Kupang Bantah Babi Mati Mendadak di Flores Kiriman dari Bali

Kupang Bantah Babi Mati Mendadak di Flores Kiriman dari Bali

Yufen Ernesto - detikBali
Senin, 23 Jan 2023 06:55 WIB
Petugas membongkar paksa kandang babi di kawasan Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (16/2/2021).  Tim gabungan yang terdiri dari Dinas Operasi Lanud Hang Nadim dan Direktorat Pengamanan BP Batam Batam menertibkan belasan peternakan babi ilegal di Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandara Hang Nadim. ANTARAFOTO/Teguh Prihatna/Lmo/rwa.
Balai Karantina Kupang menyanggah babi yang dikirim ke Flores berasal dari Bali, melainkan dari wilayahnya. (ANTARA FOTO/Teguh Prihatna).
Kupang -

Kepala Balai Karantina Pertanian kelas I Kupang, NTT, Yulius Umbu Hunggar menyanggah babi yang dikirim ke Flores berasal dari Bali. Justru, ia menegaskan babi-babi itu merupakan kiriman dari Kupang.

Beberapa waktu belakangan babi-babi bantuan itu mati mendadak. Sekitar 96 ekor mati mendadak di Flores dan disebut hasil tes sampel menunjukkan bahwa babi positif terjangkit demam babi Africa atau African Swine Fever (ASF).

Di Kupang, babi milik warga juga mati mendadak. Jumlahnya mencapai 73 ekor atau bertambah dari sebelumnya hanya 48 ekor pada Rabu (18/1/2023) lalu.


Yulius menyebut pengiriman babi dari Kupang mengalir ke Kabupaten Sikka dan Flores Timur, serta kabupaten lainnya dengan jumlah masing-masing 50 ekor. Adapun, total pengadaan babi mencapai 300 ekor.

Namun, Yulius menegaskan seluruh babi bantuan itu sudah melewati masa karantina selama 14 hari. Sampel darah pun dites di UPTD Veteriner Oespasa.

"Pengadaan babi berasal dari Kabupaten Kupang. Salah satunya dari UPTD Peternakan Tarus, namun semuanya sudah dites. Hasilnya negatif," katanya, dikonfirmasi detikBali, Minggu (22/1/2023).

Ia mengisyaratkan apabila terjadi wabah, hal itu lantaran Kabupaten Sikka dan Flores Timur pernah terserang ASF pada 2020-2022 lalu. Wabah sempat mereda, namun belum berarti wilayah tersebut bebas ASF.

Pun demikian, Yulius mengungkapkan statusnya saat ini jadi endemi. Kalau pun terjadi kasus, sifatnya sporadis di wilayah tertentu, seperti kecamatan, desa, atau kandang tertentu.

"Bisa dilihat dari jumlah babi yang mati baru puluhan ekor. Bisa bertambah apabila lalu lintas babi dan produknya tidak terjaga baik," terang dia.

"Karena itu, Balai Karantina mengambil tindakan memperketat pengawasan di pintu masuk dan keluar, seperti pelabuhan, bandara, PLBN (pos lintas batas negara), terhadap babi dan produknya," pungkasnya.

Sebelumnya disebutkan babi mati mendadak di Flores Timur, Sikka, dan Ende, berasal dari bantuan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan lewat Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Denpasar.

Walhasil, sejumlah pemerintah kabupaten menolak bantuan kiriman babi dari Bali. Yakni Pemerintah Kabupaten Nagekeo dan Ngada.

"Kami tidak terima bantuan karena kondisi yang dihadapi saat ini (babi terjangkit ASF," tutur Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nagekeo Clementina Dawo.



Simak Video "Berkeliling ke Pasar Babi yang Populer di Singkawang"
[Gambas:Video 20detik]
(BIR/gsp)