Nono, Bocah SD Juara Matematika Dunia: Saya Mengidolakan Elon Musk

Kupang

Nono, Bocah SD Juara Matematika Dunia: Saya Mengidolakan Elon Musk

Yufen Ernesto - detikBali
Jumat, 20 Jan 2023 11:38 WIB
Caesar Archangels Hendrik Meo Tnunay akrab disapa Nono saat berada di kelasnya, SDI Buraen 2, Amarasi Selatan, Kupang, NTT, Kamis (19/1/2023).
Caesar Archangels Hendrik Meo Tnunay akrab disapa Nono saat berada di kelasnya, SDI Buraen 2, Amarasi Selatan, Kupang, NTT, Kamis (19/1/2023). (Foto: Yufen Ernesto/detikBali)
Kupang -

Caesar Hendrik Meo Tnunay atau Nono baru saja menyabet juara pertama kompetisi matematika tingkat internasional yang diselenggarakan oleh International Abacus World Competition. Pada kompetisi yang digelar secara online itu, Nono berhasil menyingkirkan ribuan peserta.

Siswa kelas 2 SD Inpres Buraen II Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu mengaku mengidolakan Elon Musk.

"Saya ingin seperti Elon Musk. Dia sangat luar biasa," tutur Nono didampingi teman-temannya kepada detikBali, Kamis (19/1/2023).


Nono mengidolakan Elon Musk karena terkesan dengan berbagai teknologi yang dikembangkannya. Nono pun ingin suatu hari bisa menciptakan teknologi baru untuk membantu masyarakat kecil di lingkungannya.

"Dia sangat luar biasa bisa ciptakan alat transportasi tercepat. Kalau saya yang bisa seperti itu, masyarakat di sekitar sini saya bisa bantu, termasuk saya punya teman-teman sekolah," kata Nono disambut tepuk tangan dari teman sekelasnya.

Selain mengidolakan Elon Musk, Nono juga terinspirasi fisikawan Yohanes Surya. Bahkan, ia sudah membaca buku-buku karya Yohanes Surya sejak usia lima tahun. Sejak saat itu pula, Nono tertarik dan giat mempelajari matematika.

Selain gemar belajar matematika, Nono kerap mengisi waktu luangnya untuk menonton film. "Kalau saya selesai belajar pasti nonton film, tapi saya izin di bapak dulu soalnya bapak terlalu tertib dan disiplin," imbuhnya.

Nono lahir di Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, NTT, pada 2 April 2015. Ia lahir dari pasangan Raflim Meo Tnunai dan Nuryati Seran. Sang ayah bekerja serabutan, dulunya kuli atau tukang bangunan. Sedangkan sang ibu merupakan guru dengan status kontrak.

Sang ibu, Nuryati, menyebut kondisi ekonominya pas-pasan. Ia bahkan kesulitan untuk memberi pendidikan lebih kepada Nono. Tetapi, kemauan Nono keras.

"Rasa ingin tahu Nono sangat tinggi. Jadi, dia paksa kami harus ikut kursus. Beli buku bacaan. Terpaksa kami turuti saja kemauannya biar semangat belajar tidak redup," pungkas Nuryati.



Simak Video "Elon Musk Kunci Akun Twitter Miliknya, Kenapa?"
[Gambas:Video 20detik]
(iws/gsp)