Mengapa Sih Februari Lebih Singkat Dibandingkan Bulan Lain? Ini Faktanya

Mengapa Sih Februari Lebih Singkat Dibandingkan Bulan Lain? Ini Faktanya

Devita Savitri - detikEdu
Rabu, 18 Jan 2023 18:30 WIB
kalender tahun kabisat. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Mengapa bulan Februari lebih singkat dibanding yang lain? Begini sejarahnya Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Bulan Februari hanya terdiri dari 28 hari dan setiap tahun kabisat menjadi 29 hari. Bandingkan dengan bulan-bulan lainnya yang punya 30 atau 31 hari. Nah, tahukah detikers mengapa Februari lebih singkat dibanding bulan lainnya? Ternyata banyak fakta mengejutkan tentang bulan Februari ini.

Meski menduduki posisi sebagai bulan kedua, faktanya Februari adalah bulan terakhir yang diciptakan pada tahun 700-an SM. Penciptaan Februari berhubungan dengan keputusan raja kedua Roma yakni Numa Pompilius.

Pada awalnya, penentuan kalender dilakukan oleh Romulus yang merupakan raja pertama sekaligus pendiri Roma. Kalender tersebut dikenal bernama kalender Romawi.

Namun ketika dihitung melalui revolusi bulan dan revolusi matahari ada sisa jumlah hari yang akhirnya dipertanyakan. Pertanyaan tersebut dijawab oleh Numa Pompilius dengan berbagai perhitunganya. Penasaran? Berikut ini penjelasan selengkapnya.

Sejarah Bulan Februari

Melansir laman Harian Almanac, Februari berasal dari kata Latin "Februa" yang berarti "Membersihkan". Bulan itu dinamai berdasarkan Februalia Romawi yang merupakan festival pemurnian dan penebusan dosa selama sebulan yang berlangsung sepanjang tahun.

Sedangkan dilansir melalui Dictionary.com, sebelum diadopsi dengan nama Latin, Februari menggunakan bahasa Inggris Kuno yang menggambarkan bulan. Nama tersebut adalah Solmonath yang secara harfiah berarti "bulan lumpur".

Pada awalnya Februari memang tak termasuk dalam susunan kalender Romawi yang hanya memiliki 10 bulan. Karena orang Romawi saat itu tak membatasi musim dingin.

Hingga akhirnya pada tahun 700-an SM, raja kedua Roma, Numa Pompilius mengubahnya dengan menambahkan Januari dan Februari ke akhir kalender. Hal tersebut dilakukannya usai menyesuaikan dengan berapa lama waktu yang dibutuhkan Bumi untuk mengelilingi Matahari.

Awalnya memang 1 Maret menjadi Hari Tahun Baru. Usai penghitungan dan keputusan Numa Pompilius, Tahun Baru 153 SM jatuh ke tanggal 1 Januari dan Februari menduduki posisi ke 2 dalam 12 bulan.

Alasan Februari Lebih Singkat Dibandingkan Bulan Lain

Seperti yang disebutkan sebelumnya alasan mengapa Februari lebih singkat dibandingkan bulan lain berhubungan dengan kalender Romawi. Laman The Conversation menjelaskan bila kalender Romawi Kuno pada awalnya hanya memiliki 10 bulan.

Kalender dibentuk berdasarkan waktu pertanian yang dimulai pada musim semi di bulan Maret hingga berakhir 340 hari kemudian di bulan Desember. Karena tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan di ladang selama musim dingin, sisa hari dalam setahun tidak dihitung dalam kalender.

Hingga akhirnya pada tahun 731 SM, Numa Pompilius memutuskan menyejajarkan kalender dengan fase bulan. Ia menemukan ada 12 siklus bulan setiap tahunnya, sehingga kalender dibagi menjadi 12 bulan.

Januari dan Februari ditambahkan dan tahun kalender baru berlangsung selama 355 hari. Satu fakta menarik yang ditemukan adalah orang Romawi percaya bahwa angka genap berarti sial.

Hingga akhirnya ketika menyusun ia mengurangi satu hari dari masing-masing bulan yang terdiri dari 30 hari agar menjadi 29 hari. Karena mengamati bulan, Pompilius menemukan jumlah hari dalam satu tahun berjumlah 355 hari.

Dengan demikian ia memiliki 56 hari tersisa usai mengurangi satu hari setiap bulannya. Pada akhirnya, ia memutuskan setidaknya ada 1 bulan yang memiliki jumlah hari yang genap.

Hingga akhirnya Pompilius memilih Februari, bulan yang akan menjadi tuan rumah ritual Romawi untuk menghormati orang mati, sebagai bulan sial yang terdiri dari 28 hari. Karena itu pada bulan Februari di Roma adanya festival ritual penyucian dosa.

Pada hari itu, kerabat yang masih hidup akan membawa makanan dan hadiah ke kuburan untuk menghormati yang mati. Dengan hal itu mereka berharap agar yang sudah meninggal hidup bahagia sehingga tidak bangkit dan menghantui yang masih hidup.

Alasan Februari Bisa Tanggal 28 ataupun 29

1. Mercedonius

Meski sudah ditetapkan selama 12 bulan ternyata permasalahan lain timbul. Pada masa itu ditemukan bila Bumi membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengelilingi Matahari. Akhirnya tahun demi tahun berlalu dan musim mulai tidak selaras.

Jadi ada satu hari ekstra yang disebut dengan Mercedonius yang ditambahkan ke kalender sebelum awal Maret. Mercedonius tidak terjadi setiap tahun.

Namun ditambahkan kapanpun diperlukan untuk menyelaraskan kembali bulan dan musim. Sehingga terkadang bulan itu memiliki 27 atau 28 hari, sehingga satu tahun berlangsung selama 377-378 hari.

Tetapi sayangnya Mercedonius tak menguntungkan untuk bulan Februari karena biasanya memotong empat hari dari bulan yang sudah pendek. Meskipun begitu, bila dibutuhkan Mercedonius membantu menyelaraskan musim dan penggunaannya tidak dapat diprediksi.

2. Tahun Kabisat

Tahun Kabisat adalah tahun dengan satu hari ekstra yakni 29 Februari yang ditambahkan hampir setiap 4 tahun sekali ke kalender. Hal ini berkaitan dengan ilmu astronomi menurut Harian Almanac.

Dijelaskan bila satu tahun orbit Bumi mengelilingi Matahari ternyata tidak sama persis sepanjang waktu. Tanpa hari ekstra ini, kalender dan musim secara bertahap akan tidak sinkron.

Sebuah tahun yang bisa disebut tahun kabisat bila jumlahnya habis dibagi 4. Namun tahun-tahun yang habis dibagi 100 tidak dapat disebut tahun kabisat kecuali tahun tersebut juga habis dibagi 400.

Tanpa hari kabisat, kalender akan mati setidaknya 5 jam, 48 menit, dan 45 detik lebih setiap tahun. Untuk itu hari kabisat harus terjadi dan akan datang pada tahun 2024.

Nah itulah penjelasan mengapa bulan Februari lebih singkat dibandingkan bulan lain. Jadi makin tahu kan detikers? Semoga bermanfaat!



Simak Video "Penampakan Dampak Dahsyat Gempa Turki Tewaskan Lebih dari 500 Orang"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia