Mengapa Kenangan Memalukan Bisa Memicu Perasaan Malu Lagi?

Mengapa Kenangan Memalukan Bisa Memicu Perasaan Malu Lagi?

Novia Aisyah - detikEdu
Minggu, 22 Jan 2023 18:00 WIB
Pria muda malu, menutup muka dengan tangannya
Foto: Thinkstock/ Ilustrasi Mengapa Kenangan Memalukan Bisa Memicu Perasaan Malu Lagi?
Jakarta -

Apakah detikers pernah tiba-tiba teringat hal memalukan yang kalian lakukan pada masa lalu? Mengapa ingatan semacam ini dapat secara tiba-tiba muncul?

Selain itu, kenapa kita masih merasakan malu, meski kejadiannya sudah lama berlalu?

Pada dasarnya, ingatan bisa datang dalam dua cara, yaitu disengaja atau tidak disengaja. Ingatan yang disengaja misalnya ketika kita berusaha mengingat apa yang dimakan saat makan siang kemarin. Sebaliknya, ingatan tidak disengaja muncul secara spontan dan sifatnya bisa tidak diinginkan.

Sebagian penyebabnya adalah karena ingatan kita saling terhubung satu sama lain. Menurut dosen dan Psikolog Klinis dari Deakin University, David John Hallford, neuron yang ada dalam otak kita merepresentasikan pemahaman kita saat ini yang berkaitan dengan pengalaman masa lalu.

Neuron-neuron tersebut membuat koneksi fisik satu sama lain melalui https://www.detik.com//edu/detikpedia/d-6526690/mengapa-kenangan-memalukan-bisa-memicu-perasaan-malu-lagi yang tumpang tindih. Suatu memori bisa terpicu oleh stimulasi eksternal seperti pemandangan, suara, rasa, maupun stimulasi internal seperti sensasi fisik, pikiran, dan perasaan.

Saat neuron yang mengandung suatu ingatan diaktifkan, ingatan yang terkait akan berkemungkinan muncul di kesadaran. Meski demikian, sebagaimana dikutip dari Science Alert, hal seperti ini tidak selalu terjadi dan hubungan antaringatan bisa saja tidak terllalu jelas.

Memori Negatif Punya Emosi Lebih Kuat

Saat suatu ingatan muncul di kepala, kita kerap mengalami respons emosional terhadapnya. Faktanya, ingatan yang tidak disengaja cenderung lebih negatif dari yang disengaja. Di samping itu, memori negatif punya emosi yang lebih kuat dari memori positif.

Manusia lebih termotivasi untuk menghindari situasi yang buruk, hasil yang buruk, dan definisi yang buruk mengenai diri sendiri, ketimbang mencari sesuatu yang lebih baik.

Oleh sebab itu, ingatan yang tidak disengaja bisa membuat kita merasa sangat sedih, cemas, bahkan malu kepada diri sendiri. Sebagai contoh, ingatan yang melibatkan rasa malu mungkin menunjukkan kepada kita bahwa kita telah melakukan sesuatu yang dianggap negatif oleh orang lain.

Meski demikian, emosi tersebut tetap penting untuk dirasakan dan diambil pelajaran agar di masa depan dapat merespons situasi dengan cara berbeda.

Ingatan Mudah Beradaptasi

Hallford menyebut, ingatan mudah beradaptasi. Saat seseorang mengingat sesuatu, hal itu bisa diuraikan. Selain itu, pikiran, perasaan, serta penilaian atas masa lalu dapat diubah.

Pada proses yang disebut sebagai rekonsolidasi, ada banyak perubahan yang bisa dilakukan sehingga saat suatu memori muncul kembali, emosi yang dirasakan berubah.

Sebagai contoh, seseorang mungkin merasa sedih dan malu jika ingat wawancara kerjanya tidak berjalan dengan baik. Maka, dia dapat merefleksikan, mengelaborasi, dan membingkai ulang memori dengan cara mengingatkan diri sendiri untuk tidak apa-apa merasa cemas serta kecewa karena tidak membuatnya serta merta gagal.

Melalui penulisan ulang pengalaman dengan cara yang masuk akal dan welas asih seperti itu, kesejahteraan diri justru bisa meningkat.

Meski otak memberi sedikit pengingat mengenai pengalaman, menurut Psikolog Klinis Deakin University tersebut, seseorang tidak harus terjebak di masa lalu.



Simak Video "Momen saat Meteor Terbang Melintasi Langit Alaska"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia