits:

كان الناس ينصرفون في كل وجه، أحد فقال رسول الله ﷺ حتى يكون آخر عهده بالبيت

Artinya: "Orang-orang bertolak ke semua penjuru (seusai melempar jumrah terakhir). Rasulullah SAW, lalu berkata, 'Janganlah seseorang mengakhiri manasik hajinya hingga ia tawaf (wada') di Baitullah. " (HR. Muslim).

Kewajiban dilaksanakan tawaf wada' akan gugur bagi perempuan yang sedang haid dan nifas, hal ini berdasarkan hadis yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Abbas r.a.:

أمر الناس أن يكون آخر عهدهم البيت ، إلا أنه خفف عن المرأة الحائض

Artinya: "Orang-orang yang berhaji diperintahkan untuk mengakhiri manasik hajinya (dengan tawaf) di Baitullah (Ka'bah). Akan tetapi, tawaf ini diringankan (tidak diwajibkan) bagi perempuan yang sedang haid " ( HR. Al Bukhari)

Dalam buku Fiqih Ibadah karya Dr. H. Ma'sum Anshori, MA, tawaf wada' menjadi salah satu penghormatan terakhir kepada baitullah. Penghormatannya cukup dilakukan dengan berdoa di depan pintu gerbang Masjid Al-Haram. Menurut Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, Imam Ahmad dan kebanyakan ulama lain, karena tawaf ini wajib dikerjakan, maka mereka yang meninggalkan tawaf wada' dikenakan dam (denda) satu ekor kambing. Sedangkan menurut pendapat Imam Malik, Dawud, dan Ibnu Mundzir karena hukum tawaf wada' adalah sunnah, maka mereka yang tidak mengerjakan tidak diharuskan membayar dam.

Hikmah Tawaf Wada'

Dikutip dari Hikmatut Tasyri' karya Syekh Ali Ahmad al-Jurjawi, hikmah tawaf wada' atau perpisahan adalah:

1. Sebagai penghormatan

Tawaf wada' dilakukan seperti hanya seorang tamu yang berpamitan kepada tuan rumah ketika hendak pulang ke asalnya. Oleh sebab itu, Jemaah haji yang akan kembali ke negaranya juga harus berpamitan kepada Baitul Haram. Karena ibadah ini juga merupakan penghormatan dan bentuk cinta seseorang terhadapnya.

2. Sebagai peringatan

Hakikatnya, ibadah tawaf bermakna bahwa berputarnya tubuh dapat menyiratkan tawaf hati. Maka, tawaf wada' bertujuan agar Jemaah haji memiliki ikatan atau rasa bahwa dia sedang berada di hadapan Allah. Baitul Haram juga akan mengingatkan kita pada Allah, Tuhan Semesta Alam.

Dijelaskan juga bahwa tawaf wada' disebut dengan tawaf shadr, karena Jemaah haji mulai berkemas meninggalkan Baitul Haram untuk pulang ke kampungnya, tentu tawaf ini tidak berlaku bagi mereka penduduk asli Mekah, mereka tidak wajib melakukan tawaf wada'. Namun, Abu Yusuf berpendapat bahwa:

"Saya lebih mencintai agar penduduk asli Mekah melakukan tawaf shadr, karena itu berarti ia telah menutup rangkaian aktivitas ibadah haji."

Demikianlah pembahasan mengenai tawaf wada' yang bis kita ketahui.



Simak Video "Jokowi: Biaya Haji Masih Kajian, Belum Final Sudah Ramai"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)
Ibadah Haji

Ibadah Haji

11 konten
Ibadah haji menjadi salah satu kewajiban umat Islam yang harus dilakukan setidaknya sekali seumur hidup untuk mereka yang mampu secara fisik dan finansial.